Rupiah Dekati Rp16.400/US$, Pemerintah Pantau Maskapai Berpotensi Terdampak
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) mulai memantau maskapai penerbangan nasional yang berpotensi terdampak oleh pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS.
Direktur Angkutan Udara Ditjen Hubud Kemenhub, Putu Eka Cahyadi mengatakan, pihaknya masih memantau dan masih belum mendapat laporan dari airlines atau maskapai penerbangan yang terdampak.
"Kita masih pantau, kita masih monitor semua perkembangan-perkembangan. (Bagaimana dampak kurs rupiah hampir tembus Rp16.400/US$ ke airlines?) Maskapai belum ada menginfokan apa-apa," kata Putu Eka saat ditemui di Gedung Nusantara DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (19/6/2024).
Baca Juga
Timur Tengah Bergolak, Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran
Berdasarkan informasi yang diterima investortrust.id, dilansir dari Yahoo Finance hingga pukul 09.30 WIB, rupiah berada di level Rp 16.374/US$.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro mengatakan, menguatnya indeks dolar AS tidak terlepas dari sejumlah sentimen yang yang dialami negeri Adidaya tersebut.
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengakui, melemahnya kurs rupiah ini berdampak pada banyak sektor, termasuk sektor pariwisata.
"Ada yang menganggap hal ini akan meningkatkan daya saing kita, tetapi secara keseluruhan, tentunya akan berdampak negatif juga pada dunia usaha," ujar Sandiaga dalam Weekly Brief with Sandiuno daring, Senin (22/4/2024) lalu.
Dirinya pun menyampaikan, wisatawan mancanegara akan merasakan murahnya berwisata di Indonesia akibat pelemahan kurs rupiah ini. Sementara itu, wisatawan nusantara justru harus merasakan beban karena tiket pesawat yang mahal.
Baca Juga
KPPU Panggil 7 Maskapai Terkait Harga Tiket Pesawat Mahal, Batik Air Mangkir
"Tentu akan ada dampak lain, seperti harga tiket pesawat yang cenderung mahal karena avtur akan tereskalasi," ujar Sandiaga.
Selain itu, Sandiaga juga menyebutkan alasan lain mengenai mahalnya harga tiket pesawat. Alasan tersebut, yakni jumlah pesawat yang belum pulih seperti pra-pandemi Covid-19.
Diketahui, baru ada sekitar 400 pesawat saat ini dari jumlah total 700 pesawat sebelum pandemi pada 2019 lalu. "Kita berharap pelemahan rupiah ini tidak berlanjut dan segera ditangani oleh otoritas terkait," pungkas Sandiaga.
