Prabowo Disebut "Reinkarnasi" Bung Karno, Ini Isi Pidato Lengkap Pertamanya setelah Menjadi Presiden
JAKARTA, investortrust.id - Prabowo Subianto menyampaikan pidato pertamanya sesaat setelah dilantik menjadi Presiden. Gaya orasinya yang heroik, patriotik, menggebu-gebu, dengan diksi-diksi yang kuat, mengingatkan bangsa ini kepada Presiden pertama RI, Bung Karno. Bahkan, di media sosial, Prabowo ramai disebut sebagai reinkarnasi Bung Karno.
Dalam pidato pelantikannya sebagai presiden ke-8 RI di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2024), Prabowo juga berkali-kali menyebut nama Bung Karno, salah satu tokoh yang sangat dikaguminya.
Baca Juga
Prabowo Optimistis Indonesia bisa Hadapi Berbagai Tantangan Global ke Depan
Prabowo, yang mengenakan beskap dan celana bahan warna biru, berpeci hitam, dan berkain songket merah motif emas yang dililitkan di pinggang, berpidato selama 52,49 menit. Berkali-kali ia mendapat aplaus dan tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) dari hadirin. Begini isi pidato lengkap Prabowo Subianto:
"Hari ini kita mendapatkan kehormatan yang sangat besar pada acara pelantikan presiden dan wakil presiden RI. Hari ini kita dihadiri 19 kepala negara dan 19 kepala pemerintah serta 15 utusan khusus negara-negara sahabat lainnya.
Tokoh-tokoh dari negara sahabat ini terbang dari tempat yang jauh di tengah kesibukan, di tengah banyak masalah yang dihadapi, mereka datang ke sini untukmenghormati bangsa dan rakyat Indonesia.
Karena itu, atas nama seluruh bangsa dan rakyat Indonesia,saya ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua kepala pemerintahan, kepala negara, dan perwakilan negara sahabat yang hadir di sini.
Saudara-saudara, beberapa saat yang lalu, di hadapan Majelis yang terhormat ini, di hadapan seluruh rakyat Indonesia,dan yang terpenting di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa, Allah, saya Prabowo Subianto dan Saudara Gibran Rakabuming Raka telah mengucapkan sumpah untuk mempertahankan UUD kita, untuk menjalankan semua UU dan peraturan yang berlaku, untuk berbakti kepada negara dan bangsa.
Sumpah tersebut akan kami jalankan dengan sebaik-baiknya, dengan penuh rasa tanggung jawab dan semua kekuatan yang ada pada jiwa dan raga kami.
Kami akan menjalankan kepemimpinan pemerintahan RI, kepemimpinan negara dan bangsa Indonesia dengan tulus, dengan mengutamakan kepentingan seluruh rakyat Indonesia, termasuk mereka yang tidak memilih kami. Kami akan mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia di atas segala golongan, apalagi kepentingan pribadi kami.
Baca Juga
Bahas Pemberantasan Korupsi, Prabowo Singgung Soal Ikan Busuk Dimulai dari Kepala
Tantangan, rintangan, hambatan, dan ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia di tengah dinamika dan pergulatan dunia tidak ringan. Kita paham, kita mengerti bahwa karunia yang diberikan oleh Yang Mahakuasa kepada kita sungguh sangat besar dan beragam.
Kita memiliki luas wilayah daratan dan lautan yang sangat besar, kekayaan alam yang sangat besar. Kita mengerti bahwa sumber alam ini terdiri atas sumber-sumber alam yang sangat penting untuk kehidupan manusia di abad ke-21 dan seterusnya.
Namun, di tengah segala karunia tersebut, di tengah kelebihan yang kita miliki yang memang membuat kita harus mengahadapi masa depan dengan optimis, kita pun harus berani untuk melihat tantangan, rintangan, ancaman, dan kesulitan yang ada di hadapan kita.
Saya selalu mengajak saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air untuk menjadi bangsa yang berani, bangsa yang tidak takut tantangan, bangsa yang tidak takut rintangan, bangsa yang tidak takut ancaman.
Sesungguhnya sejarah kita adalah sejarah dengan penuh kepahlawanan, penuh pengorbanan, penuh keberanian, tidak hanya pemimpin-pemimpinnya, tetapi keberanian rakyat kita menghadapi segala tantangan, bahkan invasi-invasidari bangsa lain.
Kita paham dan mengerti bahwa kemerdekaan kita bukan hadiah. Kemerdekaan kita didapat dengan pengorbanan yang sangat besar. Kita harus paham dan ingat selalu bahwa pengorbanan yang paling besar adalah pengorbanan dari rakyat kita yang paling miskin, wong cilik, yang berjuang, yang memberi makan kepada pejuang-pejuang.
