Jadi Kepala Bakom, Ini Profil dan Rekam Jejak Aktivis Syahganda Nainggolan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Syahganda menggantikan posisi Muhammad Qodari yang kini mengemban amanat baru sebagai Sekretaris merangkap Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Berikut adalah profil dan rekam jejak perjalanan Syahganda Nainggolan dari seorang aktivis mahasiswa hingga dipercaya menduduki jabatan strategis di pemerintahan.
Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada 27 November 1965 ini dikenal sebagai aktivis, pengamat sosial-politik, dan intelektual yang konsisten menyuarakan isu-isu kerakyatan serta perburuhan.
Baca Juga
Tiba di Istana, Syahganda Nainggolan Bakal Dilantik Prabowo sebagai Kepala Bakom
Jejak aktivismenya bermula saat menempuh pendidikan di Jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB). Kala itu, Syahganda aktif dalam kelompok diskusi Student Center (MSC) ITB. Lantaran sikap kritisnya terhadap berbagai kebijakan pemerintah era Orde Baru, ia sempat dikeluarkan dari kampus pada September 1989.
Meski diterpa dinamika dalam perjalanan akademiknya, Syahganda tak menyurutkan langkah pendidikannya. Ia melanjutkan studi hingga meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia (UI) pada 17 Januari 2015. Disertasinya yang berjudul “Analisa Pengaruh Jaminan Upah Layak, Jaminan Sosial dan Solidaritas Sosial Terhadap Kesejahteraan Buruh” menyoroti kondisi kesejahteraan pekerja di kawasan industri Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Bekasi (Jabodetabek).
Baca Juga
Qodari Bantah Deputi Bakom Timothy Ivan Kelola Anggaran Iklan Media Rp 60 Miliar
Rekam Jejak Politik dan Pemikiran
Dunia politik dan kebijakan publik bukan hal baru bagi Syahganda. Memasuki era Reformasi 1998, ia bersama politisi senior Adi Sasono mendirikan Partai Daulat Rakyat (PDR). Dalam kiprah politik praktisnya, ia sempat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif lewat Partai Merdeka di Dapil Tangerang, sebelum akhirnya bergabung dengan Partai Golkar dan maju dari Dapil Jawa Barat V pada Pemilu 2009.
Di luar ranah partai politik, Syahganda pernah dipercaya masuk ke dalam tim pemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono–Jusuf Kalla pada 2007, dan kemudian diamanahi jabatan sebagai Komisaris PT Pelindo.
Dedikasinya pada kajian isu strategis nasional juga diwujudkan melalui pendirian berbagai lembaga pemikiran. Pada pertengahan 2010, ia mendirikan Sabang-Merauke Circle (SMC) bersama sejumlah aktivis era 80-an eks ITB untuk mengkaji isu-isu nasionalisme, kepemimpinan, daya saing nasional, dan kesejahteraan rakyat.
Selanjutnya, pada Agustus 2020, ia turut mendeklarasikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bersama tokoh-tokoh nasional seperti Din Syamsuddin dan Gatot Nurmantyo, di mana ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Komisi Kerja (Komja).
Memasuki masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Syahganda mendirikan GREAT Institute yang berfokus mengembangkang gagasan kerakyatan melalui diskusi mendalam terkait kebijakan ekonomi, teknologi, dan politik.
