Sebanyak 40.216 Warga Flores Mengungsi, Inilah 30 Kebutuhan Mereka yang Mendesak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Puluhan ribu warga Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di pengungsian setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (18/08/2026), pukul 17.00, jumlah warga yang mengungsi mencapai 40.216 jiwa. Di balik angka besar tersebut terdapat kebutuhan yang tidak hanya menyangkut makanan, air bersih, obat-obatan, dan tenda, tetapi juga sanitasi, perlindungan kelompok rentan, pendidikan anak hingga kepastian tempat tinggal dan mata pencaharian setelah masa tanggap darurat berakhir.
Pengungsian tersebar di sejumlah kabupaten terdampak di Pulau Flores, antara lain Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Namun, data BNPB yang tersedia belum memberikan perincian lengkap jumlah 40.216 pengungsi untuk masing-masing kabupaten. Sebagian warga berada di lokasi pengungsian terpusat, sementara sebagian lainnya mendirikan tenda secara mandiri di lapangan, halaman rumah, kebun, dan tempat-tempat terbuka karena khawatir kembali ke rumah yang rusak maupun menghadapi kemungkinan gempa susulan.
Di Kabupaten Sikka, data daerah mencatat sekitar 5.581–5.681 warga mengungsi. Sebagian ditempatkan di pusat pengungsian Gelora Samador, Maumere, sementara lainnya mengungsi secara mandiri di sejumlah kecamatan. Di Kabupaten Nagekeo, warga antara lain mengungsi di kawasan Kecamatan Aesesa, termasuk Desa Tungguramba. Air bersih, fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK), sembako, dan tenda menjadi bagian dari kebutuhan mendesak di kawasan tersebut. Penanganan pengungsi juga berlangsung di Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, Ende, dan Manggarai Barat.
Baca Juga
PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Flores Pascagempa, Seluruh Pelanggan Kembali Menyala
Besarnya jumlah pengungsi membuat penanganan bencana tidak dapat hanya berorientasi pada kebutuhan bertahan hidup selama beberapa hari pertama. Apabila puluhan ribu warga harus tinggal di pengungsian selama berminggu-minggu, persoalan akan berkembang menjadi masalah kesehatan, sanitasi, keamanan, pendidikan, perlindungan anak dan perempuan, hingga hilangnya mata pencaharian.
Setidaknya terdapat 30 kelompok kebutuhan yang perlu menjadi perhatian pemerintah, pemerintah daerah, BNPB, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, TNI-Polri, organisasi kemanusiaan, dunia usaha, dan masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan.
Pertama, air bersih dan air minum. Pengungsi membutuhkan pasokan air yang cukup dan aman untuk diminum, memasak, mandi, mencuci, serta menjaga kebersihan lingkungan. Karena itu, selain air minum diperlukan tandon, jeriken, instalasi distribusi dan, pada lokasi tertentu, perangkat pengolahan atau penjernihan air.
Kedua, makanan dan pemenuhan gizi. Pada fase awal diperlukan makanan siap saji, tetapi apabila masa pengungsian berlangsung lama, pasokan harus beralih menuju bahan pangan dan pengoperasian dapur umum secara berkelanjutan. Kebutuhan gizi bayi, balita, ibu hamil dan menyusui, lansia serta warga dengan kebutuhan diet khusus tidak dapat disamakan dengan pengungsi dewasa pada umumnya. Makanan pendamping ASI (MPASI) juga diperlukan untuk bayi dan balita.
Baca Juga
85% Konektivitas Pulih, TelkomGroup Percepat Pemulihan Layanan Pascagempa NTT
Ketiga, tenda dan hunian sementara. Tenda keluarga, tenda komunal, terpal dan perlengkapan hunian darurat diperlukan untuk melindungi warga dari panas, hujan dan angin. Penataan tenda juga harus memperhatikan kepadatan, sirkulasi, keamanan serta privasi setiap keluarga.
Keempat, MCK dan sanitasi. Toilet dan tempat mandi darurat, fasilitas mencuci tangan serta sistem pembuangan limbah harus tersedia dalam jumlah memadai. Fasilitas sanitasi perlu dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, mudah diakses kelompok rentan dan mempunyai penerangan yang cukup pada malam hari.
Kelima, listrik dan penerangan. Pengungsian membutuhkan genset dan bahan bakar, lampu darurat, lampu tenaga surya, baterai, power bank serta titik pengisian telepon seluler. Penerangan bukan hanya kebutuhan kenyamanan, tetapi juga menyangkut keamanan warga pada malam hari.
Keenam, obat-obatan dan pelayanan kesehatan. Kebutuhannya bukan hanya obat. Pengungsi memerlukan dokter, perawat, bidan, ambulans, pos kesehatan, peralatan medis, obat untuk penyakit kronis dan sistem rujukan cepat bagi pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan.
