Tren Akuisisi dan Merger Bank Tak Terelakkan di Era Digitalisasi
JAKARTA, Investortrust.id - Tren akuisisi hingga merger bank di tengah maraknya digitalisasi dinilai sebagai proses yang tak dapat dielakkan. Hal itu dilihat sebagai proses alami yang ditentukan oleh pasar.
Praktisi Transformasi Digital Industri Keuangan sekaligus Chairman Intellectual Business Community, Bayu Prawira Hie menjelaskan, perkembangan digitalisasi perbankan akhirnya bermuara pada pemenuhan kebutuhan pelanggan.
Baca Juga
Samuel Sekuritas Proyeksikan Harga Saham Bank Digital Akan Kembali Pulih
"Perkembangan ke depan makin kompleks karena transformasi digital akhirnya bermuara ke penawaran ‘palugada’ (menyediakan semua kebutuhan pelanggan), salah satunya super apps. Apalagi supper apps perlu approval dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan)," kata Bayu dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema "Business Resilient Cyber Attack" yang digelar Investortrust.id di Gedung The Convergence, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (27/11/2023).
Bayu memprediksi hanya sedikit bank yang bisa bertahan di persaingan super apps. Mau tak mau, bank yang tergerus akibat persaingan tersebut bakal diakuisisi oleh bank lain, bahkan merger dengan bank lainnya.
"Fenomena ini seperti tahun 1990 sampai 1992 di mana banyak sekali muncul bank, kemudian ‘goyang’ dan hanya beberapa yang survive. Digital banking juga begitu," ucapnya.
Apa yang disampaikan Bayu itu sejalan dengan pernyataan OJK yang menyebut jumlah bank di Indonesia terlalu banyak. Meski didorong OJK, Bayu melihat akuisisi hingga konsolidasi di perbankan akan terjadi secara alamiah.
Baca Juga
Ganti Logo Baru, Bank Raya (AGRO) Kokohkan Posisi di Persaingan Bank Digital
"Otoritas sebut Indonesia kebanyakan bank, idealnya cukup separuh dari yang ada saat ini. (Konsolidasi) Mungkin tak perlu dipaksakan karena market yang paksa. Tak mudah juga membangun super apps. Karena kalau kalah bersaing tidak bisa kejar profit," tuturnya.
Di sisi lain, praktisi perbankan sekaligus mantan Komisaris Independen BTPN, Irwan Mahjudin Habsjah juga menegaskan jika digitalisasi perbankan bermuara pada pelayanan terhadap konsumen. Dia menyebut digitalisasi perbankan juga menjadi medan persaingan produk dan layanan.
"Digital banking mesti selaras dengan upaya memahami behaviour consumer, apa yang mereka inginkan dan mempermudah konsumen. Sehingga diperlukan market research dan survei berkala," tegasnya.
Hal itu tentu mendorong bank-bank untuk mengeluarkan dana lebih untuk melakukan riset, di samping investasi pada cyber security. Munculnya investasi-investasi baru itu diprediksi akan membuat aksi akuisisi hingga merger akan terjadi secara alami di tengah digitalisasi perbankan. (CR-14)
