Menelusuri Warisan Cinta, Intelektual, dan Demokrasi di Wisma Habibie-Ainun
JAKARTA, Investortrust.id - Wisma Habibie-Ainun (WHA) akan dibuka untuk umum pada Februari mendatang. Kediaman Presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie dan Ibu Negara Hasri Ainun Habibie itu telah siap menginspirasi pengunjung melalui kisah perjalanan hidup keduanya. Ada cinta, intelektual, dan demokrasi.
Pengunjung akan menikmati tur sejarah selama satu jam. Seorang pemandu siap menyertai. Tur sejarah dimulai dari Ruang Bhinneka yang terletak di pintu masuk utama WHA. Ruang Bhinneka merepresentasikan akar budaya masyarakat Indonesia.
Baca Juga
Legenda Jaz Rayakan HUT RI Ke-78 di The Habibie & Ainun Library
Lantai ruangan tersebut dihiasi ornamen yang menggambarkan peta kepulauan Indonesia dengan flora dan fauna laut, sedangkan langit-langit Ruang Bhineka dihiasi kekayaan flora dan fauna darat serta udara.
Tidak hanya itu, di setiap sudut Ruang Bhinneka juga terdapat lima panel yang menggambarkan budaya Indonesia, antara lain Gunungan (Jawa), Kapal Pinisi (Sulawesi), Rumah Gadang (Sumatera), Batang Garing (Kalimantan), dan Ukiran Suku Asmat (Papua).
Pengunjung kemudian diajak masuk lebih dalam, yakni Selasar Religi. Terdapat sejumlah panel keagamaan, meliputi Hindu-Budha, Islam, hingga Kristen. Panel tersebut memvisualisasikan keberagamaan agama yang hidup berdampingan secara harmonis.
Salah satu ruangan ikonik WHA adalah perpustakaan pribadi milik Habibie yang menyimpan ribuan koleksi buku. Sebelum menuju perpustakaan, pengunjung akan melintasi Jembatan Pencerahan. Jembatan Pencerahan merupakan simbol penghubung antara iman dan taqwa (Imtaq) dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).
"Ini menggambarkan Laut Merah yang dibelah pada cerita Nabi Musa membelah lautan," kata pemandu tur, Hans kepada wartawan.
Setelah melalui Jembatan Pencerahan, pengunjung akan dibuat takjub oleh ruang perpustakaan yang dihiasi lampu gantung bergaya klasik. Sebanyak 5.000 buku tersimpan rapi di rak buku yang terdiri atas dua lantai.
Tidak hanya buku, terdapat pula lukisan Habibie-Ainun semasa muda karya Basuki Abdullah. Selain itu, miniatur pesawat N250 dan CN235 juga dipamerkan di ruang perpustakaan tersebut.
Baca Juga
Ma'ruf Amin Beberkan 4 Peran Besar BJ Habibie bagi Rakyat Indonesia
Pengunjung pun diajak melihat Taman Intelektual. Terdapat patung-patung yang melambangkan nilai-nilai intelektualitas, seperti patung The Thinker karya Rodin, The Thinker versi cycladic, patung Ganesha, dan Patung Bodhisattva.
Saksi Bisu Jelang Pelantikan
Ruang ikonik lainnya yang disuguhkan WHA adalahruang Pendopo. Area Pendopo dibangun pada 1978, sedangkan aulanya dibangun pada 1992. Ruangan tersebut menjadi tempat Habibie bertemu tamu kenegaraan maupun tamu pribadi. Ruangan itu juga menjadi saksi bisu menjelang pelantikan Habibie sebagai Presiden ke-3 RI.
Di ruangan yang didominasi hiasan ornamen kayu jati tersebut, pengunjung akan mendengar langsung suara Habibie ketika mengucapkan sumpah jabatan sebagai Presiden.
Terdapat foto Presiden Habibie saat dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998. Di sudut ruangan terdapat rak kaca berukuran cukup besar berisi lencana penghargaan yang diterima Presiden Habibie semasa hidupnya.
Pengunjung juga berkesempatan melihat ruang memorial, tempat Habibie dan Ainun disemayamkan sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Para pengunjung diberi kesempatan mengheningkan cipta di ruangan tersebut.
Baca Juga
Terakhir, pengunjung diajak ke Foyer Pendopo. terdapat sejumlah lukisan karya pelukis asal Sumatra Barat, Maria Tjui. Meja di Foyer Pendopo juga menjadi saksi bisu pertemuan kabinet terakhir Orde Baru.
Putra Sulung pasangan Habibie dan Ainun, Ilham Akbar Habibie yang turut hadir dalam peresmian WHA mengungkapkan, kediaman ayahnya tersebut bukan hanya sebagai landmark sejarah, tetapi juga rumah. Ilham mengenang secara baik setiap sudut di rumah tersebut.
"Di sebelah sana sebelum pendopo dulu adalah lapangan badminton kami pada 1980-an, kemudian dibangun pendopo. Itu adalah tempat yang sangat historis. Pertemuan acara makan malam, terima tamu, semua di situ," kenang Ilham.
Kisah senada disampaikan Duta Wisma Habibie-Ainun, Nadia Habibie. Bagi Nadia, rumah tersebut menjadi saksi perjalanan cinta Habibie-Ainun yang penuh inspirasi, termasuk dedikasi mereka dalam membangun demokrasi di Indonesia.
Nadia berharap tur sejarah yang disajikan dapat menginspirasi para generasi muda di Indonesia. "Kami berharap para tamu dapat menikmati perjalanannya di Wisma Habibie-Ainun. Semoga kisah, cinta, dan cita-cita yang Anda temui di sini menyalakan semangat inspirasi untuk menjalankan hidup yang lebin bermakna," ucap cucu BJ Habibie tersebut. (C-14)

