Saham Bank Bangkit! Kondisi Kuartal II Diprediksi Lebih Baik
JAKARTA, investortrust.id – Empat saham bank papan atas ini akhirnya bergerak hijau setelah beberapa pekan terakhir dilanda pelemahan. Penguatan tersebut berdampak terhadap kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang sesi I, Kamis (16/5/2024).
Penguatan tertinggi melanda saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik Rp 175 (3,48%) menjadi Rp 5.200. Penguatan selanjutnya melanda saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebanyak Rp 120 (2,49%) menjadi Rp 4.940 dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik Rp 75 (1,18%) menjadi Rp 6.450. Kenaikan tipis juga melanda PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 25 (0,26%) menjadi Rp 9.525.
Baca Juga
Berkat Saham Emiten Prajogo hingga Perbankan, IHSG Sesi I Kembali Melesat 65 Poin
Emiten bank lainnya yang berhasil cetak penguatan adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 70 (2,76%) menjadi Rp 2.610, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Rp 25 (1,34%) menjadi Rp 1.895, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Rp 10 (0,78%) menjadi Rp 1.285.
Prospek Saham Bank
Sumber: CGS International
Lalu, bagaiman sesungguhnya prospek saham perbankan? CGS International dalam riset terbarunya tetap memberikan prospek overweight saham sektor perbankan dengan pilihan teratasi tiga saham.
Baca Juga
Masih Resilien, Kredit Perbankan Diyakini Bisa Tumbuh Double Digit di Tahun Ini
Saham BBCA direkomendasikan add dengan target harga Rp 10,900, saham BMRI direkomendasikan add dengan target harga Rp 7.100, dan saham BRIS direkomendasikan add dengan target harga Rp 2.900.
Grafik CoF dan NIM Perbankan
Sumber: CGS Sekuritas
Rekomendasi overweight saham sektor perbankan didukung perkiraan bahwa peningkatan biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan cenderung melambat pada mulai kuartal II tahun ini atau cenderung normal. Hal ini didukung mulai meredanya penarikan dana setelah lebaran, musim pembagian dividen, dan penarikan dana untuk operasional.
Baca Juga
Asing Buang Saham Rp 2,02 Triliun, Tiga Saham Bank Papan Atas Ini Penyumbang Terbesar
Emiten perbankan juga kemungkinan menaikkan bunga kredit sejalan dengan peningkatan biaya dana. Hal ini diharapkan mendukung margin bunga bersih (NIM) perbankan kembali terdongkrak. “Kami memperkirakan ruang penguatan NIM tetap terbuka, khususnya kredit korporasi. Kenaikan tersebut diindikasi hampir seluruh bank yang ingin mempertahankan NIM atas kredit wholesale ini,” tulis tim riset CGS Sekurirtas dalam risetnya.
Terkait penurunan kaulitas kredit, CGS Sekuritas menyebutkan, kemungkinan berkurang, seiring dengan upaya emiten perbankan untuk mendongkrak pengucuran kredit korporasi dan komersial. Sedangkan kredit segmen mikro yang menjadi pemicu utama peningkatan rasio kredit bermasalah kemungkinan diperketat.
Grafik Saham Bank
