Pratikno Ungkap Pemudik Lebaran 2026 Berpotensi Tembus 155 Juta Orang
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah memprediksi jumlah pemudik pada Lebaran 2026 berada pada angka sekitar 143,9 juta orang. Namun, pemerintah memperkirakan jumlah pemudik akan melonjak sekitar 10% dari perkiraan atau mencapai 155 juta orang.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menjelaskan pemerintah akan menyiapkan antisipasi penumpukan pemudik di waktu bersamaan. Salah satunya dengan membangun sistem informasi terintegrasi untuk memandu masyarakat dalam memilih jadwal keberangkatan yang tepat.
Baca Juga
“Jadi nanti akan ada sistem informasi yang juga akan membantu masyarakat untuk memilih mudik pada tanggal berapa. Seperti bagaimana tadi disampaikan Pak Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), perkiraan surveinya itu adalah 143.915.000 orang,” kata Pratikno dalam konferensi pers di kantor KSP, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, realisasi pergerakan masyarakat umumnya lebih tinggi sekitar 10% dari angka survei. Lonjakan hingga 155 juta pemudik ini menjadi tantangan berat bagi infrastruktur transportasi jika distribusi keberangkatan tidak dikelola dengan baik.
"Artinya sudah menjadi 155-an juta manusia bergerak. Nah makanya kalau itu bergerak di waktu yang sama ini sangat berat,” ujar Pratikno.
Kolaborasi lintas kementerian dilakukan untuk memastikan kelancaran mudik Lebaran 2026. Salah satunya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Polri untuk menerapkan berbagai kebijakan, seperti pemberian insentif, diskon tarif, hingga skema buka-tutup jalur.
Langkah-langkah tersebut, kata dia, diharapkan mampu mendorong distribusi pemudik agar tidak terjadi kepadatan ekstrem pada satu titik waktu tertentu.
“Harapannya distribusi pemudik ini akan terjadi, tidak menumpuk di satu waktu tertentu,” ujar Pratikno.
Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan berdasarkan data hasil survei Kementerian Perhubungan menunjukkan potensi pergerakan masyarakat mencapai angka 143,9 juta perjalanan pada musim mudik tahun ini. Tujuan utama para pemudik diprediksi tertuju ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, disusul oleh Jawa Barat, Yogyakarta, hingga Sulawesi Selatan.
"Bisa dilihat ditinjau dari tujuan, maka yang paling banyak akan mudik ke arah Jawa Tengah dan Jawa Timur, lalu diikuti Jawa Barat, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan," katanya.
Simulasi data dari statistik tahun-tahun sebelumnya menunjukkan kepadatan arus berangkat akan terjadi dalam dua gelombang utama. Puncak arus mudik pertama diprediksi jatuh pada 14 dan 15 Maret 2026, sementara gelombang kedua diperkirakan terjadi pada 18 dan 19 Maret 2026.
"Diperkirakan puncak arus mudik itu akan jatuh di tanggal 14 dan 15 Maret. Kemudian puncak mudik kedua di tanggal 18 dan 19 Maret," ucap dia.
Baca Juga
Jelang Mudik, Puan Minta Pemerintah Mitigasi Biaya Transportasi dan Logistik
Sementara itu, untuk puncak arus balik, pemerintah memprediksi akan berlangsung pada 24 hingga 25 Maret 2026 serta periode kedua pada 28 sampai 29 Maret 2026. Pemerintah juga mendorong penerapan skema bekerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA) di antara periode tersebut. Strategi ini diharapkan mampu memecah konsentrasi massa agar tidak kembali ke kota asal secara bersamaan dalam satu waktu.
"Lalu untuk arus baliknya, puncaknya diperkirakan akan jatuh pada tanggal 24, 25 Maret, lalu yang kedua di tanggal 28 dan 29 Maret. Itu mengapa di tengah-tengahnya kita mengurai pakai stay dengan cara memberlakukan work from anywhere," kata dia.

