Flores Belum Tenang, Gempa Susulan Bisa Berlangsung Sebulan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bumi Flores belum sepenuhnya tenang. Tiga hari setelah gempa utama magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/08/2026), ribuan gempa susulan masih terus terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat pekan ke depan. Artinya, warga terdampak belum bisa menganggap ancaman telah berakhir hanya karena gempa utama sudah berlalu.
Gempa terbaru yang cukup kuat dirasakan terjadi Selasa (18/08/2026) pukul 09.42.35 WIB. Berdasarkan informasi BMKG dan ShakeMap yang diterima Investortrust, gempa berkekuatan M4,9 itu berpusat di laut sekitar 54 kilometer timur laut Labuan Bajo, pada koordinat 8,14 derajat Lintang Selatan dan 120,23 derajat Bujur Timur.
Yang patut diperhatikan, hiposenter gempa tersebut sangat dangkal, hanya sekitar 6 kilometer. Guncangannya dirasakan dengan intensitas IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kabupaten Manggarai Barat serta III-IV MMI di Kabupaten Manggarai. Pada intensitas IV MMI, getaran dapat dirasakan banyak orang di dalam rumah dan menyebabkan pintu atau jendela berderik serta benda-benda yang digantung bergoyang.
Gempa M4,9 itu menjadi bagian dari rangkaian aktivitas seismik yang sangat intens setelah gempa utama M7,7. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebutkan, hingga Selasa (18/08/2026) pukul 05.00 WIB telah tercatat 2.119 gempa susulan. Magnitudonya berkisar M1,3 hingga M6,2. Sebanyak 24 gempa berkekuatan di atas M5,0 dan 70 gempa dilaporkan dapat dirasakan masyarakat.
Jumlah itu memperlihatkan betapa aktifnya proses penyesuaian kerak bumi setelah gempa utama. Pada Sabtu (15/08/2026) pukul 14.00 WIB, BMKG baru mencatat 235 gempa susulan. Sehari kemudian jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 700, kemudian mencapai 995 pada Minggu dan 1.624 pada Senin sebelum menembus 2.119 pada Selasa pagi.
Gempa utama M7,7 terjadi pada Sabtu pukul 04.58 WIB. Menurut BMKG, gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores, dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum BMKG mengakhirinya pada pukul 07.30 WIB.
Baca Juga
1.500 Drone di Langit Jakarta Bawa Pesan Doa untuk Korban Gempa NTT
Sampai Kapan Gempa Susulan?
Pertanyaan terbesar warga sekarang adalah: sampai kapan bumi Flores akan terus berguncang? BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat pekan. Namun, perkiraan tersebut bukan berarti gempa akan berhenti persis setelah tiga atau empat minggu. Yang diproyeksikan adalah kecenderungan peluruhan aktivitas gempa—frekuensi dan kekuatannya secara umum diharapkan semakin berkurang seiring tercapainya keseimbangan baru pada batuan di sekitar zona patahan.
Secara seismologi, gempa besar mengubah distribusi tegangan pada batuan di sekitar bidang patahan. Setelah pelepasan energi utama, bagian-bagian kerak bumi di sekitarnya melakukan penyesuaian. Proses inilah yang menghasilkan aftershock. Karena gempa utamanya sangat besar, rangkaian susulannya dapat berjumlah ribuan dan berlangsung berminggu-minggu, bahkan gempa kecil dapat terus terdeteksi instrumen setelah masyarakat tidak lagi merasakannya.
Karena itu, angka 2.119 gempa susulan tidak dengan sendirinya berarti kondisi semakin berbahaya. Parameter yang lebih penting adalah apakah frekuensi dan magnitudo gempa menunjukkan kecenderungan meluruh. Dalam pola normal aftershock sequence, jumlah gempa umumnya tinggi segera setelah gempa utama, kemudian secara bertahap menurun.
Tetapi penurunan itu tidak selalu berlangsung mulus. Di tengah kecenderungan meluruh dapat muncul gempa susulan yang relatif kuat. Fakta bahwa Flores telah mengalami gempa susulan hingga M6,2 dan sedikitnya 24 gempa di atas M5 menunjukkan risiko guncangan kuat belum dapat diabaikan.
Apakah Gempa Susulan Masih Bisa Memakan Korban?
Jawabannya: bisa. Ancaman terbesar gempa susulan justru dapat berasal dari bangunan yang telah kehilangan kekuatan akibat gempa utama. Rumah yang retak, dinding yang miring, sambungan struktur yang rusak atau bangunan yang tampak masih berdiri belum tentu mempunyai kekuatan yang sama seperti sebelum gempa.
Guncangan susulan yang magnitudonya jauh lebih kecil daripada M7,7 pun berpotensi merobohkan bagian bangunan yang sebelumnya sudah rusak. Karena itu, BMKG secara khusus mengingatkan masyarakat agar menjauhi bangunan yang retak atau rusak akibat gempa utama.
