Yield US Treasury Turun, Pasar Saham Indonesia Bergembira
JAKARTA, investortrust.id – Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun turun 7,4 basis poin menjadi 4,205% pada Kamis (12/7/2024). Hal ini turut menciptakan kegembiraan (euforia) di pasar saham Indonesia.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta meyakini, penurunan yield US Treasury berdampak positif bagi pasar saham. Pasalnya penurunan imbal hasil itu dipicu oleh penurunan inflasi AS periode Juni 2024. “Jadi wajar saja market euforia,” ujar Nafan kepada investortrust.id, Jumat (12/7/2024).
Hingga pukul 13:55, IHSG masih terapresiasi yakni ke level 7.335 atau naik 0,48% dalam perdagangan Jumat (12/7/2024).
Baca Juga
Penurunan inflasi Amerika turut memberi optimisme kepada investor bahwa The Federal Reserve (The Fed) bisa segera menahan level suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) atau menurunkannya. Pasalnya penurunan inflasi, otomatis memberi ruang bagi The Fed untuk tidak mempertahankan tingkat suku bunga tinggi (higher for longer).
Bahkan Nafan menyebutkan, konsensus terkait penurunan FFR pada September 2024, meningkat menjadi 99% alias semakin yakin pada kemungkinan tersebut.
“Agregat meningkat jadi 99%, bagi The Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga acuan tepatnya pada September sebesar 25 bsp (basis points) atau 0,25%,” jelas Nafan.
Selain berpengaruh positif terhadap pasar saham, penurunan yield US Treasury tenor 10 tahun juga Nafan percaya mampu mendongkrak nilai investasi yang masuk di pasar obligasi di Indonesia.
Merujuk catatan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), yield obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun sampai 12 Juni 2024 masih berada di kisaran 7%. Sedangkan tenor 2 tahun memiliki yield 6,66%.
Baca Juga
Imbal Hasil Treasury 10-tahun Sempat Jatuh di Bawah 4,3% Gara-gara Sentimen Inflasi dan Fed
Pada periode sama, jarak atau spread imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia dengan yield US Treasury masih di kisaran 268 basis points (bps). Hal ini membuat banyak investor global menarik dananya dari Indonesia dan beralih ke pasar obligasi Pemerintah Amerika.
Namun Pefindo menilai, pertumbuhan kepemilikan obligasi pemerintah oleh domestik dapat memperkuat pasar obligasi RI. Hingga akhir tahun lalu, kepemilikan asing di pasar surat utang Pemerintah Indonesia hanya berkisar 6,91%. (CR-10)
