Kantongi Data Intelijen, Prabowo Ungkap Motivasi Pengamat Kerap Jatuhkan Pemerintah
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto menyentil pengamat yang kerap menjatuhkan pemerintah. Prabowo bahkan membeberkan motivasi para pengamat tersebut.
Hal itu diungkapkan Prabowo dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga
Defisit APBN Bakal Lampaui 3%, Airlangga Usulkan Prabowo Terbitkan Perppu
Mulanya, Prabowo menanggapi pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengenai analisis dan ekonom media sosial yang menyebut Indonesia memasuki resesi, bahkan ekonomi Indonesia morat-marit. Padahal, Purbaya menyebut berdasarkan data, ekonomi Indonesia sangat kuat. Prabowo mengakui adanya sejumlah pengamat yang tidak suka dengan keberhasilan Indonesia.
"Ya ini pengamat-pengamat ada beberapa macam menurut saya. Ada pengamat yang memang tidak suka pemerintah sendiri berhasil karena berbagai motivasi," katanya.
Kepala Negara menyebut sikap para pengamat itu sempit dan tidak menunjukkan patriotik. Prabowo menduga para pengamat itu merupakan bagian dari pihak yang kalah pemilu dan tidak memiliki kekuasaan. Terdapat juga koruptor yang kehilangan rezeki di era pemerintahannya.
"Ada pihak yang hilang rezeki terutama maling-maling koruptor, ya merasa rugi dong dengan pemerintah kita. Kita mau tertibkan ya," katanya.
Prabowo mengaku memiliki data intelijen mengenai pihak-pihak yang membiayai para pengamat tersebut.
"Saya juga punya data intelijen. Kalau dulu kan saya di luar pemerintah, sekarang saya presidennya, tiap hari dapat laporan intel. Saya mengerti lah siapa yang biayai-biayai. Pada saatnya kita tertibkan itu semua," katanya.
Untuk saat ini, Prabowo menyatakan tengah berusaha meyakinkan masyarakat mengenai keberhasilan pemerintah berdasarkan bukti-bukti yang nyata.
"Dengan bukti rakyat kita akan mengerti, jadi pengamat-pengamat menurut saya ada yang motivasinya ingin menimbulkan kecemasan rakyat. Saya juga tidak mengerti pemikiran seperti apa," katanya.
Baca Juga
Beberkan Kondisi Ekonomi RI ke Prabowo, Purbaya: Analisis di TikTok Tak Pernah Lihat Data
Menurutnya, saat ini persaingan politik seharusnya sudah berakhir. Seluruh kekuatan bangsa, menurutnya harus bersatu untuk menghadapi berbagai tantangan.
"Karena kita satu negara ini, satu kapal. Kalau kapal oleng mereka juga oleng. Harusnya perbedaan pendapat ya perbedaan pendapat tidak masalah bersaing politik ya bersaing tiap lima tahun di pilkada, pileg, pilpres, tetapi harusnya negara ini kalau sudah selesai pertandingan-pertandingan itu bersatu, kompak. Kita selamatkan kapal besar kita kapal yang namanya republik ini mengarungi lautan yang penuh karang dan bahaya," paparnya.

