Mendes Yandri Soroti Sepinya Desa di Jepang dan Korsel
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun desa demi mewujudkan visi Astacita Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan keberhasilan pembangunan nasional tidak bisa dicapai sendirian, melainkan harus melalui kerja sama tim yang solid atau super team.
"Jadi kita ini super team. Jadi enggak bisa kita ini bekerja sendiri-sendiri, ya. Keberhasilan Republik ini bukan karena tangan seseorang atau kementerian/lembaga saja, bukan. Tapi dia mesti berkolaborasi," ujar Yandri Susanto dalam sambutannya saat acara Aksi dan Kolaborasi Lintas Sektor Mendorong Akselerasi Program Bapak Presiden Prabowo Subianto Mendukung Asta Cita ke-6 bertajuk "Membangun dari Desa dan dari Bawah untuk Pemerataan Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan" di Gedung Utama Kemendes, Kalibata, Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga
Mendes PDT Optimalkan Potensi Desa Melalui Kolaborasi Lintas Sektor dan Program Desa Tematik
Menurut Yandri, komitmen terhadap desa merupakan poin krusial dalam pemerintahan saat ini. Ia menyebut bahwa baru di era Presiden Prabowo Subianto desa mendapatkan perhatian yang sangat spesifik melalui visi pembangunan dari bawah.
"Karena ada Astacita keenam. Belum ada presiden Republik Indonesia dari pertama sampai ketujuh yang mempunyai Astacita tentang desa. Belum ada. Baru Bapak Presiden Prabowo yang meletakkan desa itu penting. Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi, sekaligus pemberantasan kemiskinan," tegasnya.
Belajar dari Krisis Desa di Jepang dan Korea Selatan
Dalam kesempatan tersebut, Yandri memberikan peringatan mengenai ancaman urbanisasi yang berlebihan. Ia mengambil contoh kondisi di Jepang dan Korea Selatan, di mana desa-desa mulai ditinggalkan penghuninya hingga menyebabkan ribuan rumah kosong.
"Kita tidak mau seperti Jepang. Jepang hari ini tinggal 7% rakyat Jepang yang tinggal di desa. Tinggal 7%. 93% desa di Jepang kosong. Kenapa? Ya urbanisasinya tidak bisa ditahan," ungkap Yandri.
Ia menambahkan gambaran miris mengenai properti di Jepang akibat fenomena tersebut. Di Jepang, katanya, terdapat 8 juta rumah yang dilelang.
"Dulu miliaran rupiah harganya, sekarang 7 juta pun enggak laku. Ada 8 juta rumah di desa-desa Jepang itu kosong," kata Yandri.
Selain Jepang, Yandri juga menyoroti 83% masyarakat Korea Selatan telah meninggalkan desa. Menurutnya, jika desa tidak diurus dengan serius, hal tersebut akan menjadi ancaman nyata bagi bangsa Indonesia.
Sebagai solusi, Mendes PDT mengajak kampus, sektor swasta, BUMN, hingga kementerian lain untuk memiliki "desa binaan". Ia mengusung tagline khusus untuk menggerakkan semangat ini.
"Maka tagline kami, 'Bangun Desa, Bangun Indonesia'. Jadi kalau kita membangun desa, otomatis membangun Indonesia. Kalau kita tidak membangun desa, artinya kita tidak membangun Indonesia," imbuhnya.
Saat ini, Kementerian Desa telah menyiapkan berbagai program tematik, mulai dari Desa Ekspor, Desa Wisata, hingga Desa Ayam Petelur dan Desa Nila. Namun, Yandri mengakui kendala infrastruktur seperti listrik dan sinyal masih menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan bersama.
"Kita sekarang buat Desa Ayam Petelur, Desa Ayam Pedaging, Desa Nila, Desa Jagung, semua kita buat Pak Dirut. Tapi sekali lagi kalau nggak ada listriknya ini berat. Berat ini kalau nggak ada listriknya, nggak ada sinyalnya berat," katanya.
Baca Juga
Mendes PDT Yandri Susanto Puji Kebijakan Presiden Pertahankan Harga BBM Subsidi
Lebih lanjut, Yandri mengajak seluruh pihak untuk menjadikan jabatan dan kehormatan yang dimiliki saat ini sebagai warisan (legacy) yang bermanfaat bagi masyarakat desa.
"Jangan sampai kesempatan dan kemuliaan ini tidak ada legasi untuk desa-desa di Indonesia. Kita geser air mata kemiskinan menjadi air mata kebahagiaan di desa-desa di Indonesia," katanya.

