Luncurkan 'Protect', ILO Jamin Perkuat Hak Perempuan Migran Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Uni Eropa bekerja sama dengan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) meluncurkan proyek Protect Indonesia di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (14/5/2024). Proyek ini merupakan wujudkomitmen ILO memperkuat hak-hak perempuan pekerja migran, anak-anak, dan kelompok berisiko di Indonesia.
Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor Leste, Simring Singh mengungkapkan, pekerja migran merupakan pendorong pembangunan ekonomi dan sosial di negara asal dan tujuan.
Atas dasar hal tersebut, ia menekankan pentingnya kebijakan dan pendekatan tata kelola migrasi yang responsif terhadap gender, inklusif, dan sejalan dengan standar ketenagakerjaan internasional.
Baca Juga
"Hal itu perlu dikedepankan apabila kita ingin memberikan perlindungan dan akses terhadap pekerjaan yang layak bagi pekerja migran, yang sangat penting bagi keadilan sosial," tegas Simring Singh di sela-sela peluncuran proyek tersebut.
Menurut Simring, pekerja migran Indonesia (PMI), khususnya yang bekerja dengan upah rendah menghadapi sejumlah tantangan, seperti eksploitasi kerja, regulasi diskriminatif, ancaman perdagangan manusia, kekerasan, pelecehan, dan terbatasnya akses pada layanan utama.
Di sisi lain, kata dia,perempuan pekerja migran cenderung berkeja di sektor informal yangkerap menjalani kesempatan kerja jangka pendek dan perlindungan sosial yang minim.
"Selain itu, anak-anak yang menemani pekerja migran menghadapi risiko tinggi pelecehan, eksploitasi, perdagangan, dan akses yang kurang memadai ke layanan perlidungan anak," tutur dia.
Simring menjelaskan, proyek Protect Indonesiaakan mempromosikan pekerjaan yang layak dan mengurangi kerentanan mereka yang berisiko dengan menjamin hak-hak kerja, mencegah dan mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, perdagangan orang, serta penyelundupan migran.
Simring Singh membeberkan, berdasarkan data yang dihimpun ILO, pada 2023 terdapat 270.000 lebih warga Indonesia bermigrasi ke luar negeri. Dari jumlah itu, 61%-nya adalah Perempuan yang sebagian besar mencari pekerjaan di bidang rumah tangga, perawatan, industri pertanian, Perkebunan, dan manufaktur di Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia.
"Namun, sebagian PMI, khususnya di Malaysia, bermigrasi melalui jalur tidak resmi," ucap dia.
Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi menyinggung risiko tinggi yang dihadapi para pekerja migran dan anak-anak di negara tujuan.
Denis optimistis proyek Protect adalah langkah maju untuk memastikan hak-hak perempuan saat bertugas sebagai pekerja migran, termasuk hak anak-anak Indonesia.
Baca Juga
Pengadilan Malaysia Kabulkan Ganti Rugi PMI yang Tewas Dianiaya
"Bersama Indonesia dan mitra negara-negara lainnya di kawasan ini, kami berupaya memupuk peluang atas pekerjaan yang bermartabat seraya mengurangi kerentangan yang dihadapi perempuan dan anak-anak," tandas Denis.
Proyek Protect yang akan berlangsung hingga Desenber 2026 merupakan hasil pembelajaran dari proyek sebelumnya yang didanai Uni Eropa, yakni Safe and Fair: Mewujudkan hak dan peluang pekerja migran perempuan di kawasan ASEAN. Proyek tersebut dilaksanakan ILO dan United Nations (UN) Women bekerja sama dengan UNODC pada 2018 hingga 2023.
Ada pula proyek 'Melindungi Anak-Anak yang Terkena Dampak Migrasi di Asia Tenggara, Selatan dan Tengah' yang dilaksanakan United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF) pada 2018 hingga 2022 lalu.

