Ridwan Kamil: 70% Gagasan Majukan Jakarta Adalah Aspirasi Warga
JAKARTA, investortrust.id - Calon gubernur (cagub) Jakarta, Ridwan Kamil mengungkapkan 70% gagasan mengenai memajukan Jakarta datang dari aspirasi warga. Hal itu disampaikan Ridwan Kamil seusai silaturahmi dengan tokoh masyarakat di kediaman Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR) Lutfi Hakim di kawasan Cakung, Jakarta Timur pada Minggu (22/9/2024).
Ridwan Kamil menyebut, kepemimpinan yang baik harus terbuka terhadap masukan, terutama dari para tokoh masyarakat. Untuk itu, penting terus menjaga silaturahmi dengan semua lapisan masyarakat.
“Tugas pertama seorang calon gubernur adalah lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara, menyerap aspirasi serta menyerap ilmu dari para tokoh. Beliau, Pak Lutfi, adalah ulama dan tokoh masyarakat Betawi. Tadi saya diceritakan sejarah Cakung, budayanya, serta aspirasi tentang pemulihan kebudayaan Betawi melalui lembaga adat,” kata Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil.
Berdasarkan Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta atau UU DKJ yang disahkan Maret 2024 lalu, lembaga adat dan kebudayaan Betawi menjadi salah satu unsur yang terlibat dalam memajukan kebudayaan Betawi. Kepada Kang Emil, Lutfi berharap agar hal tersebut menjadi perhatian mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) itu jika terpilih sebagai gubernur Jakarta.
“Beliau mohon untuk diperjuangkan, karena instrumennya ada tetapi aksinya belum ada. Saya melakukan kunjungan-kunjungan seperti ini agar semakin banyak menjaring aspirasi dan harapan. Mungkin gagasan untuk memajukan Jakarta itu 30% dari saya, tetapi 70% datang dari aspirasi-aspirasi warga,” tambah Kang Emil.
Kang Emil menegaskan langkahnya bersilaturahmi dengan tokoj masyarakat bukan untuk meminta dukungan dalam kontestasi Pilkada Jakarta 2024. Dikatakan, silaturahmi ini untuk berdialog serta mendapatkan masukan dan tambahan pengetahuan tentang Jakarta.
Salah satu oleh-oleh yang didapatkan Kang Emil tentang budaya Betawi yang selalu jujur dan toleran dengan siapa pun. Jakarta yang menjadi tempat berkumpul orang dari beragam suku juga tak mensyaratkan pendatang untuk menanggalkan budaya asli mereka, tetapi perlu hidup berdampingan dengan rukun dan bersama-sama memajukan Jakarta.
“Saya tidak menghalangi kalau orang lain panggil Abang. Saya enggak bisa maksa orang, tetapi saya sendiri, dari kecil ya dipanggilnya akang. Pak Jokowi dulu dari Solo ke Jakarta kan juga dipangginya Mas Jokowi, Mas Pramono panggilannya Mas Pram. Begitu pula dengan Pak Ahok,” ujar Ridwan Kamil.
Dikatakan, posisi Jakarta yang multietnis justru menjadi salah satu kekuatan Jakarta untuk terus maju dan berkembang. Apalagi, jika hal tersebut dielaborasi dengan pendekatan kolaboratif dengan seluruh lapisan masyarakat. Kang Emil meyakini Jakarta bisa menjadi kota global tanpa meninggalkan akar budaya setempat.

