Jika Tak Ada Krisis IT, Laba BRIS Bisa Lebih Tinggi
JAKARTA, investortrust.id - Laba PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) diyakini bisa mencapai laba bersih lebih dari Rp 5,7 triliun pada tahun 2023 jika perseroan tidak mengalami krisis teknologi yang mengakibatkan terhentinya layanan medio Mei 2023 lalu.
Disampaikan Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam kesempatan berbuka puasa bersama di Jakarta, (18/3/2024), terjadi opportunity loss saat krisis IT pada Mei 2023 lalu yang diduga kuat akibat serangan siber ke sistem BSI. “Kalau tidak ada kejadian bulan Mei 2023, laba kita gak segitu (Rp5,7 triliun), tapi pasti lebih besar lagi,” kata Hery.
Asumsi ini didasarkan pada aliran dana simpanan yang masuk kembali pada bulan September 2023 pascarecovery serangan siber, ternyata jauh lebih besar dari volume dana simpanan nasabah yang tercatat sebelum Mei 2023.
Baca Juga
“Saat terjadi krisis teknologi pada Mei 2023 lalu, kelompok nasabah dari golongan universalis yang membandingkan layanan BSI dengan bank-bank Big Four pergi. Karena tabungan itu agile kan. Setlah kami lakukan pendekatan secara personal pada nasabah dan meyakinkan mereka bahwa dana mereka aman, perlahan mereka kembali masuk,” ujar Hery.
Dikatakannya, pada bulan Agustus 2023, balance sheet BSI sudah kembali normal. “Bahkan memasuki September kondisinya justru sudah melampaui sebelum Mei,” imbuhnya.
Diakuinya apa yang terjadi pada saat itu menjadi wake up call bagi emiten berkode BRIS ini untuk meningkatkan kapabilitas teknologi, security system, konfigurasi aplikasi yang makin modern agar mampu memberikan layanan terbaik bagi para nasabah.
Sekadar informasi, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencetak pertumbuhan laba 33,88% (yoy) menjadi Rp 5,70 triliun di tahun 2023. Di periode yang sama BSI mencatat pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp 240,32 triliun atau tumbuh 15,70% year on year, dengan kualitas pembiayaan (NPF) gross membaik sebesar 2,08%.
Komposisi pembiayaan yang disalurkan didominasi oleh segmen konsumer (54,32%), wholesale (28,09%) dan retail (17,58%). Pembiayaan berkelanjutan di BSI mencapai Rp 57,7 triliun yang didominasi sektor UMKM sebesar Rp 45,4 triliun, diikuti sustainable agriculture Rp 4,8 triliun, eco-efficient product Rp 5,8 triliun, energi terbarukan Rp 1,1 triliun dan proyek eco-green Rp 549,6 miliar.