Risiko tersebut bukan persoalan teoritis. Dampak gempa utama memang sangat besar. Data BNPB per Minggu (16/08) pukul 16.00 WIB mencatat 1.543 rumah rusak berat, 328 rusak sedang dan 532 rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada sedikitnya 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah dan 76 kantor pemerintahan. Pada saat itu, korban meninggal tercatat 53 orang dan 137 orang mengalami luka-luka.
Data kemudian terus bergerak seiring proses pencarian dan verifikasi. Pada Senin (17/08), BNPB menyebut jumlah korban meninggal telah mencapai 68 jiwa dan tidak ada lagi laporan warga hilang, meskipun tim Basarnas tetap bersiaga di tujuh kabupaten terdampak. (detiknews)
Associated Press dalam laporan terbarunya pada Selasa (18/08) menyebut sedikitnya 213 orang terluka dan lebih dari 4.500 rumah terdampak atau rusak. Lebih dari 19.000 orang dilaporkan masih berada di tenda, pusat evakuasi dan tempat penampungan sementara. Gempa juga berdampak pada fasilitas kesehatan, sekolah dan tempat ibadah.
Perbedaan angka kerusakan dan pengungsi antara laporan BNPB pada hari-hari pertama dengan laporan berikutnya perlu dipahami sebagai konsekuensi proses pendataan yang masih berkembang, bukan langsung dianggap sebagai pertentangan data. Cakupan wilayah terdampak luas dan sebagian lokasi sebelumnya sulit dijangkau.
Baca Juga
Bantu Korban Gempa NTT, KKP Kerahkan KP Orca 06 Angkut 50 Ton Logistik
Apakah Warga Masih Harus Tinggal di Tenda?
Untuk warga yang rumahnya rusak berat, belum diperiksa keamanannya, atau berada di sekitar bangunan yang berpotensi runtuh, kembali ke rumah terlalu dini bukan pilihan yang aman. Mereka masih lebih aman berada di lokasi pengungsian atau hunian sementara sampai struktur bangunan dinyatakan layak.
Namun, ini juga tidak berarti seluruh penduduk Flores harus tinggal di tenda selama tiga atau empat minggu hanya karena gempa susulan diperkirakan masih berlangsung. Keputusan kembali ke rumah seharusnya didasarkan pada tingkat kerusakan bangunan, kondisi lingkungan sekitar dan asesmen keselamatan oleh petugas berwenang—bukan semata-mata menunggu seluruh gempa susulan berhenti.
BNPB pada Senin (17/08) masih mengoperasikan pengungsian terpusat, termasuk di Lapangan Pendidikan Barangkolong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Menko PMK Pratikno bahkan mendatangi lokasi tersebut untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Pemerintah juga mencatat lokasi pengungsian tersebar di sejumlah titik sehingga pemerintah daerah diminta memperkuat koordinasi penanganannya.
Laporan AP dari Flores pada Selasa memberikan gambaran bahwa persoalannya bukan hanya keamanan fisik bangunan. Banyak anak masih takut masuk kembali ke rumah. Sejumlah anak terbangun ketakutan ketika gempa susulan terjadi. Program dukungan psikososial dan trauma healing pun mulai dilakukan di tempat-tempat pengungsian.
Di tengah situasi itu terdapat perkembangan positif. Infrastruktur dasar mulai pulih. BNPB melaporkan pada 17 Agustus sebanyak 99,45% dari 3.478 gardu distribusi listrik terdampak telah kembali menyala dan sekitar 99,4% pelanggan di area tersebut kembali memperoleh listrik. Jaringan telekomunikasi di sebagian besar kabupaten terdampak juga telah pulih di atas 90%, meskipun Manggarai Timur masih sekitar 76,3%.
Pemulihan listrik, telekomunikasi dan akses jalan menjadi penting bukan hanya bagi kehidupan sehari-hari, tetapi juga untuk mempercepat pendataan bangunan, distribusi bantuan dan perpindahan warga dari pengungsian darurat menuju tempat tinggal yang lebih aman.
Gempa M4,9 di timur laut Labuan Bajo pada Selasa pagi menjadi pengingat bahwa fase darurat Flores belum selesai. Gempa utama mungkin telah berlalu, tetapi risikonya belum sepenuhnya pergi.
Masyarakat tidak perlu panik setiap kali tanah kembali bergetar. Sebagian besar dari 2.119 gempa susulan bahkan tidak dirasakan manusia. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena gempa susulan yang cukup kuat masih mungkin terjadi dan bangunan yang telah rusak mempunyai kerentanan jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum gempa.
Karena itu, ukuran kapan warga aman kembali ke rumah bukanlah ketika angka gempa susulan menjadi nol. Yang lebih penting adalah ketika bangunan telah dinyatakan aman, akses evakuasi tersedia, kebutuhan dasar pulih, dan tren aktivitas seismik menunjukkan peluruhan yang semakin jelas.
Untuk sementara, terutama bagi warga yang rumahnya rusak berat atau belum diperiksa, tenda dan tempat pengungsian yang aman masih lebih baik daripada memaksakan pulang ke bangunan yang sewaktu-waktu dapat runtuh ketika Flores kembali berguncang.

