Jurnalis India dan Indonesia Berbagi Ilmu Terkait Gender Reporting
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- India News Desk melalui program Voice of Tommorow menggelar diskusi secara daring dengan tema gender reporting pada Sabtu (6/9/2025). Diskusi tersebut diisi oleh dua jurnalis berpengalaman, yakni Pemimpin Redaksi & COO Solopos Media Group (SMG) Rini Yustiningsih, dan Reporter Ignites Asia Financial Times Amy Sood.
Amy menerangkan, tujuan utama dari pelaporan sensitif gender adalah untuk memperkuat suara masyarakat marginal. Dengan melakukan ini, jurnalis dapat membantu perempuan memperoleh representasi yang lebih baik di media dan memiliki peran dalam pengambilan keputusan.
"Penting bagi kita sebagai jurnalis untuk melakukan itu dan memikirkan, apa saja isu di komunitas saya, di kota saya, di negara saya yang mungkin tidak mendapatkan liputan seharusnya, apakah ini melibatkan perempuan, apakah melibatkan gender minoritas, bagaimana kita mampu membentuk wacana publik," kata Amy Sood beberapa waktu lalu.
Dalam menulis terkait isu gender, jurnalis diharapkan tidak hanya menulis tentang isu perempuan secara umum, tetapi perlu juga memperluas cakupan mereka. Karena itu penting juga dipikirkan bagaimana pembingkaian konten itu perlu dilakukan.
Baca Juga
Indonesia Genjot Pasar Wisata India Lewat Business Matching dan ITB India 2025
"Sangat penting bagi anda untuk menulis tentang tantangan dan isu yang dihadapi perempuan, tetapi kita ingin selalu membuat cerita yang berpusat pada perempuan dan gender dengan fokus pada korban, tetapi penting juga memberi kesempatan kepada para perempuan yang meraih kesuksesan, yang mendobrak batasan-batasan tradisional," ujarnya.
Sementara itu Rini Yustiningsih menyoroti masih sedikitnya jumlah jurnalis perempuan di Indonesia. Dari 10 jurnalis, hanya 2-3 diantaranya yang merupakan perempuan.
"Kalau kita lihat datanya PPMN itu di kisaran 30%, AJI yang data 2021 itu 20 persen, tapi catatannya itu di Jakarta," ucapnya.
Menurut Rini minimnya jurnalis perempuan berdampak pada sudut pandang berita yang menempatkan perempuan sebagai korban ketika ada kasus pelecehan. Menurutnya kehadiran jurnalis perempuan mendorong perspektif gender.

