Prabowo Jawab The Economist: Dalam Demokrasi, Kritik Tidak Hanya Sehat, tetapi Juga Penting
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Prabowo Subianto merespons tulisan The Economist berjudul “Archipelagoing fast” yang terbit pada 16 Maret 2026. Melalui jawaban tertulis yang dipublikasikan pada Rabu (10/6/2026), Prabowo menegaskan menyambut setiap kritik. Bahkan, Prabowo menyatakan, kritik tidak hanya sehat, tetapi juga penting di alam demokrasi.
Kepala Negara menyatakan, selalu memeriksa dengan teliti setiap kritik dan menilainya berdasarkan fakta, hasil, dan kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Dalam tulisan itu, Prabowo juga menegaskan demokrasi tidak sempurna, tetapi menjadi sistem terbaik saat ini. Untuk itu, Prabowo mengikuti proses demokrasi dengan mencalonkan diri sebagai calon presiden di lima kali pemilu sejak 2004 hingga terpilih pada 2024.
Baca Juga
Kepala Negara juga menegaskan Indonesia merupakan negara demokrasi dan akan tetap menjadi demokrasi.
"Izinkan saya menyatakan dengan jelas: Indonesia adalah negara demokrasi, dan akan tetap menjadi demokrasi. Saya dipilih oleh lebih dari 90 juta rakyat Indonesia dalam pemilu yang bebas dan adil," kata Prabowo dalam tulisannya di The Economist yang dikutip Kamis (11/6/2026).
Dalam tulisan itu, Prabowo menegaskan berbagai program prioritas pemerintah saat ini, seperti makan bergizi gratis (MBG), cek kesehatan gratis (CKG), hingga sekolah rakyat dirancang untuk menjawab persoalan yang nyata di tengah masyarakat. Bukan sekadar berangkat dari teori atau perdebatan akademis.
Program MBG misalnya, lahir dari kebutuhan mendesak untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat. Dikatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa tingginya angka stunting serta masih banyaknya ibu hamil dan balita yang belum mendapatkan asupan nutrisi yang memadai pada masa 1.000 hari pertama kehidupan.
“Bagi saya, sulit untuk mengabaikan kenyataan bahwa satu dari lima anak Indonesia mengalami stunting akibat kekurangan gizi. Atau kenyataan bahwa jutaan ibu hamil dan balita masih kekurangan nutrisi pada masa perkembangan paling penting dalam kehidupan manusia,” katanya.
Baca Juga
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Indonesia Harus Dikelola untuk Kesejahteraan Rakyat
Berikut pernyataan lengkap Prabowo kepada The Economist yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia:
“Kritik adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan mudah dengan tidak berkata apa-apa, tidak melakukan apa-apa, dan menjadi bukan apa-apa.” Setelah puluhan tahun mengabdi di militer, kehidupan publik, dan politik, saya akhirnya menghargai kebenaran dalam pepatah lama ini. Saya menyambut kritik. Dalam demokrasi, kritik bukan hanya sehat, tetapi juga penting. Saya selalu membiasakan diri untuk memeriksa dengan teliti setiap kritik yang ditujukan kepada pemerintah saya dan menilainya berdasarkan fakta, hasil, dan realitas yang dihadapi oleh warga biasa. Saya percaya pada demokrasi. Demokrasi memang tidak sempurna, tapi tetap menjadi sistem terbaik yang tersedia bagi kita. Oleh karena itu, saya mengikuti proses demokratis. Saya mencalonkan diri sebagai presiden bukan sekali, bukan dua kali, tapi lima kali sejak 2004, yaitu pada 2004, 2009, 2014, 2019, dan saya baru menang pada 2024. Saya benar-benar memahami bahwa legitimasi demokratis diperoleh melalui kesabaran, kepercayaan publik, dan rasa hormat terhadap kehendak rakyat.