Ketujuh, kasur, matras, tikar dan perlengkapan tidur. Warga membutuhkan alas tidur, selimut, bantal, terpal dan kelambu. Kebutuhan tersebut sangat penting bagi bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, orang sakit dan penyandang disabilitas yang tidak memungkinkan tidur berhari-hari di lantai atau tanah beralaskan seadanya.
Kedelapan, hygiene kit dan perlengkapan kebersihan pribadi. Sabun mandi, sabun cuci, sampo, sikat dan pasta gigi, handuk, deterjen, tisu, ember serta perlengkapan kebersihan lainnya diperlukan untuk menjaga kesehatan. Semakin padat dan lama sebuah pengungsian ditempati, semakin besar pula risiko penyakit apabila kebersihan tidak terjaga.
Baca Juga
Kesembilan, kebutuhan khusus perempuan dan remaja putri. Pembalut, pakaian dalam dan perlengkapan kebersihan menstruasi harus tersedia. Mereka juga membutuhkan ruang ganti dan MCK yang aman serta memiliki privasi, termasuk ruang yang layak bagi ibu menyusui.
Kesepuluh, kebutuhan bayi dan balita. Popok, baby kit, pakaian bayi, selimut, perlengkapan tidur, MPASI, alat makan dan perlengkapan kebersihan bayi harus menjadi bagian tersendiri dalam distribusi bantuan.
Kesebelas, kebutuhan ibu hamil dan menyusui. Pemeriksaan kehamilan, layanan bidan, makanan bergizi, suplemen berdasarkan kebutuhan medis, ruang menyusui yang aman dan sistem rujukan persalinan darurat harus dipersiapkan di lokasi pengungsian.
Kedua belas, kebutuhan lansia dan penyandang disabilitas. Kelompok ini membutuhkan pelayanan yang disesuaikan dengan kondisi individual, termasuk kursi roda, tongkat dan alat bantu jalan, popok dewasa, tempat tidur yang memadai, akses MCK, obat rutin serta pendamping.
Ketiga belas, pakaian dan kebutuhan sandang. Pakaian bersih, pakaian dalam, pakaian anak dan bayi, sarung serta sandal diperlukan warga yang meninggalkan rumah secara mendadak. Bantuan pakaian perlu dipilah berdasarkan usia, ukuran dan kebutuhan sebelum didistribusikan agar benar-benar dapat digunakan.
Keempat belas, peralatan memasak dan dapur. Apabila pengungsian berlangsung lama, keluarga dan dapur umum membutuhkan kompor, bahan bakar, panci, wajan, alat makan, gelas, wadah penyimpanan makanan serta peralatan untuk menjaga kebersihan dapur.
Baca Juga
Kelima belas, pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan. Konsentrasi puluhan ribu pengungsi menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Tempat dan kantong sampah, alat kebersihan, petugas serta sistem pengangkutan harus tersedia. Saluran pembuangan dan genangan air juga perlu ditangani agar tidak berkembang menjadi sumber penyakit.
Keenam belas, pencegahan penyakit menular. Kepadatan tenda meningkatkan risiko diare, infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, demam berdarah dan penyakit menular lainnya. Surveilans kesehatan, pemeriksaan berkala, pengendalian nyamuk dan vektor penyakit serta fasilitas penanganan sementara bagi penderita penyakit menular diperlukan.
Ketujuh belas, dukungan psikologis dan pemulihan trauma. Gempa besar, kehilangan anggota keluarga, kerusakan rumah dan ketakutan menghadapi gempa susulan dapat menimbulkan trauma. Psikolog, konselor, pekerja sosial, pendamping anak serta program dukungan psikososial dibutuhkan, terutama bagi anak-anak dan warga yang kehilangan keluarga atau tempat tinggal.
Kedelapan belas, ruang ramah anak. Anak-anak membutuhkan tempat yang aman untuk bermain, belajar dan berinteraksi. Ruang tersebut sekaligus menjadi sarana pemulihan psikologis dan memberikan perlindungan ketika orang tua harus mengurus kebutuhan keluarga.
Baca Juga
Menhub Sebut 5 Bandara dan Pelabuhan NTT Tetap Beroperasi Normal Pasca Gempa Bumi
Kesembilan belas, perlindungan perempuan, anak, lansia dan kelompok rentan. Pengungsian harus mempunyai mekanisme pencegahan kekerasan, pelecehan, eksploitasi dan risiko anak terpisah dari keluarganya. Saluran pengaduan yang mudah dan aman juga diperlukan.
Kedua puluh, keamanan lokasi pengungsian. Petugas keamanan, penerangan malam, pengaturan keluar-masuk, jalur evakuasi, titik kumpul serta pemisahan lokasi yang berbahaya dibutuhkan untuk memastikan keselamatan warga.
Kedua puluh satu, komunikasi dan internet. Jaringan telepon dan internet penting agar warga dapat menghubungi keluarga, memperoleh informasi resmi serta mengikuti perkembangan gempa susulan. Di lokasi yang jaringan komunikasinya terganggu diperlukan perangkat komunikasi alternatif, termasuk komunikasi satelit.
