Ekspor Biodiesel Indonesia Turun 70%, Pemerintah Ungkap Sejumlah Faktor Ini
JAKARTA, investortrust.id - Plt Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Jisman Hutajulu mencatatkan penurunan ekspor biodiesel ke Eropa sebanyak 70% tahun 2023.Penurunan dipicu atas penerapan kebijakan EU Devorestation Regulation (EUDR).
Dia mengungkapkan, tantangan pada industri bioenergi tidak hanya datang dari dalam negeri, namun juga dari pasar global. Di antaranya, Uni Eropa dengan berbagai cara mencoba mendiskriminasikan produk biofuel Indonesia.
Baca Juga
Pemerintah Naikkan Harga Referensi CPO Februari, Ini Rinciannya!
“Misalnya melalui Negative Campaign Renewable Energy Directive (RED). Selanjutnya tuduhan anti-dumping pengenaan bea masuk tambahan atas produk bioenergi, khsususnya sawit. Dan yang terbaru adalah penerapan EUDR,” sebut Jisman dalam Seminar Tantangan Industri Bioenergi, Selasa (27/2/2024).
EUDR sendiri merupakan rancangan regulasi yang dimiliki Uni Eropa yang bertujuan mengenakan kewajiban uji tuntas terhadap tujuh komoditas pertanian dan kehutanan, termasuk di antaranya kelapa sawit.
Regulasi ini dibuat dengan tujuan untuk membuktikan bahwa komoditas yang masuk ke Eropa adalah barang yang bebas dari deforestasi. Kondisi itulah yang kemudian membuat ekspor biodiesel Indonesia ke Eropa mengalami penurunan hingga 70%.
Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Edi Wibowo menerangkan, dikenakannya pajak tambahan yang cukup tinggi membuat para pengusaha membatalkan niatnya menjual biodiesel ke Eropa.
Baca Juga
“Lah kita kan untuk biodiesel diutamakan dalam negeri. Tapi, Eropa mengenakan pajak kita masuk ke sana atau apa, sehingga teman-teman (pengusaha) di sini gak ekspor lagi ke sana. Salah satunya itu karena kena pajak lebih tadi, berkisar antara 15-20%,” kata Edi Wibowo.
Sementara itu, Direktur KSIA Amerop Kementerian Luar Negeri Nidya Kartikasari menyebutkan, terjadi penurunan ekspor sejumlah komoditas ke Uni Eropa dengan adanya regulasi baru tersebut, seperti misalnya minyak sawit dan karet.
“Kalau kita hitung untuk jumlah komoditas adalah 7,8 miliar Euro ekspor kita yang akan terdampak, dan rata-rata untu minyak sawit itu USD 4 miliar,” sebut Nidya.
