Lupakan Sentimen Pemilu! 3 Faktor Ini Sandera IHSG hingga Kuartal I-2024
JAKARTA, investortrust.id – Pesta pemilihan umum (Pemilu) yang biasanya membawa angin positif terhadap pergerakan pasar saham diyakini absen pada pemilu kali. Bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global memicu kekhawatiran pelaku pasar finansial.
Secara historis, dalam dua pemilu terakhir, tahun 2014 dan 2019, IHSG mengalami kenaikan rata-rata sebesar 150%, dengan horizon yang cukup panjang. Sejak musim kampanye hingga 2 tahun pasca pemilu.
Ekonom PT Sucor Sekuritas Ahmad Mikael, meramal, efek Pemilu 2024 akan berbeda dengan beberapa Pemilu sebelumnya, tidak ada pesta pora di pasar saham domestik.
Baca Juga
Sejumlah faktor yang mendasari asumsi Ahmad, pertama, ini pertumbuhan ekonomi global akan lebih rendah dari tahun 2022, sementara tahun 2024 diprediksi flat.
Indikator pelemahan ekonomi global tampak dari kondisi ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi mengalami hard lending (penurunan ekonomi yang cepat), dipicu oleh anjloknya harga komoditas.
Penurunan harga komoditas akan memicu disinflation pada kuartal I hngga kuartal II-2024. Malah kata dia bukan tidak mungkin disinflasi berubah menjadi deflasi dan mengkonfirmasi terjadi pelambatan ekonomi global sebagaimana prediksi IMF di bawah 3% pada 2023 dan 2024.
‘’Harga minyak kita asumsikan di level US$ 82 dolar sampai kuartal I dan kuartal II-2024, maka secara basic inflasi komoditas mendekati nol persen, disinflation, apalagi kalau terjadi hard lending,’’ tuturnya.
Selain itu krisis yang terjadi di Eropa juga condong terjadi lebih panjang, membuat ekonomi global makin tidak pasti arah.
Baca Juga
Citilink Buka Penerbangan Mataram – Bima, Berikutnya Bima – Labuan Bajo
Faktor kedua yang memengaruhi pasar dipicu oleh kebijakan debt ceiling yang dilakukan AS sejak Juni 2023 membuat penerbitan surat utang begitu masif, akibatnya harga obligasi turun dan yield melonjak.
Saat ini yield US Treasury tenor 10 tercatat berada di level 4,8%, naik 100 bps dibanding periode Juni 2023. Aliran modal keluar tentu berdampak pada tekanan rupiah serta preferensi terhadap pasar saham.
‘’Jadi masalah utamanya bagi pasar finansial bukan semata soal bunga acuan As yang akan naik lagi, tetapi disebabkan suplai US treasury yang terlalu banyak, karena debt ceilingnya dinaikin dari US$ 31,4 triliun jadi US$ 34 triliun,’’ ujarnya.
Pemerintah AS sendiri telah berupaya agar investor asing terutama Tiongkok menambah kepemilikan US Treasury agar yield tidak terus meninggi. Tapi kata Ahmad upaya ini tampaknya ditolak oleh Tiongkok. Saat ini 30% pemegang surat utang pemerintah AS merupakan investor asing yang didominasi oleh Tiongkok.
‘’Kondisi ini berponsi memicu geopolitik di Asia, kondisi di Laut Cina Selatan memanas dan ini negatif buat market,’’ paparnya. Kondisi geopolitik 2024 yang akan berpindah fokus dari perang Rusia-Ukraina ke Laut Cina Selatan merupakan faktor ketiga yang akan memengaruhi pergerakan pasar saham.
Adapun soal sentimen pemilu, dikatakan Ahmad kemungkinan baru akan dilirik pemodal setelah hasil pemilu keluar, atau setidaknya semester II-2024, itupun dengan catatan situasi global sudah mulai menunjukan kondisi yang lebih kondusif.
