Penyintas Tragedi Tanjung Priok Nilai Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Ketidakadilan
JAKARTA, Investortrust.id -- Penyintas Tragedi Tanjung Priok 1984, Amanatun Najariyah menolak wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Ia menilai pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto merupakan bentuk ketidakadilan.
"Saya tidak rela kalau Soeharto itu dijadikan pahlawan, karena saya sendiri sampai sekarang tidak mendapatkan pengadilan yang hak untuk diri saya," kata Amanatun dalam diskusi di Jakarta, Rabu, (5/11/2025).
Baca Juga
Prabowo Terima 49 Nama Calon Pahlawan Nasional, Ada Soeharto dan Gus Dur
Amanatun adalah saksi sekaligus korban kekerasan aparat militer dalam peristiwa berdarah di Tanjung Priok. Saat itu, Amanatun ditangkap hanya karena membela kakaknya yang ditahan tanpa adanya surat perintah.
Amanatun menceritakan pernah dijebloskan ke kantor polisi sampai pagi. Dirinya juga melihat penyiksaan yang dilakukan kepada teman-temannya.
Ketika itu, Amanatun mengaku mendapat perlakuan tidak manusiawi. Salah satunya aparat memberikan makanan kepadanya dengan cara dilempar. Amanatun kemudian dibawa ke komando distrik militer (kodim) dan sempat ditelanjangi.
"Pas di kodim, saya juga sempat ditelanjangi. Saya melawan, melindungi diri. Tadinya mau ditelanjangi di hadapan teman laki-laki semuanya," ucapnya.
Amanatun menyebut saat peristiwa tersebut terjadi dirinya masih berusia 27 tahun. Dirinya menjadi saksi bagaimana banyak korban Tragedi Tanjung Priok lain dibunuh tanpa proses hukum.
"Di Priok itu (korban) dilindas pakai tank, bekasnya remuk sekali dan sudah jadi serpihan-serpihan," katanya.
Baca Juga
Pakar Sebut Wacana Soeharto Jadi Pahlawan Nasional sebagai Alarm bagi Demokrasi
Ia memandang pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto sama saja dengan menutup mata atas penderitaan korban Tragedi Tanjung Priok dan keluarga mereka. Menurutnya, pengakuan terhadap Soeharto sebagai pahlawan akan melukai hati para korban yang belum mendapatkan keadilan.
"Dengan kondisi seperti itu, pantaskah seorang pemimpin, seorang negarawan kemudian memperlakukan rakyatnya seperti itu? Terus dia punya kebaikan yang satu, terus dijadikan pahlawan, tapi semua perbuatannya jelek, apa bisa masuk akal tidak kalau dia itu seorang pahlawan?" ungkapnya.

