Bitcoin Turun di Bawah US$ 40.000, Penurunan Bakal Berlanjut?
JAKARTA, investortrust.id – Aset kripto Bitcoin (BTC) mencatatkan penurunan hingga berada di bawah US$ 40.000 pada perdagangan Selasa (23/1). Penurunan aset ini telah berlanjug sejak 4 Desember 2023.
Berdasarkan data coinmarketcap.com pukul 14:55 WIB, BTC bertengger di harga US$ 39.642 atau terkoreksi 3,26% dalam 24 jam terakhir dan anjlok 7,21% dalam sepekan.
Sedangkan rekor tertinggi harga Bitcoin berada di US$ 48.983. Harga tersebut ditorehkan saat hari pertama perdagangan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS) pada 11 Januari 2024 setelah disetujui regulator setempat pada 10 januari 2024.
Baca Juga
Hati-hati, Analis Peringatkan Harga Bitcoin Pascahalving Bisa Menyusut jadi Segini..
Namun sejak perdagangan tersebut hingga kini, harga aset Bitcoin terus mengalami penurunan dipicu aksi sell the news dan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh sebagian investor.
Bitcoin telah naik sekitar 70% dari periode Agustus 2023, bergerak di kisaran harga US$ 28.500, ketika pengadilan federal memaksa SEC untuk meninjau kembali keputusannya untuk menolak aplikasi ETF bitcoin Grayscale Investment.
Adapun, kabar terkait persetujuan ETF Bitcoin spot ini telah sangat dinantikan ketika Blackrock mengajukan ETF Bitcoin spotnya pada juni 2023. Ketika itu harga Bitcoin sekitar US$ 25.000, artinya telah menguat 95% hingga mencapai level tertinggi baru-baru ini.
“Pagi ini, BTC bergerak di level US$ 39.830 bertengger tepat di dynamic support MA-100. Jika BTC turun di bawah MA-100, maka potensi lanjut melemah ke support US$ 38.000. Sebaliknya, apabila BTC dapat rebound MA-100 potensi naik terbatas menuju resistance US$ 40.500,” jawab Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha tentang proyeksi harga BTC ke depan, Selasa (23/1/2024).
Baca Juga
Sepekan Bitcoin Terjun lebih dari 8%, Ternyata Ini Pemicunya
Melihat situasi saat tersebut, strategi yang dapat dipertimbangkan investor adalah menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA). Dalam artian, pembelian secara dicicil yang tujuannya mendapat harga rata-rata rendah, demi mengurangi stres dari dampak fluktuasi harga aset Kripto.
Sementara, permintaan global untuk produk investasi aset kripto mereda pekan lalu, dengan arus keluar dana sebesar US$ 21 juta, menurut laporan dari CoinShares.
Akibatnya, pergerakan pasar aset Kripto secara keseluruhan terkena dampak buruk. Total kapitalisasi pasar aset Kripto anjlok dari level tertinggi di angka US$ 1,8 triliun ketika ETF Bitcoin spot pertama kali diperdagangkan di AS.
Pada Selasa (23/1) pukul 08.00 WIB total kapitalisasi pasar aset Kripto berada di level US$ 1,52 triliun, turun 4,34% dalam 24 jam terakhir. Sementara di waktu yang sama, Ethereum (ETH) juga tersendat, diperdagangkan sekitar 4,53% lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya menjadi sekitar US$ 2.325. (CR-10)
