KSSK: Stabilitas Fiskal, Moneter, dan Sektor Keuangan Kuartal III-2026 Terjaga Baik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Menteri Keuangan, Suahasil Nazara memaparkan hasil assesment KSSK dari hasil rapat yang digelar Rabu (28/10/2026). Penilaian KSSK menunjukkan bahwa kondisi stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama kuartal III-2026 terjaga baik.
“Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama kuartal III tetap terjaga baik. Didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas,” kata Suahasil, saat Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026, di gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Suahasil menjelaskan bahwa perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan tercermin pada pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan intermediasi keuangan yang terjaga. Namun demikian, KSSK juga melihat bahwa tekanan meningkat memasuki Oktober 2026.
“Seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong naiknya harga energi global dan kebijakan moneter global yang cenderung ketat dan kondisi domestik yang ditandai dengan mengetatnya likuiditas,” kata dia.
Menurut Suahasil, pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kondisi pasar saham. Pengumuman itu juga mewarnai kondisi ekonomi dan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar. “Yang juga menyebabkan terjadinya peningkatan arus modal keluar dari pasar saham,” kata dia.
Di tengah tekanan tersebut, kata Bendahara Negara, fundamental ekonomi indonesia dan respons kebijakan yang adaptif mampu menjaga stabilitas sistem keuangan. Menurutnya, KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan terus mencermati dan melakukan penilaian yang bersifat forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan.
“Serta kami akan terus memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan utk mengantisipasi dampak rambatan risiko global,” kata dia.
Suahasil menilai prospek perekonomian global masih tertekan seiring dengan eskalasi konflik geopolitik. Masih kuatnya tensi perang di Timur Tengah mendorong tetap tingginya harga minyak dan berbagai komoditas lainnya.
Selain itu, perekonomian global juga dalam bayang-bayang kebijakan moneter global yang lebih ketat. Kebijakan suku bunga ketat terjadi di sejumlah bank sentral negara-negara utama seperti the Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.
“Seluruhnya telah menaikkan suku bunga masing-masing 25 bps pada September 2026,” ujar dia.
Dengan kondisi ini, Suahasil memperkirakan perekonomian global akan memasuki periode higher for longer dalam beberapa waktu ke depan.
“Selain itu, imbal hasil atau yield dari US Treasury tetap tinggi sejalan dengan menguatnya ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter ke depan dan defisit anggaran pemerintah AS yang besar,” ucap dia.