Janganlah kita lupa, waktu kita perang kemerdekaan, kita tidak punya anggaran APBN. Pasukan kita tidak digaji. Siapa yang memberi makan kepada kita? Yang memberi makan adalah para petani di desa-desa, para nelayan, para pekerja, terus-menerus mereka yang mendirikan NKRI.
Baca Juga
Antisipasi Kemungkinan Terburuk, Prabowo Fokus Swasembada Energi
Sekarang saya mengajak saudara-saudara, terutama unsur pimpinan dari semua kalangan, dari kalangan cendekiawan, ulama, pengusaha, pemimpin politik, pemuda dan mahasiswa, mari kita berani menghadapi tantangan-tantangan tersebut.
Tantangan yang besar yang kita hadapi ada yang berasal dari luar kita. Tapi kita harus berani mengakui, banyak tantangan kesulitan rintangan yang berasal dari diri kita sendiri. Ada tantangan dan kesulitan yang terjadi karena kita kurang waspada, karena kadang-kadang kita tidak andal dan piawai dalam mengurus kekayaan kita sendiri.
Marilah kita berani mawas diri, menatap wajah sendiri, dan mari berani memperbaiki diri sendiri, mari berani mengoreksi diri kita sendiri. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa masih terlalu banyak kebocoran penyelewengan korupsi di negara kita. Ini adalah yang membahayakan masa depan kita dan masa depan anak-anak kita dan cucu-cucu kita.
Kita harus berani mengakui, terlalu banyak kebocoran dari anggaran kita, penyimpangan-penyimpangan kolusi di antara para pejabat politik, pejabat pemerintah, di semua tingkatan, dengan pengusaha-pengusaha nakal, pengusaha-pengusaha yang tidak patriotik.
Jangan takut melihat realita ini. Kita masih melihat sebagian saudara-saudara kita yang belum menikmati hasil kemerdekaan. Terlalu banyak saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan. Terlalu banyak anak-anak yang berangkat sekolah tidak makan pagi. Terlalu banyak anak-anakkita yang tidak punya pakaian untuk berangkat sekolah.
Kita, sebagai pemimpin politik, jangan terlalu senang melihat angka-angka statistik yang membuat kita terlalu cepat gembira, terlalu cepat puas, padahal kita belum melihat gambaran sepenuhnya.
Kita merasa bangga bahwa kita diterima di kalangan G20, kita merasa bangga bahwa kita disebut ekonomi ke-16 terbesar di dunia. Tapiapakah kita sungguh-sungguh paham dan melihat gambaran utuh dari keadaan kita?
Apakah kita sadar bahwa kemiskinan di Indonesia masih terlalu besar? Apakah kita sadar bahwa rakyat kita dan anak-anakkita banyak yang kurang gizi, banyak rakyat yang tidak dapat pekerjaan yang baik? Banyak sekolah kita yang tidak terurus?
Saudara-saudara, kita harus berani melihat ini semua dan kita harus berani menyelesaikan masalah ini semua. Saya mengajak kita semua, marilah kita berani melihat kenyataan.
Kita boleh bangga dengan prestasi kita, tapi marilah kita jangan tertegun, jangan terlalu cepat puas dan gembira dengan menutup mata dan hati terhadap tantangan-tantangan dan penderitaan saudara-saudara kita.
Kita tidak boleh memiliki sikap seperti burung unta, kalau melihat sesuatu yang tidak enak memasukkan kepalanya ke dalam tanah. Mari kita menatap ancaman dan bahaya dengan gagah. Marilah kita menghadapi kesulitan dengan berani. Marilah kita berhimpun, bersatu untuk mencari solusi-solusi, jalan keluar dari ancaman dan bahaya tersebut.
Saudara-sudara, saya telah mencanangkan bahwa Indoensia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tidak boleh tergantung sumber makanan dari luar. Dalam Krisis, dalam keadaan genting, tidak ada yang akan mengizinkan barang-barang mereka untuk kita beli. Karena itu tidak ada jalan lain, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, kita harus mencapai ketahanan pangan.
Kita harus mampu memproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indoensia. Saya sudah memperlajari bersama pakar-pakar yang membantu saya. Saya yakin paling lambat 4-5 tahun kita akan swasembada pangan. Bahkan kita siap menjadi lumbung pangan dunia.
