Diwarnai Nyanyian "Cikini ke Gondangdia" oleh Dubes Inggris, Gubernur DKI Membuka Jakarta Urban Mobility Festival 2025
Jakarta, Investortrust.id — Kemacetan di Jakarta telah menimbulkan kerugian hingga Rp 71,4 triliun per tahun. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey yang membawakan sambutannya dalam bahasa Indonesia sebelum acara pembukaan Jakarta Urban Mobility Festival 2025 di Jakarta. Dominic yang telah lama berteman dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan sempat menyanyikan lagu pop Indonesia "Jakarta ke Gondangdia" di hadapan hadirin pada Jakarta Urban Mobility Festival 2025 di pelataran Pasaraya Blok M, Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Sesudahnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sambil melontarkan gurauan kepada Dominic dalam sambutannya, mengemukakan ide untuk memulai mendorong masyarakat menggunakan kendaraan umum dan memperbanyak bis listrik, mengembangkan jaringan transportasi JakLingko hingga ke wilayah Jabodetabek karena menurutnya kemacetan di Jakarta juga dikontribusikan oleh arus lalu lintas dari Wilayah sekitar Jakarta.
Sebagai salah satu kota termacet di dunia, Jakarta masih sangat bergantung pada kendaraan bermotor pribadi. Hal ini menyebabkan kemacetan harian, produktivitas yang hilang, dan kualitas udara yang memburuk. Biaya ekonomi akibat kemacetan diperkirakan mencapai Rp65 triliun per tahun (JICA, 2023), sementara emisi dari sektor transportasi menyumbang 67,3% PM2.5 dan 72,4% NOx, yang menyebabkan dampak kesehatan serius dan kerugian kesehatan masyarakat sebesar Rp41 triliun per tahun (DLH 2020; Syuhada et al., 2023).
Jakarta Urban Mobility Festival 2025 yang dibuka secara resmi oleh Pramono Anung, Dominic Jermey dan Direktur ITDP Indonesia Gonggomtua Sitanggang merupakan wadah edukasi, advokasi, dan keterlibatan publik terkait solusi transportasi berkelanjutan dan diinisiasi oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia bekerja sama dengan UK PACT (UK Partnering for Accelerated Climate Transitions) melalui Kedutaan Besar Inggris Jakarta.
Selain diskusi kebijakan, Jakarta Urban Mobility Festival 2025 dirancang sebagai pengalaman publik yang menarik dan menghadirkan pameran interaktif, instalasi visual, lokakarya, dan diskusi pakar yang berfokus pada mobilitas inklusif dan desain kota yang berpusat pada pejalan kaki serta pesepeda.
ITDP berharap festival ini dapat menjadi bagian penting dari upaya penyuluhan publik untuk membangun dukungan terhadap strategi manajemen kebutuhan transportasi (Traffic Demand Management/TDM)—solusi yang mungkin awalnya kurang populer, tetapi terbukti di berbagai belahan dunia mampu mengurangi kemacetan, memperbaiki kualitas udara, dan menjadikan kota lebih nyaman untuk dihuni.
“Jakarta sebagai kota aglomerasi dengan mobilitas tinggi, tengah berada dalam fase transformasi menjadi Pusat Perekonomian Nasional dan Kota Global. Saat ini, pembangunan Jakarta berfokus pada beberapa aspek utama, di antaranya adalah bisnis dan ekonomi; lingkungan berkelanjutan; serta infrastruktur dan mobilitas. Kami meyakini bahwa pembangunan pada aspek infrastruktur dan mobilitas melalui penyediaan sistem layanan transportasi publik yang terintegrasi dan berkelanjutan, akan menjadi salah satu game changer dalam mewujudkan Jakarta menuju kota global yang berdaya saing.” Tutur Pramono Anung.
Jakarta memiliki cakupan layanan transportasi publik yang sangat luas. Berdasarkan data Dinas Perhubungan, pada tahun 2025, Transjakarta sebagai moda transportasi publik berbasis jalan, telah melayani 85,4% wilayah Jakarta dan menjangkau 91,6% populasi penduduk. Selain Transjakarta, kehadiran MRT Jakarta dan LRT Jabodebek turut meningkatkan aksesibilitas pergerakan penduduk Jakarta, bahkan komuter yang berasal dari kota-kota di sekitar Jakarta. Namun, kemacetan dan tingginya pergerakan penduduk yang menggunakan kendaraan pribadi untuk beraktivitas di Jakarta masih menjadi tantangan besar.
“Dalam upaya mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di jalan raya dan mendorong penggunaan transportasi publik, Pemprov DKI Jakarta bersinergi dengan para stakeholders untuk meningkatkan aksesibilitas melalui penyediaan moda angkutan umum yang nyaman, aman dan ramah lingkungan,” tambah Gubernur Pramono.
