Teka-Teki Pengisi Kursi Dubes RI untuk AS, Pengamat: Terlalu Lama Kosong
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, memberikan sorotan terhadap teka-teki kosongnya kursi duta besar (Dubes) Indonesia untuk Amerika Serikat (AS). Ia mendorong pemerintah bersama parlemen agar segera menunjuk dubes baru yang akan berkantor di Washington.
Menurut Adi, Amerika Serikat adalah negara strategis sehingga penting bagi Indonesia untuk segera memiliki seorang dubes di sana. Ia menyebut dubes Indonesia untuk AS mestinya seseorang yang memiliki pergaulan internasional yang luas. Terlebih, lanjutnya, di tengah situasi global yang serba dinamis dan kian tidak menentu.
"Untuk Amerika ini adalah syaratnya harus kompeten, yang punya daya jelajah, intelegensia dan kemampuan diplomasi di atas rata-rata. Siapapun orangnya, itu yang bagi saya penting secara prinsip," kata Adi kepada Investortrust saat ditemui di Jakarta, Jumat (4/7/2025).
Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengatakan, urgensi adanya sosok dubes untuk AS semakin genting lantaran kini dunia kerap disugui oleh manuver-manuver kebijakan yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump. Ia berujar manuver oleh Trump itu kian menimbulkan ketidakstabilan geopolitik dan geoekonomi global.
"Tapi bagi saya sejarah prinsip, ini terlalu lama, terlalu lama kekosongan ini," sebutnya.
Baca Juga
Komisi I Dijadwalkan Gelar Fit and Proper Test Calon Dubes Akhir Pekan Ini
Sosok Pengisi Kursi Dubes Indonesia untuk AS
Berdasarkan sumber yang diterima Investortrust, salah satu nama yang diisukan mengisi kursi dubes Indonesia untuk AS adalah Airlangga Hartarto, yang kini menjabat sebagai menteri Koordinator bidang Perekonomian. Ketika ditanyakan perihal potensi Airlangga menduduki kursi dubes untuk AS, pengamat politik Adi Prayitno menjawab singkat.
Adi menyebut sosok Airlangga memiliki kompetensi secara personal.
"Ya dia (Airlangga) memiliki pergaulan internasional yang luas," jawabnya.
Secara umum, Adi Prayitno menjabarkan ada dua syarat mutlak bagi calon pengisi kursi kosong dubes Indonesia untuk AS. Syara tersebut adalah yang pertama, mendapatkan rekomendasi pemerintah Indonesia dan yang kedua diterima oleh negara tujuan.
"Nah, apakah (Airlangga) memenuhi syarat ataupun tidak, tentu kita tidak tahu. Pasti negara-negara tujuan yang akan ditempatkan dubes itu pasti dia punya profiling terkait dengan siapa kandidat yang layak," jelasnya.
Selain Airlangga, nama-nama lain yang dikabarkan bakal mengisi kursi dubes Indonesia untuk AS antara lain Menteri Luar Negeri 2009-2014 Marty Natalegawa dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu.
Bahkan saat ini beredar sejumlah nama-nama yang dissebut-sebut bakal ditempatkan di pos kedubes di sejumlah negara sahabat. Yang Menarik, nama yang tercantum untuk pos Washington DC, atau dubes Indonesia untuk AS adalah Dwisuryo Indroyono Soesilo, yang sama sekali tidak pernah beredar dalam rumor-rumor di awak media.
Baca Juga
Pembahasan Calon Dubes RI Digelar Tertutup dan Bersifat Rahasia
Nama yang muncul terakhir ini sejatinya bukan orang baru di pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menko Kemaritiman pada era Kabinet Kerja pimpinan Joko Widodo pada 27 Oktober 2014. Namun ia tak lama duduk di posisi tersebut, karena 10 bulan berikutnya ia digantikan oleh Rizal Ramli.
Seperti diketahui jabatan kursi dubes Indonesia untuk AS telah kosong sejak tanggal 17 Juli 2023 atau setelah Rosan Perkasa Roeslani ditunjuk oleh Presiden ke-7 Joko Widodo menjadi wakil menteri BUMN.
DPR Bantah Rahasiakan Calon Dubes
Ketua DPR Puan Maharani membantah DPR tertutup dalam memproses calon duta besar (dubes) RI untuk negara sahabat. Puan menyebut, secara aturan tata tertib DPR, nama calon dubes RI untuk negara sahabat dan organisasi internasional tidak diumumkan dalam rapat paripurna. Pimpinan DPR hanya membacakan surat presiden terkait permohonan pertimbangan calon dubes RI.
"Jadi memang karena aturannya seperti itu. Jadi enggak ada rahasia-rahasiaan dalam artian rahasia, itu aturan dalam tata tertib," kata Puan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/7/2025).
DPR telah menunjuk Komisi I DPR untuk menggelar fit and proper test untuk menilai sosok calon dubes yang diajukan pantas atau tidak.
"Ini menyangkut nama seseorang, jadi itu ranah Komisi I DPR untuk menyebutkan bagaimana orang tersebut apakah bisa lanjut dari calon menjadi duta besar atau tidak, ya silakan nanti. Jadi sampai proses itu, ya sebaiknya, ya bukan kemudian sepertinya rahasia tertutup. Kita menghormati nama tersebut," ujar Puan.