Baca Juga
Prabowo: Semua Jangan Tutup Mata dengan Permasalahan di Tanah Air
Kita juga harus swasembada energi. Dalam ketegangan, dalam keadaan kemungkinan terjadi perang di mana-mana, kita harus siap dengan kemungkinan yang paling jelek. Negara-negara lain harus memikirkan kepentingan mereka sendiri. Kalauterjadi hal yang tidak diinginkan, sulit kita mendapat sumber energi dari negara lain. Kita harus swasembada energi dan kita mampu untuk swasembada energi.
Kita diberi karunia oleh Tuhan, tanaman-tanaman yang membuat kita bisa tidak tergantung dengan bangsa lain. Tanaman-tanaman seperti kelapa sawit bisa menghasilkan solar dan bensin.
Kita juga punya singkong, tebu, sagu, jagung, dll. Kita juga punya energi bawah tanah, geothermal, yang cukup. Kita punya batu bara yang sangat banyak. Kita punya energi dari air yang sangat besar. Pemerintah yang saya pimpin nanti akan fokus untuk mencapai swasembada energi.
Kita juga harus mengelola air dengan baik. Alhamdulillah kita punya sumber air yang cukup dan kita sudah punya teknologi menghasilkan air yang murah, yang bisa memenuhi kebutuhan kita.
Juga semua subsidi bantuan kepada rakyat kita yang masih dalam keadaan susah, harus kita pastikan subsidi-subsidiitu sampai kepada mereka yang membutuhkan. Kita harus berani meneliti, dan kalau perlu kita ubah subsidi agar langsung kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan.
Dengan teknologi digital, kita akan mampu menyalurkan subsidi itu sampai ke setiap keluarga yang membutuhkan. Tidak boleh aliran-aliran bantuan itu tidak sampai ke mereka yang butuh itu. Anak-anak kita semua harus bisa makan bergizi minimal satu kali sehari. Itu akan kita lakukan, dan itu bisa kita lakukan.
Selain itu, untuk menjamin perlindungan terhadap mereka yang paling lemah, untuk mencapai kesejahteraan sejati, kemakmuran yang sebenarnya, kita harus melakukan hilirisasi kepada semua komoditas yang kita miliki.
Nilai tambah dari semua komoditas itu harus menambah kekuatan ekonomi kita, sehingga rakyat kita bisa mencapai tingkat hidup yang sejahtera. Seluruh komoditas kita harus bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.
Saya sudah katakan, kita harus berani menghadapi dan memberantas korupsi dengan perbaikan sistem, dengan penegakan hukum yang tegas, dengan digitalisasi, insyaallah kita akan kurangi korupsi secara signifikan.
Tapi ini harus kita lakukan dengan syarat seluruh unsur pimpinan harus memberi contoh ing ngarso sung tulodo. Ada pepatah yang mengatakan, kalau ikan menjadi busuk, busuknya mulai dari kepala. Semua pejabat dari semua eselon dari semua tingatan harus memberi contoh untuk menjalankan kepemimpinan pemerintahan yang sebersih-bersihnya. Mulai contoh dari atas dan sesudah itu penegakan hukum yang tegas dan keras.
Baca Juga
Prabowo dan Kabinet Indonesia Maju Akan Ikut Lepas Kepulangan Jokowi ke Solo
Kita semua percaya dan yakin kita punya kekuatan untuk menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Ini sasaran berat, bahkan banyak yang mengatakan ini sesuatu yang tidak mungkin. Pemimpin yang berani dan baik akan terpanggil untuk menghadapi yang tidak mungkin dan mencari jalan agar yang tidak mungkin bisadiatasi. Bangsa yang berani adalah bangsa yang bisa membikin yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Di tengah cita-cita yang begitu besar dan idam-idamkan, kita perlu suasana kebersamaan, persatuan, kolaborasi, kerja sama, bukan cekcok yang berkepanjangan. Kita perlu pemimpin-pemimpin yang tidak caci maki, yang arif, bijaksana, mengerti, cinta budaya dan sejarah bangsa sendiri, yang bangga dengan adab tradisi dan adat bangsa kita sendiri.
Kita sejak dahulu memikirkan kehendak dari para pendiri bangsa. Kita ingin menjadi bangsa yang berdemokrasi, kita menempatkan kedaulatan rakyat setinggi-tingginya dalam dasar negara kita Pancasila. Kerakyatan merupakan sendi utama dari kelima sila yang kita junjung tinggi. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Kita menghendaki kehidupan demokrasi, tapi marilah kita sadar bahwa demokrasi kita harus demokrasi yang khas untuk Indonesia, yang cocok untuk bangsa kita, demokrasi yang berasal dari sejarah dan budaya kita.