Pemerintah Provinsi Jakarta telah mencatatkan kemajuan yang signifikan—seperti membangun 212 km trotoar, 196,5 km jalur sepeda, dan cakupan transportasi umum sebesar 78,4% di seluruh kota (ITDP, 2022). Namun, penggunaan transportasi umum tetap rendah, hanya 10%, jauh dari target 2045 sebesar 55%. Mencapai target ini membutuhkan kebijakan manajemen kebutuhan transportasi (TDM) yang kuat, termasuk penerapan Kawasan Rendah Emisi (Low Emission Zones/LEZ), Jalan Berbayar Elektronik (Electronic Road Pricing/ERP), dan reformasi parkir.
Sependapat dengan Gubernur DKI, Direktur ITDP, Gonggomtua Sitanggang mengatakan “Kebijakan Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas (MKLL) adalah strategi jangka menengah hingga panjang untuk mengatasi kemacetan dan polusi udara dari sektor transportasi, yang memerlukan perencanaan matang dan penerapan bertahap. Sambil menyiapkan itu, Pemprov DKI dapat memulai dari hal yang paling berdampak: memperkuat layanan transportasi publik yang inklusif dan terintegrasi—secara kelembagaan, tarif, dan infrastruktur—khususnya bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, lansia, perempuan, dan anak-anak".
“Saat ini, push policy di Jakarta sudah ada, yaitu pembatasan lalu lintas kendaraan ganjil genap, tetapi belum optimal. Kehadiran studi dari ITDP diharapkan dapat mendorong implementasi kebijakan MKLL yang lebih kuat , seperti KRE, ERP, dan manajemen parkir untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor pribadi dan meminimalisasi polusi.”
Ia berharap, kegiatan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat mengenai kebijakan MKLL, serta beragam manfaat yang akan dirasakan bersama oleh warga Jakarta dan warga yang beraktivitas di Jakarta. Sebagai contoh, manajemen parkir yang tepat akan mengoptimalkan fungsi ruang untuk aktivitas manusia. Zonasi manajemen parkir berpotensi mengalihkan fungsi ruang untuk hunian hingga mencapai 56.000 unit apartemen tipe studio di Jakarta.
Sementara untuk strategi KRE, implementasi kebijakan ini akan mendorong penurunan polusi udara yang memberikan manfaat ekonomi berupa penurunan angka kematian akibat penyakit pernapasan hingga Rp37,9 miliar secara kumulatif pada 2030.
Selain itu, pada kebijakan ERP, penurunan volume lalu lintas kendaraan bermotor pribadi akan memberikan manfaat ekonomi sebesar Rp1,1 triliun per tahun, penurunan polusi udara dan penurunan tingkat kecelakaan lalu lintas. Kebijakan ERP juga memberikan tambahan pendanaan setidaknya mencapai Rp250 miliar per tahun yang dapat digunakan untuk pengembangan layanan transportasi umum serta infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda.
“Harapannya, melalui peningkatan layanan transportasi umum dan penerapan kebijakan MKLL, pemerintah dapat menciptakan ekosistem yang mendorong masyarakat untuk beralih ke transportasi umum,” jelas Gonggomtua.
Mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor pribadi dan meningkatkan kapasitas serta kualitas layanan transportasi umum akan menguntungkan semua penduduk, termasuk mengurangi kemacetan, memperbaiki kualitas udara, serta menyediakan lebih banyak waktu untuk keluarga dan kesejahteraan. Hal ini juga akan membuat berjalan kaki, bersepeda, dan berkomuter menjadi lebih nyaman, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan komunitas berpenghasilan rendah.
Dominic Jermey menekankan pentingya transportasi umum untuk kemajuan Jakarta. “Transportasi umum berkelanjutan adalah salah satu alat paling efektif yang kita miliki untuk membangun kota yang lebih bersih, lebih inklusif, dan lebih terhubung. Ini membantu mengurangi emisi, meredakan kemacetan, dan meningkatkan akses ke pekerjaan, pendidikan, dan layanan-layanan yang penting, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi sambil mengatasi perubahan iklim. Inggris bangga mendukung Pemerintah Provinsi Jakarta dalam upayanya menciptakan masa depan di mana lebih banyak orang memilih transportasi umum, bukan hanya karena lebih baik bagi planet ini, tetapi juga karena membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih mudah, sehat, dan terjangkau bagi semua.” Kata Jermey.
Jakarta Urban Mobility Festival 2025 terbuka untuk umum dari tanggal 24-26 April.

