Mengurai Sektor Potensi Cuan Jelang Pemilu 2024
Ditulis Oleh: Dandhi Nur Prastiyo (Research Analyst PT Infovesta Kapital Advisori)
JAKARTA, Investortrust.id - Momentum pemilu telah menjadi sentimen pendorong laju IHSG pada pelaksanaan dua pemilu presiden terakhir. Investor sedang menunggu momen berlangsungnya masa kampanye yang akan dimulai pada 28 November 2023.
Mengingat kinerja IHSG yang masih mengalami peningkatan terbatas sebesar +0,73% YTD hingga 16 Agustus 2023, sentimen kampanye pemilu tahun ini diharapkan dapat menjadi booster untuk gerak IHSG hingga akhir tahun 2023.
Sampai dengan sekarang, kinerja IHSG masih dominan dibayang-bayangi sentimen dari global khususnya Amerika dan China. Dari Amerika, fokus pasar masih tertuju pada perkembangan inflasi dan data tenaga kerja.
Sedangkan dari China, ekspektasi pertumbuhan ekonomi China yang akan meningkat pesat setelah reopening pasca Covid-19 belum dapat terealisasi secara cepat. Kondisi ini turut serta menambah tekanan untuk harga komoditas energi yang juga menjadi penghambat laju penguatan IHSG.
Baca Juga
5 Reksa Dana Paling Cuan Tahun Ini, Ada yang Cetak ‘Return’ Nyaris 20%
Besar harapan penguatan IHSG akan dimulai pada paruh kedua tahun ini. Berdasarkan data, enam bulan sebelum pelaksanaan pemilu presiden 2014 dan 2019, IHSG selalu mencatatkan kinerja yang cemerlang.
Pada periode enam bulan sebelum pemilu 2014, IHSG tumbuh sebesar +12,72%. Sedangkan enam bulan sebelum pemilu 2019 IHSG tumbuh +8,05%. Optimisme pelaku pasar terhadap IHSG jelang masa pemilu mengindikasikan keyakinan investor terhadap perkembangan perekonomian kedepannya.
Selain itu besarnya perputaran dana selama masa kampanye dapat meningkatkan daya beli dan berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi turut menjadi katalis positif pada musim kampanye akhir tahun ini.
Dinamika pasar saham selama dua periode pemilu juga telah melewati berbagai ketidakpastian di pasar. Pada tahun 2014, proses rebalancing ekonomi masih berlangsung ditandai dengan tidak meratanya pemulihan ekonomi global yang terjadi.
Perlambatan ekonomi emerging market terutama dari China, sedangkan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju khususnya AS menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang konsisten sehingga AS mulai melakukan pengurangan stimulus moneter secara bertahap (tapering off) yang telah memberikan tekanan terhadap perekonomian emerging market.
Dari sisi domestik, telah terjadi defisit neraca berjalan karena penurunan ekspor. Perlambatan permintaan terutama dari China telah menekan harga komoditas global menjadi kunci penurunan ekspor. Namun, melihat fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid tercermin pada Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5% yoy pada Q4-2014, hal ini membuat prospek ekonomi Indonesia masih menarik. Serta adanya pesta demokrasi pada tahun 2014 telah mendorong tingkat konsumsi rumah tangga. Hal ini turut menjadi sentimen pendorong kinerja IHSG sepanjang tahun 2014 sebesar +22,29% ke level 5.226. Serta terjadi aliran dana masuk asing ke pasar saham sebesar Rp31,73 triliun.
Pada periode tahun 2019, telah terjadi ketegangan hubungan dagang AS dengan Tiongkok. Ketegangan hubungan dagang juga meluas ke beberapa negara. Ketidakpastian terhadap prospek perdagangan dunia yang meningkat telah mengakibatkan turunnya volume perdagangan dunia.
Dampak dari lesunya penurunan perdagangan itu membuat pertumbuhan ekonomi global juga turut mengalami perlambatan. Dari sisi domestik juga terkena imbas terutama dari sisi ekspor yang menurun.
Baca Juga
BNI Sekuritas Kawal Transaksi Aset Pertamina – Energi Mega Persada (ENRG)
Di tengah kinerja ekspor yang menurun, namun konsumsi rumah tangga tetap dapat menopang pertumbuhan ekonomi domestik. Salah satu faktor pendorong tingkat konsumsi rumah tangga yakni didukung oleh persiapan dan pelaksanaan pemilu serta durasi masa kampanye yang cukup lama dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga berdampak positif pada perkembangan konsumsi rumah tangga.
Selain itu pada bulan April 2019 yang bertepatan dengan proses pemilu presiden, aliran dana asing masuk ke IHSG melonjak hingga Rp53,12 triliun dalam sebulan. Hal ini, menandakan investor asing berekspektasi optimistis terhadap pemenang calon presiden.