Demokrasi kita harus demokrasi yang santun, demokrasi di mana berbeda pendapat harus tanpa permusuhan. Demokrasi di mana mengoreksi harus tanpa caci maki, bertarung tanpa membenci, bertanding tanpa berbuat curang.
Demorkasi kita harus demokrasi yang menghindari kekerasan, adu domba, hasut-menghasut, harus yang sejuk, demokrasi yang damai, demokrasi yang menghindari kemunafikan.
Hanya dengan persatuan dan kerja sama, kita akan mencapai cita-cita para leluhur, yaitu bangsa yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kertoraharjo, bangsa yang baldatun toyyibatun warobbun ghfur, bangsa di mana rakyat cukup sandang, pangan, papan. Cita-cita kita adalah melihat wong cilik iso gemuyu, wong cilik bisa senyum, bisa tertawa.
Kita harus ingat bahwa kekuasaan itu adalah milik rakyat, kedaulatan itu adalah kedaulatan rakyat. Kita berkuasa seizin rakyat, kita menjalankan kekuasaan harus untuk kepentingan rakyat. Kita harus selalu ingat, setiap pemimpin dalam setiap tingkatan harus selalu ingat, pekerjaan kita harus untuk rakyat.
Bukan, bukan, bukan kita bekerja untuk diri sendiri. Bukan kita bekerja untuk kerabat kita, bukan kita bekerja untuk pemimpin-pemimpin kita. Pemimpin yang harus bekerja untuk rakyat.
Baca Juga
Kita harus mengerti, selalu sadar bahwa bangsa yang merdeka adalah bangsa di mana rakyatnya merdeka. Rakyat harus bebas dari ketakutan, bebas dari kemiskinan, bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari penindasan, bebas dari penderitaan.
Saudara-saudara, masih ada suadara-saudara kita, usianya di atas 70 tahun, masih menarik becak. Ini bukan ciri-ciri bangsa yang merdeka. Hanya kalau kita bisa wujudkan keadaan di mana rakyat sungguh merasa dan menikmati kemerdekaan, baru kita boleh sungguh-sungguh puas dan bangga dengan prestasi Indonesiamerdeka.
Marilah kita kerja keras dan berjuang tanpa menyerah. Mari kita menghimpun dan menjaga semua kekayaan kita. Jangan mau kekayaan kita diambil murah oleh pihak-pihak lain. Semua kekayaan kita harus sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat kita.
Dalam sejarah politik, hal ini mudah untuk kita ucapkan, tidak mudah untukkita capai. Tapi kita bisa capai kalau kita bersatu dan bekerja sama. Marilah kita bangun masa depan bersama, marilah menganggap rekan-rekan kita walaupun berbeda suku, partai, agama, golongan, kita sama-sama anak Indonesia. Bertanding semangat, sesudah bertanding mari kita berhimpun kembali.
Presiden Jokowi mengalahkan saya, berapa kali berdebat ya saya lupa. Tapibegitu beliau menang, beliau mengajak saya bersatu, dan saya menerima ajakan itu. Sekarang saya yang menang, dan saya mengajak semua pihak, ayo bersatu.
Dalam mengahadapi dunia internasional, Indonesia memilih jalan bebas aktif nonblok. Kita tidak mau ikut pakta-pakta militer mana pun. Kita memilih jalan bersahabat dengan semua negara. Sudah berkali-kali saya canangkan, Indonesia akan menjalankan politik luar negeri sebagai negara yang ingin menjadi tetangga yang baik, we want to be a good neighbor. Kita ingin menganut filosofi kuno, yaitu seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.
Dengan demikian, kita ingin menjadi sahabat semua negara. Tapi kita punya prinsip, yakni antipenjajahan karena kita pernah mengalami penjajahan. Kita antipenindasan karena kita pernah ditindas. Kita antirasialisme, anti-apartheid karena kita pernah mengalami, waktu kita dijajah, kita bahkan digolongkan lebih rendah dari anjing.
Banyak prasasti dan marmer, papan-papan,di mana disebut honden in en landen for boden. Saya masih lihat prasasti di kolam renang Manggarai tahun 78. Karena itu, kita punya prinsip, kita harus solider membela rakyat yang tertindas di dunia ini. Karena itu, kita mendukung kemerdekaan rakyat Palestina.
Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mengirimkan banyak bantuan hingga hari ini, kita punya tim medis yang bekerja di Gaza, Raffah, dengan risiko sangat tinggi. Dokter-dokter kita, perawat-perawat kita sudah bekerja sama bersama saudara dari UEA.
