Kemenkes: Pengobatan Sel Punca Belum Masuk Tahap Produk Massal
JAKARTA, Investortrust.id - Sejauh ini baru ada dua perusahaan farmasi atau kesehatan yang berkecimpung dalam pengembangan terapi sel punca, dan telah tersertifikasi. Disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lucia Rizka Andalusia, keduanya adalah PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) melalui PT Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).
“Kalau yang mempunyai fasilitas yang tersertifikasi CGMP (current Good Manufacturing Practice), di Indonesia baru ada dua, yaitu ProSTEM dan Kalbe,” ungkap Rizka, dalam kesempatan peresmian Advanced Cell Therapy Production Laboratory (ACT-PLab) milik PT Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM).
Baca Juga
Prodia (PRDA) Cetak Kenaikan Penjualan, Tapi Laba Terpangkas
Dia juga menerangkan, saat ini sudah banyak riset penggunaan sel punca pada layanan kesehatan dimulai dari pengobatan regeneratif maupun untuk penyembuhan penyakit dengan metode tertentu,” ujar Rizka.
Sementara itu dikatakan Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan (TKPK) Kemenkes, dr. Sunarto, sebelum ada standar mutu yang dikeluarkan pemerintah terkait penggunaan sel punca maka tidak bisa disebarluaskan secara mass product atau produk massal.
“Untuk Indonesia sendiri sampai saat ini sel punca masih dalam bentuk penelitian berbasis pelayanan, artinya kita mengharapkan bahwa pelayanan-pelayanan (terapi) sel punca itu akan menjadi sebuah standar. Jadi, masih belum bisa melakukan pelayanan secara umum, namun bisa melalui penelitian berbasis pelayanan,” ujarnya.
Baca Juga
Anak Usaha PRDA, ProSTEM Bangun Lab Produksi Sel Punca Senilai Rp100 Miliar
Dalam kesempatan yang sama, Direktur ProSTEM, Dr. Cynthia R. Sartika menekankan, keunggulan ProSTEM dibandingkan dengan kompetitor lainnya adalah, pihaknya telah melakukan perbandingan fasilitas serupa yang ada di Jerman, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.
“Selama ini kami mengacu referensi langsung dari sel terapi production lab dari luar negeri, saya sudah melakukan benchmark ke Jerman, Jepang, Singapura, hingga Korea dan yang kita punya ini tidak kalah baiknya bahkan jauh lebih baik,” tegas Cynthia dalam konferensi pers ProSTEM, Jakarta, Senin (11/12/2023). (CR-3)