Namun tanggung jawab kita sebagai pemerintah adalah bekerja untuk rakyat Indonesia, semuanya, bukan hanya lebih dari 90 juta yang memilih kami di pemilu terakhir. Kita perlu bekerja untuk masa depan bersama dan mewujudkan janji yang menjadi platform kami saat terpilih, seperti seharusnya setiap pemerintahan demokratis. Setelah beberapa dekade di mana Indonesia sering digambarkan sebagai negara dengan potensi yang belum terealisasi, kita bertekad memastikan bahwa bangsa ini akhirnya memenuhi janji dan kekuatan rakyatnya. Kami mengejar tujuan ini bukan melalui dogma atau ideologi kaku, tapi lewat pragmatisme, profesionalisme, dan hasil yang terukur. Namun, terkadang beberapa kritik bisa terlihat tidak sejalan dengan realitas yang dihadapi orang Indonesia biasa.
Saya merasa terkejut, misalnya, oleh betapa mudahnya mengkritik program makanan bergizi gratis kami. Karena bagi saya, sulit untuk mengabaikan fakta bahwa satu dari lima anak Indonesia mengalami stunting akibat malnutrisi. Atau bahwa jutaan ibu hamil dan balita kekurangan nutrisi yang memadai selama periode perkembangan terpenting dalam kehidupan manusia. Lebih dari 100 negara di seluruh dunia menjalankan program dukungan nutrisi atau makanan di sekolah dalam satu bentuk atau lainnya. Indonesia tidak melakukan sesuatu yang radikal atau tidak biasa. Kami sedang menangani tantangan nasional yang secara langsung memengaruhi kesehatan, produktivitas, dan daya saing masa depan masyarakat kami.
Filosofi yang sama juga menjadi panduan investasi kami yang lebih luas untuk masa depan Indonesia. Bersamaan dengan perluasan makanan bergizi gratis di seluruh negeri, kami telah meningkatkan fasilitas rumah sakit, menawarkan pemeriksaan kesehatan gratis tahunan untuk setiap warga, meluncurkan program revitalisasi sekolah terbesar dalam sejarah Indonesia, mendirikan asrama sekolah rakyat untuk anak-anak dari keluarga termiskin, dan menciptakan Danantara untuk memperkuat pengelolaan aset nasional serta memastikan Indonesia mendapatkan lebih banyak nilai dari transformasi ekonomi jangka panjangnya sendiri. Kami berjanji kepada rakyat Indonesia bahwa kami akan menjalankan program-program ini, dan kami telah bekerja keras untuk menepati janji tersebut.
Kesalahpahaman serupa sering muncul dalam diskusi tentang agenda ekonomi kita yang lebih luas. Beberapa kritikus melihat campur tangan yang berlebihan. Saya melihat para petani terjebak oleh tengkulak, nelayan terjerat pinjaman yang mencekik, dan keluarga pedesaan membayar harga yang tinggi untuk barang bersubsidi. Sistem lama memperkaya para perantara sementara meninggalkan para produsen lemah dan rentan. Kami telah memilih jalur yang berbeda, yang memberdayakan produsen dengan mempersingkat rantai pasok, memperluas akses kredit yang terjangkau, dan memperkuat ketahanan pangan serta energi. Makanya, ada program koperasi desa kami.
Saat saya mulai menjabat, jutaan petani Indonesia masih kesulitan mengakses pupuk bersubsidi karena distribusinya terjebak di balik 145 peraturan yang saling tumpang tindih. Kami menyederhanakan sistem menjadi satu peraturan presiden dan memungkinkan distribusi langsung. Kami mengerahkan lebih dari 77.000 pompa air untuk mendukung produktivitas pertanian dan menaikkan harga pembelian pemerintah untuk beras guna melindungi petani dari pendapatan yang jatuh. Hari ini, Indeks Kesejahteraan Petani telah mencapai level tertinggi dalam 34 tahun.
Ini semua bukan teori ekonomi yang abstrak. Ini adalah perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Rakyat saya butuh hasil, dan cepat. Oleh karena itu, saya telah meminta kepolisian dan angkatan bersenjata kami untuk membantu memberikan hasil bagi rakyat, merehabilitasi Sumatera setelah banjir yang menghancurkan, membangun jembatan, dan membantu memastikan ketahanan pangan. Di Indonesia, lembaga negara harus bekerja sama bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tetapi juga untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari warga biasa.
