Mendagri: Pemulihan Permanen Pascabencana Sumatra Butuh 2–3 Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengakui proses pemulihan permanen pascabencana di sejumlah wilayah Sumatra membutuhkan waktu hingga tiga tahun. Menurutnya saat ini pemerintah membedakan antara pemulihan fungsional dan pemulihan permanen.
“Kalau normalisasi penuh, mungkin kira-kira 2–3 tahun,” ujar Tito seusai rapat evaluasi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Baca Juga
Tak Hanya Sumatra, Pemerintah Pastikan Tangani Bencana di Seluruh Daerah
Tito menjelaskan, dalam dua bulan terakhir sebagian besar jalan nasional sudah kembali fungsional dan bisa dilalui. Namun, masih banyak jembatan yang bersifat sementara sehingga kapasitasnya belum maksimal. “Dua bulan juga normal, terutama kalau kita genjot masalah lumpurnya. Namun, normal fungsional (bisa digunakan sementara -red), bukan permanen,” tegas Tito.
Sebelumnya, satgas melaporkan sejumlah daerah masih masuk kategori atensi khusus karena indikator pemulihan belum sepenuhnya terpenuhi. Infrastruktur jalan kabupaten dan desa, fasilitas rumah ibadah, serta layanan air minum menjadi beberapa aspek yang masih perlu percepatan.
Di Aceh Tamiang misalnya, normalisasi sungai menjadi pekerjaan besar dengan panjang alur terdampak mencapai sekitar 24 kilometer. Pendangkalan dan sedimentasi membuat kapasitas sungai menyusut drastis dibandingkan sebelum bencana.
Selain itu, beberapa jembatan permanen dengan bentang panjang hingga ratusan meter membutuhkan perencanaan dan anggaran lebih besar. Tito menegaskan pembangunan jembatan dan jalan permanen memerlukan waktu karena harus melalui proses teknis dan penganggaran.
Baca Juga
PU Masih Butuh Rp 74,5 T untuk Bangun Infrastruktur Pascabencana Sumatra
Meski demikian, pemerintah memastikan akses logistik dan mobilitas masyarakat sudah kembali berjalan. Ke depan pemerintah akan mempercepat permanenisasi infrastruktur agar pemulihan ekonomi dan aktivitas sosial di wilayah terdampak dapat berlangsung optimal.

