Saham Teknologi dan AI Kembali Diburu, Wall Street Bangkit, Indeks Nasdaq Melaju Lebih dari 1%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Indeks saham teknologi Amerika Serikat menguat pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (20/10/2026) WIB. Investor kembali memburu saham perusahaan teknologi.
Nasdaq Composite naik 1,11% dan ditutup pada 26.430,89. Indeks S&P 500 menguat 0,41% menjadi 7.690,73. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 36,38 poin atau 0,07% menjadi 51.966,03.
Baca Juga
Penguatan saham teknologi terjadi setelah sektor tersebut mengalami tekanan berat pada pekan sebelumnya. S&P 500 turun hampir 2%, mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak akhir Juni. Nasdaq merosot 4,5% sekaligus mengakhiri tren kenaikan selama empat pekan berturut-turut. Sektor teknologi informasi bahkan anjlok lebih dari 6%, mencatatkan kinerja mingguan terburuk sejak April 2025.
Menurut Goldman Sachs, sektor teknologi menjadi sektor global dengan penjualan bersih terbesar pada pekan sebelumnya. Dana lindung nilai atau hedge fund juga tercatat menjual saham teknologi dalam proporsi terbesar yang pernah tercatat dalam data perusahaan tersebut.
Saham Produsen Chip Menguat
Pada perdagangan Senin, Intel menguat 2% setelah analis JPMorgan menaikkan rekomendasi terhadap produsen chip tersebut. Advanced Micro Devices (AMD) naik 1,8%, sedangkan Micron Technology melonjak sekitar 3%.
Penguatan saham-saham tersebut mencerminkan kembalinya minat investor terhadap perusahaan yang berhubungan dengan semikonduktor dan infrastruktur AI.
Namun, pemulihan pasar belum merata. CoreWeave, perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan yang berfokus pada AI, justru turun 0,4% setelah sempat menguat. Penurunan itu terjadi meskipun Goldman Sachs menaikkan rekomendasinya terhadap saham tersebut.
Saham CoreWeave telah merosot lebih dari 25% pada pekan sebelumnya, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak November 2025. Kekhawatiran mengenai besarnya utang perusahaan menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga sahamnya.
Tekanan juga merembet ke pasar obligasi korporasi. Kontrak credit default swap (CDS) CoreWeave, instrumen yang digunakan untuk mengukur risiko gagal bayar, telah mencapai tingkat yang mencerminkan tekanan keuangan serius menurut laporan CNBC.
Makin Selektif
Kekhawatiran terhadap keberlanjutan perdagangan saham AI meningkat setelah CNBC melaporkan bahwa pendapatan Anthropic pada kuartal III mencapai US$16,8 miliar, naik dari US$11,6 miliar pada kuartal II.
Meskipun pendapatan perusahaan tersebut meningkat, sebagian investor mulai mempertanyakan seberapa cepat pertumbuhan pendapatan dapat terus mengikuti besarnya investasi yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur AI.
Persoalan utama tidak lagi semata-mata mengenai potensi teknologi AI, tetapi juga kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan modal dan utang yang dikeluarkan.
Ron Albahary, kepala investasi LNW, menilai pergerakan spread kredit CoreWeave menunjukkan perubahan pandangan pasar terhadap anggapan bahwa investasi AI relatif terlindungi dari kenaikan suku bunga.
“Apabila pertumbuhan laba mulai melambat, pasar dapat menjadi semakin rentan terhadap koreksi,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Investor juga diperkirakan akan semakin selektif dalam menilai apakah perusahaan mampu menghasilkan tingkat pengembalian modal yang cukup untuk membenarkan utang yang mereka ambil.
Sebelum aksi jual terakhir, sebagian pelaku pasar cenderung berasumsi bahwa investasi AI akan memberikan hasil positif. Kini, keyakinan tersebut mulai diuji oleh kebutuhan pembiayaan yang besar dan ketidakpastian mengenai kecepatan pertumbuhan keuntungan.
Perubahan sikap ini penting karena pengembangan AI membutuhkan belanja besar untuk pusat data, chip, jaringan, dan pasokan energi. Jika pendapatan tidak tumbuh sesuai ekspektasi, perusahaan yang terlalu agresif berutang berisiko menghadapi tekanan keuangan.
Geopolitik dan Laporan Laba
Selain perkembangan AI, investor juga memantau kenaikan risiko geopolitik. Serangan terhadap kapal di Teluk Persia serta aksi saling serang antara Rusia dan Ukraina terhadap infrastruktur energi meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak.
Baca Juga
Serangan Houthi Ancam Pasokan Global, Minyak Brent Bertahan di Atas US$109
Pada Senin, WTI ditutup naik 2,22% menjadi US$103,66 per barel, sedangkan Brent turun 0,28% menjadi US$109,55 per barel.
Kenaikan harga energi dapat menambah tekanan inflasi dan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar biaya pembiayaan perusahaan teknologi, terutama perusahaan yang bergantung pada utang untuk mendanai ekspansi infrastruktur AI.
Pasar kini juga menantikan laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, termasuk Meta Platforms dan Tesla, yang dijadwalkan terbit pada pekan ini.
Hasil kinerja kedua perusahaan tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai daya tahan permintaan, belanja teknologi, dan prospek pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar di tengah ketidakpastian ekonomi.
Penguatan Nasdaq pada Senin menjadi sinyal bahwa investor mulai kembali masuk ke saham teknologi setelah aksi jual tajam. Namun, pemulihan tersebut belum tentu menandai berakhirnya gejolak.
Ke depan, keberlanjutan reli saham AI akan semakin bergantung pada bukti pertumbuhan pendapatan, kemampuan menghasilkan arus kas, dan disiplin pembiayaan. Di tengah biaya modal yang tinggi, perusahaan teknologi tidak cukup hanya menjanjikan potensi AI; mereka juga harus menunjukkan bahwa investasi besar tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang nyata.
