Kinerja 2025 Ditopang Emas dan Nikel, Merdeka Copper (MDKA) Ungkap Target di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat penurunan pendapatan konsolidasi sebesar 15% menjadi US$ 1,89 miliar pada 2025, dibandingkan US$ 2,23 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, laba tahun berjalan perseroan justru meningkat dari US$ 9,80 juta menjadi US$ 16,15 juta. Namun demikian perseroan justru mencatat rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$ 62,06 juta, dibandingkan tahun 2024 dengan rugi pengendali US$ 55,76 juta.
Baca Juga
Produksi Emas & Tembaga Naik, Saham Merdeka Copper (MDKA) Direkomendasikan Beli
Penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh berkurangnya kontribusi seiring pergeseran sementara fokus perusahaan ke operasi NPI, produksi tembaga yang lebih rendah, serta kegiatan pemeliharaan pada fasilitas NPI.
Namun, penurunan tersebut sebagian diimbangi oleh peningkatan kontribusi dari penjualan emas dan bijih nikel, didukung kenaikan harga jual rata-rata emas serta peningkatan volume penjualan bijih nikel.
Manajemen MDKA dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin menyebutkan bahwa EBITDA konsolidasi MDKA meningkat 13% menjadi US$ 373 juta dari US$ 329 juta pada 2024. Peningkatan ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat serta didorong oleh kenaikan penjualan NPI, bijih nikel, dan penguatan harga emas.
Kontribusi EBITDA terbesar berasal dari emas sebesar US$ 149 juta, diikuti NPI US$ 145 juta, bijih nikel US$ 87 juta, tembaga US$ 27 juta, serta HGNM US$ 10 juta, setelah dikurangi biaya lainnya termasuk biaya umum perusahaan.
Target Produksi 2026
Untuk 2026, MDKA menargetkan produksi emas sebesar 80.000–90.000 ons dengan biaya kas US$ 1.150–1.250 per ons (di luar royalti dan kredit perak), serta produksi tembaga 4.000–5.000 ton dengan biaya kas US$ 2,80–3,50 per pon.
Baca Juga
MDKA-EMAS dan ANTM Teken Kontrak Penjualan Emas 3 Ton per Tahun, Perkuat Rantai Pasok Emas Nasional
Produksi NPI ditargetkan berada pada kisaran 70.000–80.000 ton dengan biaya kas di bawah US$ 10.500 per tNi. Pengiriman bijih saprolit diproyeksikan 8,0–10,0 juta wmt, sementara penjualan bijih limonit diperkirakan 20,0–25,0 juta wmt, dengan biaya kas masing-masing di bawah US$ 21/wmt dan US$ 11/wmt (di luar royalti).
Pada 2026, fokus utama grup adalah memaksimalkan potensi pabrik AIM, meningkatkan volume penambangan di tambang SCM, serta meningkatkan kapasitas produksi tambang emas Pani. Perseroan juga menargetkan kemitraan baru untuk pengembangan HPAL dan TB Copper.
Pengembangan Proyek
Selain itu, manajemen MDKA mengungkap perkembangan sejumlah proyek strategis masih terus berjalan. Proyek Tembaga Tujuh Bukit telah memasuki tahap feasibility study dengan sumber daya awal Gua Macan sebesar 206 juta ton bijih dengan kadar 0,16% Cu dan 0,24 g/t Au.
Baca Juga
Laba Kalbe Farma (KLBF) Naik 15,3% di 2025, Penjualan Tembus Rp35,32 Triliun
Sementara itu, proyek Emas Pani telah memulai operasi pelindian dengan kapasitas 8 juta ton per tahun dan menargetkan peningkatan hingga 10 juta ton per tahun serta CIL 12 juta ton per tahun. Pada kuartal I 2026, proyek ini telah mencatat penjualan emas perdana sebesar 16,06 kg ke Antam dan mengajukan listing ke Bursa Efek Hong Kong.
Di sisi lain, proyek HPAL melalui PT ESG telah memproduksi sekitar 26 ribu tNi MHP pada 2025, sementara PT SLNC terus mengembangkan proyek HPAL berkapasitas 90.000 tpa dengan progres konstruksi signifikan dan target operasi pada paruh kedua 2026.