Dan kita pun siap untuk mengirim bantuan yang lebih banyak, dan siap mengevakuasi mereka yang luka dan anak-anak yang trauma. Bagi para korban, kita siapkan semua rumah sakitdan tentara. Nanti RS-RS lain membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban perang yang tidak adil.
Kita menjadi bangsa yang harus berterima kasih kepada generasi pembebas, Bung Karno, Bung Hatta. Juga pahlawan-pahlawan lain, seperti I Gusti Ngurah Rai, Pattimura, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dll. Mereka membayar saham kemerdekaan dengan darah dan air mata mereka.
Kita bersyukur kepada Presiden pertama, Bung Karno, telah memberi kita ideologi negara, Pancasila. Bung Karno keluar masuk penjara, dibuang di mana-mana sejak muda karena memperjuangkan Indonesia merdeka. Indonesia tidak mau menjadi darah bagi bangsa-bangsa lain. Soekarno, Hatta,Sjahrir, semua pendiri bangsa berkorban dan memimpin dengan baik.
Kita juga bersyukur kepada Presiden Soeharto yang banyak jasanya dalam menyelamatkan dan mengamankan ideologi Pancasila, yang telah meletakkan dasar bagi Indonesia yang modern. Kita berterima kasih kepada Presiden Habibie yang telah membuat dasar untuk kita, meraih dan menguasai iptek.
Kita berterima kasih kepada Presiden Abdurrahman Wahid yang telah memberi contoh toleransi antaragama, antarsuku yang menjunjung tinggi Indonesia yang inklusif dan toleran.
Kita berterima kasih kepada Presiden Megawati yang menyelesaikan masalah-masalah ekonomi akibat krisis 1998. Harus diakui, di bawah pemerintahan Megawati, perusahaan-perusahaan yang banyak hancur dapat diperbaiki dan diselamatkan.
Kita harus berterima kasih kepada Presiden SBY, yang memimpin Indonesia saat krisis yang sangat berat, menghadapi tsunami, menyelesaikannya bersama Wapres Jusuf Kalla,menyelesaikan pertikaian di Aceh yang sudah berjalan begitu lama. Ini prestasi yang harus diakui.
Mereka semua, dengan cara masing-masing,memiliki sumbangsih terhadap apa yang sekarang kita nikmati, negara kesatuan yang utuh, berdaulat, merdeka, serta menjaga dan berjuang demi keadilan.
Baca Juga
16.782 Warga Naik LRT Jabodebek ke Pesta Rakyat Prabowo-Gibran
Sekarang kita ucapkan terima kasih juga kepada Presiden ke-7 RI, Presiden Jokowi dengan Wapres Ma’ruf Amin, terima kasih atas kepemimpinan Bapak, terima kasih atas kenegarawanan Bapak. Bapak telah menakhodai bangsa ini, melalui krisis-krisis yang sunguh sangat berat.
Ingat Covid, kita bahkan keluar rumah pun takut. Saya saksinya, menteri beliau, semua pihak dalam dan luar negeri telepon terus, menekan beliau terus, minta lockdown. Beliau menolak, beliau berpikir kalau kita lockdown bagaimana nasib wong cilik, warteg, ojol, rakyat yang makannya dari upah harian. Jangan kita lupa prestasi pemimpin-pemimpin kita. Terima kasihAnda berjasa dan akan dikenang sebagai putra Indonesia yang termasuk terbaik.
Akhir kata, saya mohon doa restu saudara-saudara,mari kita bangun Indonesiadi atas landasan yang sudah dirintis oleh pendahulu-pendahulu kita.Mari kita belajar, semua kekurangan kita akui dan kita perbaiki. Hentikan dendam, hilangkan kebencian, bangun kerukunan, bangun gotong royong, itu kepribadian bangsa Indonesia, itu ajaran Bung Karno.
Kami siap melanjutkan estafet kepemimpinan, kita siap bekerja keras menuju Indonesia Emas, menjadi bangsa yang kuat, merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Kita tidak mau mengganggu siapa pun, kita tidak mau mengganggu bangsa lain. Tapi kita juga tidak mengizinkan bangsa mana pun mengganggu kita.
Semoga Tuhan YME, Allah SWT, melindungi kita semua, menyertai kita semua dalam perjalanan. Kita juga berdoa kepada Tuhan YME agar tamu-tamu agung kita kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan aman dan bersahabat dengan kita. Wassalaamu'alaikum.
Merdeka...!!!
Merdeka...!!!
Merdeka…!!!
Yang tidak teriak merdeka tidak patriotik…"