Jika dilihat per sektor enam bulan sebelum pemilu presiden 2014, sektor yang menjadi jawara yakni Properti +30,81%, Keuangan +27,26%, dan Infrastruktur +10,03%. Sedangkan 6 bulan sebelum pemilu presiden 2019, sektor yang menguat yakni Keuangan +22,23%, Properti +21,60%, dan Industri dasar kimia sebesar +15,74%.
Sedangkan sektor infrastruktur juga bertahan menguat sebesar +10,38%. Jika dilihat secara rata-rata, tiga sektor yang kinerjanya paling tinggi selama 6 bulan sebelum Pemilu yakni Keuangan, Properti, dan Infrastruktur.
Sentimen pendorong tiga jawara indeks sektrol tersebut yakni dampak dari tingkat suku bunga yang tergolong tinggi telah mendorong tingkat kredit yang mengalami peningkatan dan tentunya mendorong pertumbuhan pendapatan perbankan.
Selain itu, meningkatnya penggunaan internet dan percepatan pembanguan infrastruktur telah mendorong kinerja di sektor infrastruktur. Sedangkan sentimen pendorong sektor properti yakni dilihat dari harga saham yang undervalued. Selain itu, tingkat suku bunga The Fed yang sudah tidak agresif dibandingkan tahun sebelumnya. Serta nilai kurs rupiah terhadap dollar yang terus membaik, menjadi sentimen positif di sektor properti. Mengingat banyak emiten properti yang memiliki utang dalam bentuk dollar AS.
Lalu bagaimana dengan potensi jawara sektor indeks pada Pemilu 2024? Bercermin pada kinerja indeks sektor pada periode 2019 dimana diselenggarakannya pemilu yang mempunyai pola sama dengan keadaan pasar saat ini yakni tingkat suku bunga Bank Indonesia telah tertahan di level tinggi sebesar 5,75%. Hal ini telah mendorong tingkat kredit yang terus tumbuh dan berdampak pada peningkatan pendapatan di sektor perbankan.
Baca Juga
Selain itu pemerintah sedang mempercepat akselerasi digitalisasi di seluruh sektor mendorong penggunaan internet dan percepatan pembangunan IKN yang ditargetkan pada tahun 2024 akan menjadi sentimen positif pada sektor infrastruktur. Sedangkan sentimen suku bunga AS yang diproyeksi dalam waktu dekat The Fed akan menahan level suku bunga dan akan menurunkannya pada tahun 2024, serta kurs nilai tukar rupiah terhadap dollar yang diprediksi terus dapat terjaga akan berdampak positif pada sektor properti.
Melihat potensi di tiga sektor tersebut pada tahun pemilu 2024, investor perlu memperhatikan fundamental perusahaannya untuk melihat prospek kinerja keuangan dan posisi harga saham tersebut apakah tergolong overvalued ataupun undervalued. Melihat data periode Q2-2023 terlihat posisi sektor infrastruktur mempunyai nilai price to earning ratio yang lebih tinggi sebesar 38,78x dibandingkan dengan sektor keuangan dan properti. Valuasi sektor keuangan dengan menggunakan price to earning ratio sebesar 18,57x. Sedangkan price to earning ratio sektor properti sebesar 15,33x.
Price to earning ratio ini digunakan untuk menilai mahal murahnya saham berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih. Melihat prospek di sektor properti yang masih tergolong murah ini secara sektor, hal ini, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.
Disisi lain, kami memproyeksikan suku bunga BI berpotensi mengalami penurunan pada awal tahun 2024, mengingat tingkat inflasi yang sudah dapat dikendalikan dan berada pada target Bank Indonesia. Sehingga dengan pemangkasan suku bunga BI akan menurunkan tingkat suku bunga KPR dan dapat meningkatan permintaan properti terutama pada jenis properti tipe kecil dan tipe menengah.
Berdasarkan beberapa pengamatan yang telah dilakukan, besar kemungkinan gerak IHSG pada 6 bulan jelang pemilu Februari 2024 akan mempunyai tren yang sama dengan pelaksanaan 2 pemilu sebelumnya dengan pilihan-pilihan sektor yang telah disebutkan sebelumnya. Namun tidak menutup kemungkinan juga masih ada sektor lain yang juga kinerjanya menguat.
Semua kembali pada pilihan investor serta bagaimana risk tolerance dan risk appetite dari tiap investor. Semoga momentum 6 bulan jelang pemilu 2024 ini dapat menjadi titik penguatan gerak IHSG kedepannya dan semakin menumbuhkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan presiden yang baru.
Semangat berinvestasi!
