AMSI: Media Lokal di Indonesia Hadapi Krisis Kepercayaan dan Keterbatasan Dana
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan finansial masih menjadi tantangan utama yang dihadapi media lokal di Indonesia. Direktur Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Elin Y Kristanti menegaskan, sebagian besar redaksi media lokal beroperasi dengan anggaran terbatas dan jumlah jurnalis yang minim, sementara mereka dituntut tetap menyajikan berita yang akurat dan menjangkau wilayah liputan yang luas.
“Media lokal sering kali berjuang dengan sumber daya yang kecil, tapi harapan terhadap mereka besar. Mereka harus meliput wilayah luas, memverifikasi fakta, dan tetap menyampaikan informasi ke publik,” kata Elin dalam diskusi Voice of Tomorrow bertajuk Local Journalism and Community Engagement, seperti dikutip, Kamis (13/11/2025).
Menurut Elin, ketimpangan aliran iklan juga memperburuk situasi. Sebagian besar anggaran periklanan masih terkonsentrasi di kota besar, sementara media lokal di daerah kecil kesulitan bertahan karena pelaku usaha setempat tidak memiliki dana untuk beriklan.
Baca Juga
Ketua Dewan Pers: Anugerah Jurnalistik Pertamina Jadi Inkubator Lahirnya Insan Pers Hebat
“Belakangan ini, ketika pemerintah memangkas anggaran bagi daerah, sumber pemasukan media lokal dari kerja sama dengan pemerintah daerah juga menurun drastis. Ini membuat mereka semakin sulit bertahan,” ujarnya.
Selain tantangan finansial, media lokal juga menghadapi tekanan besar dari ketergantungan terhadap platform digital. Di satu sisi, media sosial membantu menjangkau audiens yang lebih luas, tetapi di sisi lain menjadi jebakan berisiko tinggi. “Ketika algoritma berubah, media lokal bisa kehilangan visibilitas dan pendapatan dalam semalam. Berita mereka harus bersaing dengan konten viral dan clickbait,” ujar Elin.
Ia menambahkan, lemahnya infrastruktur digital di luar kota besar juga memperburuk keadaan. Banyak jurnalis di daerah yang belum mendapatkan pelatihan jurnalisme data, penceritaan multimedia, atau keamanan daring. Kondisi ini membatasi kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan perubahan industri media.
Elin menyoroti menurunnya kepercayaan publik terhadap media akibat maraknya misinformasi dan kelelahan informasi (information fatigue). Ia menegaskan, pemulihan kepercayaan masyarakat membutuhkan transparansi dan partisipasi aktif publik. “Kepercayaan itu adalah tantangan terbesar kita. Media lokal harus mendengarkan publik dan menghadirkan berita yang benar-benar relevan,” tuturnya.
Peran Media dalam Membangun Diskursus Publik
Sementara itu, Asisten Editor Senior Anandabazar Patrika Swati Bhattacharjee menekankan pentingnya peran media dalam membangun diskursus publik yang berkelanjutan, bukan sekadar menyampaikan informasi sesaat. “Jurnalisme seharusnya menjadi penggerak dialog sosial yang menghubungkan fakta, opini, dan kebijakan publik secara menyeluruh,” ujarnya.
Swati menjelaskan bahwa diskursus media berbeda dengan percakapan biasa. “Segala perbicaraan bukan diskursus. Diskursus harus membicarakan fakta dan pendapat dengan ide serta target tertentu,” katanya.
Baca Juga
Jurnalis India dan Indonesia Bahas Peran Media dalam Membingkai Dinamika Geopolitik Modern
Ia menilai, media sering terjebak dalam pemberitaan sempit yang hanya menyoroti satu aspek permasalahan tanpa melihat konteks besar. Misalnya, ketika membahas anak putus sekolah, media hanya menyoroti dana pendidikan, padahal faktor lain seperti kurikulum, metode pengajaran, hingga kondisi ekonomi keluarga juga memengaruhi. “Tugas media bukan hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga menjaga agar dialog publik tetap hidup dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Swati, dengan memperkuat peran sebagai penjaga diskursus publik, media dapat memperluas wawasan masyarakat dan berkontribusi pada perubahan sosial yang berkelanjutan.

