Profil Try Sutrisno, Arek Suroboyo yang Jadi Wakil Presiden Ke-6 RI
JAKARTA, investortrust.id -- Wakil Presiden (Wapres) ke-6 RI Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno meninggal dunia pada usia 90 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Try Sutrisno lahir di Surabaya 15 November 1935. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Soebandi dan Mardiyah.
Try Sutrisno menyelesaikan pendidikan tingkat atas pada 1956. Di tahun yang sama, Try Sutrisno kemudian melanjutkan studi di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) Bandung. Lulus dari Atekad pada 1959, Try Sutrisno kemudian dilantik menjadi Letda Zeni pada 1 Oktober 1959.
Baca Juga
Sampaikan Duka atas Wafatnya Try Sutrisno, Kapolri: Selamat Jalan Pahlawan Bangsa
Try Sutrisno menikah dengan Tuti Setiawati. Dari pernikahan tersebut keduanya dikaruniai tujuh anak yakni Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santya Budi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari.
Dikutip dari Buku Profil Kasad ke-1 sampai dengan ke-26, diketahui Try Sutrisno mengawali karier militernya sebagai Danton Yon Zipur 2 di Palembang pada 1959. Dirinya kemudian menjabat Danton Zikon 2 Kodam IV/Swj (1962), Dankima Zikon (1963), Danki 2 Zipur 1 (1965), Wadan Denma Ditzi (1967), Wadan Yon Zipur 9 Para (1978). Ps Danyon Zipur 10/Ampibi (1970), Dan Yon Zipur 10/Ampibi (1970), Kepala Biro Suad 2/Ops (1972), Dan Yon Zipur 9 Para (1973). Dirinya juga pernah menjabat sebagai Ajudan Presiden RI (1974), Kasdam XVI Udayana (1978), Pangdam IV /Swj (1979), Pangdam Jaya (1982), Wakasad (1983) dan Kasad (1986-1988).
Try Sutrisno meraih pangkat letda pada 1959, dan berhasil naik pangkat menjadi lettu pada 1963. Dirinya kemudian menjabat sebagai menyandang pangkat kapten pada 1966. Kariernya terus moncer dan pada 1970 berpangkat mayor. Dua tahun kemudian dirinya meraih pangkat letkol.
Keberhasilannya dalam sejumlah penugasan mengantarkan Try Sutrisno memperoleh pangkat kolonel pada 1976. Dirinya juga berkesempatan melanjutkan pendidikan Seskogab pada 1977 dan Lemhannas pada 1978. Setelah itu, Try Sutrisno berpangkat Brigjen pada 1979. Ia kemudian meraih pangkat mayjen pada 1982 dan letjen 1985.
Ia kemudian berpangkat jenderal pada 1987 saat menjabat sebagai Kasad. Dirinya resmi menjabat Kasad ke-15 menggantikan Jenderal TNI Rudini pada 7 Juni 1986.
Selama mengabdi di TNI, Try Sutrisno telah melaksanakan sejumlah penugasan operasi militer. Beberapa di antaranya operasi penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta di Sumbar (1956), operasi penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh (1957), Operasi Trikora di Irian Jaya (1963), Operasi Dwikora (1964), Operasi Penumpasan pemberontakan G.30 S/PKI (1965) dan Operasi Seroja di Timor Timur (1974)
Sejumlah penghargaan/tanda jasa yang telah diterima Try Sutrisno, di antaranya Bintang RI Adipradana, Bintang Mahaputra Adipurna, Bintang Mahaputra Adipradana, Bintang Yudha Dharma Utama, Bintang Dharma, Bintang KEP Utama, Bintang Jalasena Utama, Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang KEP Pratama, Bintang KEP Nararya. SL GOM VII, SL Sapta Marga, SL Satya Dharma, SL Penegak, SL Seroja, SL Kesetiaan 24 Tahun, SL Wira Karya.
Baca Juga
Istana Sampaikan Duka atas Wafatnya Try Sutrisno: Salah Satu Putra Terbaik Bangsa
Selain penghargaan dari pemerintah Indonesia, Try Sutrisno juga meraih penghargaan dari luar negeri. Beberapa di antaranya Bintang Order of the Military Merits with Golden Star (Yugoslavia), Bintang Das Grosse Verdien Stkreuz Mit Stren (Jerman), Bintang The Most Noble Order of Thailand (Thailand), Bintang Commandeur de la Legion D Honneur (Perancis), Bintang Darjah Paduka Mahkota (Johor), BT Ereteken Voor Verdienste (Belanda), Bintang Legion of Merit (USA), Bintang Nisham-I-Imtiaz (Pakistan), Bintang Kepahlawanan Panglima Gagah Angkatan Tentara (Malaysia), Bintang Darjah Yang Mulia Pangkuan Negara (Malaysia).
Try Sutrisno kemudian menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pangab) periode 1988-1993. Pada 11 Maret 1993, Try Sutrisno dilantik sebagai wakil presiden menggantikan Wapres ke-5 Soedharmono. Ia menjabat sebagai wakil presiden hingga 11 Maret 1998 hingga digantikan BJ Habibie.