Kedua puluh dua, informasi kebencanaan yang cepat dan akurat. Warga membutuhkan informasi resmi mengenai gempa susulan, kemungkinan tsunami, kondisi wilayah, distribusi bantuan, layanan kesehatan dan keamanan untuk kembali ke rumah. Informasi resmi yang cepat sekaligus menjadi instrumen penting menangkal hoaks yang dapat menimbulkan kepanikan.
Kedua puluh tiga, pendidikan darurat. Apabila sekolah rusak atau digunakan sebagai lokasi pengungsian, diperlukan tenda sekolah atau ruang belajar sementara, meja-kursi sederhana, buku, alat tulis, school kit, guru pendamping dan dukungan psikososial agar pendidikan anak tidak terputus terlalu lama.
Kedua puluh empat, transportasi dan akses evakuasi. Ambulans, truk logistik, kendaraan berpenggerak empat roda, perahu atau moda transportasi lainnya diperlukan untuk mencapai desa-desa terpencil. Kerusakan jalan dan jembatan juga perlu segera ditangani agar distribusi bantuan tidak terputus.
Baca Juga
Kedua puluh lima, data dan identitas pengungsi. Pendataan berdasarkan nama dan alamat sangat penting. Data perlu dilengkapi usia, jenis kelamin dan kebutuhan khusus, termasuk kondisi kesehatan, disabilitas, kehamilan dan keberadaan anak tanpa pendamping. Pendataan akurat menjadi dasar agar bantuan tepat sasaran.
Distribusi Bantuan
Kedua puluh enam, distribusi bantuan yang merata. Bantuan jangan hanya terkonsentrasi pada posko besar yang mudah dijangkau. Warga yang mengungsi secara mandiri di halaman rumah, kebun, lapangan kecil maupun desa terpencil juga harus terdata dan memperoleh bantuan. Sistem penerimaan, penyimpanan dan distribusi logistik perlu dilakukan secara transparan.
Kedua puluh tujuh, hunian sementara untuk masa transisi. Tenda tidak dapat menjadi tempat tinggal selama berbulan-bulan. Jika banyak rumah mengalami kerusakan berat, pemerintah perlu mulai mempersiapkan hunian sementara yang lebih kokoh, sehat dan dilengkapi air, sanitasi serta listrik.
Kedua puluh delapan, pemeriksaan keamanan rumah dan bangunan. Warga membutuhkan kepastian apakah rumah mereka masih layak ditempati. Pemeriksaan juga diperlukan terhadap sekolah, pasar, rumah ibadah, fasilitas kesehatan dan bangunan publik lainnya agar masyarakat tidak kembali memasuki bangunan yang berisiko roboh akibat gempa susulan.
Kedua puluh sembilan, pemulihan mata pencaharian. Petani, nelayan, pedagang, pekerja informal dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kehilangan peralatan atau tidak dapat bekerja membutuhkan bantuan untuk kembali memperoleh penghasilan. Pemulihan ekonomi keluarga menjadi penting agar ketergantungan terhadap bantuan tidak berlangsung berkepanjangan.
Ketiga puluh, rehabilitasi dan pembangunan kembali rumah. Inilah kebutuhan jangka menengah dan panjang yang akhirnya menentukan kapan puluhan ribu warga dapat meninggalkan pengungsian. Pemerintah perlu mendata rumah rusak ringan, sedang dan berat, menentukan skema bantuan perbaikan dan pembangunan kembali serta memastikan rumah yang dibangun menggunakan standar konstruksi yang lebih tahan gempa.
Baca Juga
Dirut Pertamina Hadir di Lokasi Gempa Flores, Salurkan Bantuan dan Pimpin Upacara HUT Ke-81 RI
Penanganan 40.216 pengungsi gempa Flores dengan demikian tidak cukup hanya dengan mengirim beras, air minum, obat-obatan dan tenda. Besarnya jumlah warga terdampak membutuhkan penanganan terintegrasi dari fase tanggap darurat sampai rehabilitasi dan rekonstruksi.
Penanganan setidaknya harus bergerak dalam tiga tahap besar. Tahap pertama adalah menyelamatkan warga dan memastikan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup terpenuhi. Tahap kedua menjaga kesehatan, keamanan dan martabat manusia selama berada di pengungsian. Tahap ketiga adalah mengembalikan mereka kepada kehidupan yang normal melalui pembangunan kembali rumah, pemulihan pendidikan, pelayanan publik dan mata pencaharian.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penanganan bencana bukan sekadar berapa banyak bantuan yang masuk ke Flores. Yang lebih penting adalah seberapa cepat dan merata bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan, serta seberapa cepat 40.216 warga tersebut dapat keluar dari tenda pengungsian dan kembali menjalani kehidupan secara aman dan mandiri.

