Banyak BPR Tutup, Ternyata Ini Penyebabnya
Reporter | Taufiq Al Hakim
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mengungkapkan, tutupnya 6 hingga 7 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) setiap tahun karena persaingan bisnis semakin ketat. Industri financial technologi (fintech) dan bank digital juga menjadi saingan bagi BPR.
"Adanya sekitar 6-7 BPR tutup setiap tahun karena persaingan bisnis di level ini makin ketat. Hadirnya industri fintech dan bank digital juga menjadi saingan bagi BPR," ujar Eko kepada investortrust.id, Jumat (16/02/2024).
Selain itu, Eko mengatakan, era digitalisasi membuat layanan dengan digital lebih diminati. Padahal, rata-rata secara umum, BPR tertinggal dalam layanan ini dibanding fintech.
Baca Juga
Opsi Merger
Lebih lanjut, Eko menjelaskan, BPR dulu memiliki captive market nasabah di daerah sekitar BPR. Namun, saat ini, dengan adanya digital, BPR harus bersaing dengan industri keuangan yang menawarkan layanan cepat dari handphone dan internet.
Melihat hal tersebut, Eko membeberkan, BPR perlu lebih adaptif dengan perkembangan selera nasabah. Menurutnya, kerja sama dengan fintech bisa menjadi opsi.
"Tentu untuk meningkatkan layanan digital perlu merger atau kolaborasi dengan BPR lain. Ini karena modal untuk digitalisasi tidak murah," ujarnya.
Baca Juga
Adapun terkait kendala, Eko menyebut, per Desember nanti, modal inti perlu Rp 6 miliar. Bagi BPR yang belum mencapai aturan modal tersebut tentu perlu mencari investor atau merger.
Sebelumnya diberitakan investortrust.id, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dalam kurun waktu 18 tahun terakhir, rata-rata 6-7 BPR tutup tiap tahunnya. Memasuki tahun 2024, katanya, terdapat 2 BPR yang dihentikan izinnya oleh Otoritas Jasa Keuangan, dan diserahkan ke LPS untuk pengembalian dana nasabahnya.
“Pada awal (2024) ada dua yang diserahkan ke LPS dan kami tangani dengan cepat dan smooth,” kata Purbaya saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar di Kementerian Keuangan di Jakarta.