Tentu saja, Indonesia saat ini beroperasi dalam lingkungan global yang sulit dan tidak pasti. Perang dan ketegangan geopolitik telah meningkatkan volatilitas di pasar energi, pangan, dan keuangan di seluruh dunia. Namun Indonesia tetap tangguh. Kami mencatat tingkat pertumbuhan tertinggi kedua di antara ekonomi G20 pada kuartal pertama tahun 2026. Defisit anggaran kita tetap di bawah 3% dari PDB, sementara rasio utang terhadap PDB masih jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara maju.
Pada saat yang sama, kita telah memperkuat disiplin fiskal dan integritas kelembagaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita mengurangi pengeluaran yang boros lebih dari Rp 300 triliun (US$17 miliar), memperkuat digitalisasi pajak, meningkatkan tata kelola ekspor, menindak penyelundupan, dan menjaga disiplin defisit meski ada gejolak global.
Sementara itu, kita terus berinvestasi untuk kedaulatan dan ketahanan jangka panjang Indonesia. Kita mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor melalui biodiesel B50, mempercepat pengembangan kendaraan listrik, memperluas energi surya, membangun kilang baru dan cadangan bahan bakar strategis, serta memformalkan produksi minyak masyarakat agar produsen kecil dapat berpartisipasi dalam ekonomi formal.
Masa-masa ketidakpastian ini menuntut akal sehat, untuk mendukung dan memajukan, baik rakyat kita maupun ekonomi kita. Dan yang lebih penting lagi, demokrasi kita.
Izinkan saya menyatakan ini dengan jelas: Indonesia adalah demokrasi, dan akan tetap menjadi demokrasi. Saya dipilih oleh lebih dari 90 juta orang Indonesia dalam pemilihan yang bebas dan adil, dan saya merasa terhormat telah menerima lebih banyak suara daripada pemimpin lain di dunia.
Dalam budaya kita, memilih kerja sama lebih utama daripada perpecahan politik yang permanen, kerendahan hati lebih baik daripada permusuhan politik yang tak berujung. Apakah Indonesia harus meniru polarisasi, kepahitan, dan kelumpuhan yang semakin terlihat di beberapa bagian Barat untuk membuktikan bahwa dirinya cukup demokratis?
Kami telah memilih jalan yang berbeda. Kami percaya demokrasi harus menghasilkan stabilitas, kesopanan, dan kemajuan, bukan kelumpuhan. Sejarah tidak akan menilai kita berdasarkan seberapa indah kita mempertahankan status quo. Sejarah akan menilai kita apakah kita berhasil menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi rakyat kita. Selama bertahun-tahun, Indonesia tumbuh sekitar 5%, dan itu belum cukup. Kami bercita-cita mencapai 8%. Kami tidak akan sampai ke sana dengan melakukan apa yang selalu kami lakukan. Dalam hal kami, merasa puas dengan status quo berarti stagnasi. Dan itu bukan jalan yang akan kami pilih. Juga ada insiden dan tindakan dari individu yang mungkin tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip atau niat saya, yang berkontribusi pada persepsi yang tidak adil di luar negeri, termasuk klaim tentang kemunduran demokrasi di bawah kepemimpinan saya. Itu adalah tantangan yang harus saya hadapi dan atasi. Tapi pada akhirnya, Indonesia seharusnya dinilai bukan dari insiden tunggal atau karikatur, tapi dari kekuatan institusinya, keterbukaan masyarakatnya, dan kesejahteraan rakyatnya.
Indonesia tidak takut dengan pengawasan. Para kritikus akan membuat kami bertanggung jawab, dan itulah yang memang seharusnya mereka lakukan.
Saya menyambut media. Mungkin saya adalah presiden Indonesia pertama yang duduk, direkam, untuk wawancara empat jam tanpa naskah, tidak hanya sekali, tapi sudah dua kali. Saya memahami bahwa kepemimpinan dalam demokrasi membutuhkan keterbukaan, akuntabilitas, dan kesediaan untuk menghadapi pertanyaan sulit secara langsung.
Sebagai pemerintahan, kami akan menanggapi kritik bukan dengan retorika, tapi dengan hasil, yang bisa diukur oleh siapa saja, di mana saja.
Ini adalah jalan yang kami pilih."

