Alasan Ini Pemicu IHSG Terjun hingga 3,05% ke 7.137
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk sebanyak 3,05% ke posisi 7.137,21 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (13/3/2026). Bahkan, indeks sempat menyentuh level terendah di 7.132,21.
Dengan demikian, IHSG sepanjang pekan ini turun tajam mencapai 5,91% dari 7.585 menjadi 7.137. Nilai kapitalisasi pasar (market cap) BEI tergerus Rp 949 triliun hanya dalam sepekan. Adapun kejatuhan IHSG year to date (ytd) telah mencapai 17,46% atau terburuk di dunia.
Baca Juga
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian mengatakan, isu peluang kenaikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi di atas 3% menjadi sentimen utama pemberat perdagangan saham BEI hari ini.
“Meskipun secara komparatif defisit Indonesia masih lebih terjaga, dibanding banyak negara berkembang lainnya. Namun fokus investor saat ini bukan pada angka defisit, melainkan pada kualitas alokasi anggaran,” kata Azharys saat dihubungi investortrust.id, Jumat (13/3/2026).
Ia menambahkan, lembaga pemeringkat internasional juga cenderung sensitif terhadap perubahan kebijakan fiskal yang agresif, apabila tidak diikuti dengan strategi peningkatan pendapatan negara yang jelas.
Baca Juga
Prabowo Kaji Penerapan WFH untuk Hemat BBM Imbas Perang Iran
Dari sisi likuiditas, nilai transaksi yang relatif kecil di kisaran Rp11,9 triliun menunjukkan adanya lack of confidence atau absennya aliran dana besar di pasar. Rendahnya partisipasi investor tersebut membuat pergerakan IHSG menjadi lebih volatil dan mudah tertekan meskipun tekanan jual tidak terlalu besar.
Ke depan, Azharys menilai, tekanan jual masih akan membayangi pergerakan IHSG dalam beberapa waktu mendatang. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh jumlah hari perdagangan yang terbatas pada pekan depan.
“Pekan depan hanya memiliki dua hari bursa efektif. Secara historis, menjelang libur panjang atau pekan pendek, investor cenderung melakukan profit taking atau membatasi paparan risiko (risk-off), sehingga volume perdagangan diprediksi akan tetap tipis,” ujarnya.
Uji Support 7.000
Selain itu, IHSG saat ini juga tengah menguji area support psikologis di level 7.000. Jika level tersebut ditembus dengan volume yang meningkat, maka fase konsolidasi diperkirakan akan berlangsung lebih panjang sebelum indeks menemukan basis rebound yang lebih kuat.
Baca Juga
Stabilkan Harga di Pasar, Astra International (ASII) akan Buyback Saham Rp 2 Triliun
Di tengah kondisi pasar yang volatil, strategi investasi yang dinilai relevan adalah beralih ke saham-saham dengan fundamental kuat serta memiliki katalis jangka pendek yang jelas atau bersifat defensive play.
Salah satu sektor yang dapat dicermati adalah perbankan, khususnya bagi investor yang memburu dividen. Emiten yang akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan memiliki rekam jejak pembagian dividen menarik dinilai berpotensi menjadi pilihan pasar.
“Sektor perbankan, fokus utama tertuju pada emiten yang akan menyelenggarakan RUPS dan memiliki histori pembagian dividen yang menarik. BBCA, BBNI, dan BNGA patut dicermati karena potensi dividend yield dapat menjadi bantalan terhadap penurunan harga saham lebih lanjut,” terangnya.

