Jurnalis India dan Indonesia Tukar Ilmu Mengubah Angka Menjadi Cerita
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Kedutaan Besar India dan India News Desk kembali menggelar sesi diskusi secara daring dengan tema Data Journalism: Finding Stories in Number pada Sabtu (25/9/2025). Mentor yang dihadirkan dalam sesi kelima program India Voices of Tomorrow kali ini yaitu jurnalis Bloomberg asal India Nitin Jaiswal dan CEO Investortrust.id Primus Dorimulu.
Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty mengatakan bahwa tema pada sesi kali ini menarik mengingat angka dapat menjelaskan sebuah cerita dan dapat juga menyembunyikannya. Karena itu para mentor diharapkan dapat menjelaskan bagaimana meramu sebuah cerita yang menarik dari sebuah angka-angka yang disajikan.
"Saya pikir orang-orang seperti Primus dan Nitin adalah orang-orang yang dapat mengubah angka dan menciptakan cerita," kata Sandeep.
Jurnalis Bloomberg asal India, Nitin Jaiswal mengatakan dalam menuliskan data berupa angka, seorang jurnalis saat ini harus bisa menuliskannya agar dimengerti secara global. Berbeda dengan era media cetak, media online saat ini harus bisa membuat data menjadi relevan bagi seluruh masyarakat dunia.
"Semua yang anda tulis hari ini menjadi global," ucap Nitin.
Nitin kemudian menyarankan untuk menggunakan satu data sebagai jangkar. Hal itu penting dilakukan untuk menghindari kelebihan angka yang justru mengurangi pemahaman.
Kemudian Nitin juga menyoroti soal rentang perhatian dan rule of three. Ia mengatakan beberapa konsep besar selalu dirumuskan dalam tiga pesan, misalnya seperti "dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat", atau "veni, vidi, vidi".
"Mengapa hanya tiga pesan? mengapa tidak lima? hanya karena otak manusia telah diakui bahwa pikiran manusia dapat melengkapi dan memahami hanya tiga set point data atau informasi. Di luar itu menjadi tidak relevan," ungkapnya.
CEO Investortrust Primus Dorimulu menjelaskan bahwa jurnalisme data bukan sekadar penyajian angka, melainkan bagian dari jurnalisme verifikasi. Angka-angka yang ada diuji untuk kemudian diberi makna.
"Fakta adalah suci, untuk mengetahui fakta itu kita melakukan verifikasi agar kita tidak terjatuh pada rumus pada hoaks," ujarnya.
Primus kemudian menekankan pentingnya verifikasi dan cover both side. Selain itu Primus mengingatkan juga pentingnya wartawan melakukan cross check dan menelusuri hingga ke sumber utama.
Primus juga menjelaskan soal jurnalisme positif. Ia menyebut jurnalisme positif bukan berarti menutupi masalah, melainkan menampilkan aspek solusi dari setiap peristiwa, memberi manfaat kepada publik, dan menumbuhkan optimisme. Ia mencontohkan bagaimana peristiwa jatuhnya pesawat tidak membuat orang takut naik pesawat, jurnalis harus mampu membaca data kecelakaan yang ada.
"Kita harus melihat data bahwa dari statistik di Indonesia kecelakaan paling besar adalah sepeda motor bukanlah pesawat, kedua mobil, yang paling aman adalah pesawat, bahkan di dunia transportasi yang paling aman pesawat," jelasnya.

