Didik Rachbini Kenang Pemikiran Try Sutrisno soal Pancasila dan Indonesia Kini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini menyampaikan dukacita atas wafatnya Wakil Presiden (Wapres) ke-6 RI Try Sutrisno, Senin (2/3/2026). Didik mengungkapkan, Indonesia kehilangan seorang negarawan yang terus menyemaikan semangat kebaikan dan melakukan kritik terbuka.
"Kita kehilangan satu lagi seorang negarawan, yang di masa tuanya terus menyemaikan semangat kebangsaan dan bahkan melakukan kritik terbuka," kata Didik dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).
Didik mengenang interaksinya dengan Try Sutrisno. Meskipun tidak bersahabat dekat, Try Sutrisno kerap menepuk-nepuk punggung Didik seakan sudah saling bersahabat. Menurutnya, peristiwa ini terjadi berkali-kali di dalam berbagai forum. Try Sutrisno juga selalu menyapa dengan senyum kepada Didik.
Baca Juga
Profil Try Sutrisno, Arek Suroboyo yang Jadi Wakil Presiden Ke-6 RI
Didik menduga, sikap itu menunjukkan Try Sutrisno mendengarkan kritik anak-anak muda di publik melalui media massa pada era 1990-an. Dengan demikian, Try Sutrisno memperhatikan siapa yang sering tampil di publik menyampaikan gagasan.
"Mungkin saya salah satu yang diingat dan ketika bertemu langsung saling menyapa seperti sudah saling berkawan dekat.Ini juga yang menyebabkan saya selalu memperhatikan gagasan-gagasan beliau yang dilontarkan di publik baik pada masa Orde Baru maupun pada masa reformasi," ungkapnya.
Didik menuturkan, Try Sutrisno masih terlihat sehat dan berpikiran jernih serta masih berpidato lantang di depan publik pada tahun lalu. Hal itu terjadi saat Try Sutrisno manyampaikan sambutan dalam acara Pembinaan Ideologi Pancasila dalam Rangka Peringatan 80 Tahun Membumikan Pancasila dan Peluncuran Pancasila Virtual Expo 2025 di Universitas Indonesia pada 21 Juli 2025.
Saat itu, Try Sutrisno menyampaikan kehidupan bangsa Indonesia cenderung berkarakter liberal yang mengikis moral dan etika kehidupan sesuai Pancasila. Demokrasi yang dijalankan mengarah ke westernisasi sebagai hasil amendemen empat kali UUD 1945 mengubah kehidupan bangsa secara mendasar.
"Kritik Pak Try ini menurut saya harus dipertimbangkan karena wajah Indonesia sudah liberal kapitalistik dan semakin jauh dari etika, moral dan sendi falsafah Pancasila," katanya.
Generasi muda Indonesia tidak lagi mengenal falsafah dasar bangsanya. Pancasila telah memudar dan tidak dijadikan dasar dalam UUD NRI 1945. Fakta ini, terlihat jelas terjadi inkonsestensi dan inkoherensi dengan Pembukaan UUD 1945. Menurut Try Sutrisno, kata Didik, pelaksanaan demokrasi sangat liberal bahkan lebih liberal dari sistem yang berlaku di Amerika Serikat.
"Amendemen UUD 1945 yang mendadak, bahkan tanpa kajian dan perenungan mendalam, banyak kelemahannya setelah dilaksanakan lebih dari dua dekade terakhir. Dengan demikian, beliau mengharapkan ada evaluasi dankaji ulang terhadap sistem ketatanegaraan yang mengacu pada UUD NRI 1945 hasil amendemen," paparnya.
Yang disayangkan, kata Didik, hilangnya pilar musyawarah bangsa di dalam ketatanegaraan Indonesia, yakni lenyapnya MPR sebagai perwujudan lembaga tertinggi negara. Dalam sistem liberal saat ini, tidak ada lagi MPR yang berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara pembuat GBHN yang merupakan musyawarah pikiran segenap elemen bangsa.
Akibatnya, rakyat Indonesia tidak lagi menjadi penentu arah kebijakan dan kehidupan negara Indonesia. Kini arah politik dibuat oleh partai politik yang ritme kehidupannya hanya berjangka pendek untuk menang setiap lima tahunan.
"Saya berpandangan bahwa kritik negarawan senior ini perlu untuk direnungkan sebagai diskursus penting dalam kehidupan bernegara. Menurut saya, hasilnya tidak ada lagi pemimpin negarawan, pemikir seperti Bung Karno, Hatta, Sjahrir dan kawan-kawan. Yang ada adalah pemburu rente, pedagang yang bertransaksi jangka pendek atau anak ingusan yang dipaksa menjadi pemimpin dengan merusak pilar konstitusi," paparnya.
Didik mengatakan, Try Sutrisno mencermati perjalanan dan pelaksanaan reformasi. Ke depan reformasi tidak bisa lagi berdasarkan prinsip liberal, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar keindonesiaan.
Try Sutrisno menekankan reformasi seharusnya berakar pada nilai diri bangsa Indonesia, bukan sekadar perubahan yang terpengaruh oleh gelombang luar liberalisasi.
"Semangat reformasi bukan westernisasi dan tidak boleh hanya menjadi retorika kebebasan, tetapi harus menguatkan integritas nasional dan nilai Pancasila," katanya.
Baca Juga
Sampaikan Duka atas Wafatnya Try Sutrisno, Kapolri: Selamat Jalan Pahlawan Bangsa
Try Sutrisno menyatakan praktik demokrasi tidak seharusnya melemahkan nilai-nilai moral, etika, dan falsafah Pancasila. Dalam pandangannya, demokrasi hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan kemerdekaan dan bukan tujuan akhir kehidupan bernegara. Untuk bangsa yang besar seperti Indonesia, evaluasi dan tinjkauan kembali terhadap prektik demokrasi dan kehidupan berbangsa sangat diperlukan agar sesuai dengan nilai dasar dan karakter bangsa Indonesia.
"Dengan sistem liberal seperti itu jangan diharapkan menghasilkan pemimpin yang baik untuk bangsa karena semuanya serba transaksi untuk kepentingan jangka pendek," ucapnya.

