Prabowo dan Hideyoshi, Pemimpin yang Mengedepankan Diplomasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Berikut ini adalah bagian dari serial tulisan Presiden Prabowo dalam bukunya “Kepemimpinan Militer” (2022), yang bercerita tentang kepemimpinan Hideyoshi, pemegang kekuasaan tertinggi Jepang abad ke-16.
Toyotomi Hideyoshi lahir di Provinsi Owari (sebelah barat Prefektur Aichi) pada 2 Februari 1536 dan meninggal dunia pada 18 September 1598 dalam usia 62 tahun. Ia adalah pemimpin Jepang dari zaman Sengoku hingga zaman Azuchi Momoyama. Toyotomi Hideyoshi merupakan salah satu tokoh sejarah paling terkemuka di Jepang.
Dalam waktu satu tahun setelah Oda Nobunaga wafat, Hideyoshi berhasil menjadi pewaris kekuasaannya. Ia berhak menjadi pengganti Nobunaga, meskipun pangkatnya saat itu masih 3–4 tingkat di bawah, karena memiliki prestasi luar biasa di bidang politik dan militer.
Hideyoshi adalah anak seorang samurai miskin yang, karena terluka dalam pertempuran, tidak bisa lagi menjadi samurai dan kemudian menjadi petani. Masa kecil Hideyoshi sangat memprihatinkan. Namun, ia selalu bermimpi menjadi samurai seperti ayahnya.
Ia memulai kariernya setelah secara kebetulan berjumpa dengan seorang panglima Jepang. Dalam sistem Jepang saat itu, daimyo adalah pemimpin klan yang menguasai wilayah setingkat provinsi. Salah satu daimyo terkenal, Nobunaga, sering melewati daerah tempat Hideyoshi berada. Hideyoshi menarik perhatian Nobunaga dan meminta bekerja sebagai pelayan.
Di situlah karier Hideyoshi dimulai. Tugas pertamanya adalah membawa sandal Nobunaga. Karena sangat rajin, setiap Nobunaga bangun di tengah malam, Hideyoshi selalu siap—bahkan bangun lebih dahulu darinya. Dalam berbagai peristiwa kritis, Hideyoshi selalu berada di samping Nobunaga. Berkat keberanian dan inisiatifnya dalam berbagai pertempuran, ia akhirnya diangkat menjadi samurai.
Awalnya, Hideyoshi memimpin 30 orang, kemudian meningkat menjadi 100 orang. Ia juga pernah menjadi kepala dapur, lalu mengurus kuda-kuda Nobunaga. Setelah itu, ia diberi tugas sebagai pengawas pembangunan benteng, hingga akhirnya diangkat menjadi jenderal.
Hideyoshi dikenal sebagai sosok yang tekun, rajin, sabar, dan tidak mudah kecewa. Apa pun tugas yang diberikan oleh panglimanya, ia laksanakan dengan cermat dan teliti hingga berhasil. Karena keberhasilannya yang konsisten, ia pun naik pangkat dengan cepat.
Sebagai seorang jenderal, Hideyoshi juga terkenal cerdik. Ciri khasnya adalah selalu mengedepankan perundingan. Ia tidak gegabah dalam mengambil keputusan, tetapi selalu mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.
Ketika Nobunaga terbunuh dalam sebuah upaya kudeta, Hideyoshi dengan cepat mengambil alih kepemimpinan. Saat itulah ia menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Jepang. Ia tidak bisa menjadi shogun karena tidak berasal dari keluarga bangsawan, tetapi secara de facto ia adalah pemimpin militer Jepang saat itu.
Hideyoshi dikenal selalu berusaha berunding dengan lawan-lawannya. Dia suka diplomasi dan bernegosiasi. Ada sebuah kisah tentang cara ia mencari solusi.
Suatu saat, ia memimpin pasukannya dan berhadapan dengan seorang jenderal terkenal yang juga memiliki pasukan sangat kuat. Hideyoshi meminta berunding satu hari sebelum pertempuran. Kedua panglima pun bertemu, masing-masing dengan kekuatan yang hampir seimbang.
Hideyoshi berkata kepada lawannya: “Besok kita akan berperang. Anda lihat di belakang saya, pasukan saya sangat besar dan kuat. Di belakang Anda, pasukan Anda juga sangat besar dan kuat. Mungkin besok saya menang, atau mungkin Anda yang menang.
Tetapi yang pasti, jika saya menang, banyak prajurit saya akan mati. Jika Anda menang, banyak prajurit Anda juga akan mati. Artinya, siapa pun yang menang, banyak orang tua akan menangis karena kehilangan putra-putra mereka. Bahkan musim panen berikutnya mungkin gagal karena tidak ada yang membantu di ladang.
Mengapa kita tidak bekerja sama? Mengapa tidak bersatu? Anda ingin mempersatukan Jepang, saya pun demikian. Anda mencintai Jepang, saya juga mencintai Jepang. Mari kita bersatu untuk membuktikan cinta kita kepada Jepang.”
Mendengar itu, lawannya berpikir dan akhirnya setuju:
“Untuk apa kita berperang? Lebih baik kita bersatu dan bersama-sama berbakti kepada Jepang.”
Sifat kepemimpinan seperti inilah yang membuat Hideyoshi sukses dan akhirnya mencapai puncak kekuasaan di Jepang.
Tulisan lengkap Presiden Prabowo dapat diakses di linktr.ee/PustakaPrabowo

