GOTO dan Grab Dikabarkan Buka Kembali Opsi Merger
JAKARTA, investortrust.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) disebut kembali menjajajaki merger Gojek dengan Grab dengan tujuan untuk menutup kerugian bertahun-tahun kedua perusahaan teknologi tersebut akibat persaingan ketat antara keduanya.
Bloomberg dalam pemberitaan, Jumat (9/2/2024) mengabarkan perusahaan-perusahaan tersebut sedang menggelar diskusi awal terkait berbagai skenario. Demikian penjelasan sumber Bloomberg yang mengetahui terkait pembicaraan tersebut.
Baca Juga
Usai Tokopedia Dikendalikan Tiktok, GOTO akan Kecipratan Pendapatan Rutin Ini
Dari beberapa opsi, ada pilihan Grab, yang berbasis di Singapura, akan mengakuisisi GoTo menggunakan uang tunai, saham, atau kombinasi keduanya. Diskusi terus berlangsung, kata salah satu orang yang meminta untuk tidak disebutkan Namanya, karena negosiasi bersifat pribadi. Para pemegang saham utama kedua perusahaan mendukung kesepakatan tersebut dan mendorong perundingan tersebut, kata sumber tersebut.
Sumber tersebut menambahkan bahwa perundingan tersebut mungkin tidak mengarah pada merger atau kesepakatan apa pun. Opsi-opsi yang telah dijajaki oleh perusahaan-perusahaan tersebut juga mencakup pemisahan pasar-pasar utama mereka, dengan Grab mendapatkan kendali pasar di Singapura dan beberapa pasar negara lainnya. Adapun GoTo tetap memegang kendali untuk pasar Indonesia.
Bloomberg melaporkan bahwa valuasi tetap menjadi hambatan utama dalam kesepakatan apa pun, karena saham GoTo telah anjlok sekitar 30% dalam 12 bulan terakhir, kata sumber tersebut. Kekhawatiran lainnya termasuk struktur kesepakatan dan tata kelola, mereka menambahkan.
Baca Juga
Pendapatan GoTo 2023 Diproyeksi Naik, Ini Lini Bisnis Pendukungnya
Perwakilan GoTo mengatakan,“tidak ada diskusi seperti itu yang dilakukan,”. Ssementara perwakilan Grab menolak berkomentar. Tulis Bloomberg.
Masing-masing perusahaan memiliki puluhan juta pengguna layanan ride-hailing, dan merger dapat membantu mereka menaikkan tarif dan menemukan sinergi di pasar-pasar besar seperti Indonesia, di mana persaingan telah membuat harga tetap rendah. Ukuran yang lebih besar juga dapat membantu entitas gabungan menjadi lebih kuat dalam layanan dengan margin lebih tinggi seperti pembayaran digital dan perbankan.
