Emiten Tambang di Bawah MIND ID Tetap Tangguh pada 2025, DPR Apresiasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pimpinan Komisi VI DPR Nurdin Halid mengapresiasi kinerja korporasi sejumlah perusahaan tambang dalam holding industri pertambangan MIND ID sepanjang 2025 yang tetap mencatatkan hasil positif di tengah tekanan harga komoditas global, sehingga dinilai penting dalam menjaga kontribusi sektor tambang terhadap perekonomian nasional.
Apresiasi tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR yang membahas evaluasi kinerja PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk. Holding MIND ID merupakan Badan Usaha Milik Negara yang mengelola perusahaan tambang strategis Indonesia.
“Kami memberikan apresiasi atas capaian kinerja korporasi 2025 dari keempat entitas tersebut yang tetap mampu menjaga kinerja positif meskipun menghadapi tekanan harga komoditas global,” ujar Nurdin Halid dikutip Selasa (7/4/2026).
Ia menegaskan sektor pertambangan memiliki peran strategis dalam mendorong hilirisasi mineral, yaitu proses peningkatan nilai tambah melalui pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi atau setengah jadi. Menurutnya, keempat entitas tersebut menjadi tulang punggung dalam membangun rantai pasok industri dari hulu hingga hilir.
Namun demikian, DPR menilai penguatan fundamental industri masih diperlukan. Nurdin menyebut kinerja saat ini masih didominasi oleh bisnis berbasis komoditas, sementara kontribusi sektor hilir terhadap profitabilitas belum optimal. “Selain itu, percepatan pembangunan smelter dan refinery dinilai perlu diimbangi dengan kesiapan cadangan, integrasi hulu-hilir, serta ketahanan keuangan,” ujar Nurdin.
Kinerja Antam dan PTBA Menguat
Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam Untung Budiharto mengungkapkan kinerja perusahaan hingga kuartal III 2025 menunjukkan peningkatan signifikan. “Pendapatan mencapai Rp 72 triliun atau naik 67% secara tahunan, didorong peningkatan volume bijih nikel dan harga emas yang solid,” ujarnya.
Laba bersih Antam meningkat dari Rp 2,2 triliun menjadi Rp 6,6 triliun. Dari sisi operasional, produksi bijih nikel mencapai 12,6 juta wet metric ton, sementara produksi alumina mencapai 134 ribu ton atau tumbuh 27%. Produksi bauksit juga meningkat menjadi 2,3 juta wet metric ton.
Baca Juga
Untung menyatakan Antam menargetkan peningkatan produksi lebih lanjut pada 2026 seiring penguatan program hilirisasi.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Arsal Ismail mengatakan perusahaan tetap mencatatkan kinerja positif meski harga batu bara mengalami normalisasi. “Perusahaan menerapkan strategi pemasaran yang tepat sehingga tetap mencatat pendapatan positif di tengah pelemahan harga,” kata Arsal.
Pendapatan PTBA tercatat meningkat secara kuartalan menjadi Rp 10,88 triliun pada kuartal III 2025. Secara tahunan, pendapatan juga tumbuh menjadi Rp 31,33 triliun, didorong oleh peningkatan volume penjualan, khususnya pada segmen batu bara dengan nilai kalori tinggi. Namun, harga jual rata-rata mengalami penurunan sekitar 6% secara tahunan seiring turunnya indeks harga batu bara global.
Kinerja Inalum dan Timah Stabil
Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium Melati Sarnita menyampaikan kinerja keuangan konsolidasi perusahaan menunjukkan tren positif. “Laba bersih 2025 mencapai US$ 142,8 juta atau meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh peningkatan kinerja produksi dan penjualan serta efisiensi biaya,” ujarnya.
Pendapatan perusahaan meningkat menjadi US$ 785,7 juta, sementara EBITDA mencapai US$ 208,7 juta. Margin laba bersih juga naik dari 17,3% menjadi 18,2%.
Dari sisi operasional, produksi aluminium mencapai 280 ribu ton. Peningkatan ini didorong oleh implementasi proyek peningkatan kapasitas smelter yang meningkatkan efisiensi teknologi.
Baca Juga
Direktur Utama PT Timah Tbk Restu Wibowo menyampaikan kinerja operasional perusahaan tetap solid di tengah dinamika industri global. Produksi bijih timah mencapai 18.635 ton, sementara produksi logam timah sebesar 17.815 metrik ton dengan penjualan mencapai 16.634 metrik ton. “Kinerja ini menunjukkan ketahanan operasional perusahaan di tengah dinamika industri global, sekaligus hasil dari perbaikan tata kelola dan efisiensi,” ujar Restu.
Komisi VI DPR menekankan pentingnya penataan roadmap hilirisasi yang berbasis cadangan dan kebutuhan pasar. DPR juga mendorong penguatan integrasi antar entitas dalam holding MIND ID guna meningkatkan efisiensi dan daya saing industri nasional.
Selain itu, DPR mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam pengambilan keputusan investasi serta membuka ruang pembahasan terkait wacana moratorium pembangunan smelter alumina dan aluminium agar lebih selektif dan berkelanjutan.

