Permata Bank (BNLI) Cetak Laba Bersih Rp 3,6 Triliun di 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank mencetak laba bersih Rp 3,6 triliun pada 2025, naik 0,6% dibanding tahun sebelumnya (year on year/yoy). Perolehan laba bersih perseroan ditopang pendapatan yang tumbuh 3,8% menjadi Rp 12,6 triliun.
Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad mengungkapkan, Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, hati-hati (prudent), dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan.
Menurut Rudy, dengan fundamental yang resilient (tahan banting), dukungan penuh dari Bangkok Bank, serta kepercayaan seluruh pemangku kepentingan, Permata Bank mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan serta kualitas aset yang tetap terjaga.
"Kami yakin dengan tetap menjaga skala dan relevansi, Permata Bank dapat terus tumbuh berkelanjutan serta menjadi bank pilihan dan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan finansial sehari-hari, keluarga dan bisnis mereka," ujar Rudy dalam acara paparan publik perseroan di Permata Bank Head Office, Gedung WTC 2, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Baca Juga
Didorong Segmen Korporasi, Kredit Permata Bank (BNLI) Naik 5,5%
Rudy Basyir menjelaskan, Permata Bank mencatatkan kinerja positif hingga akhir 2025 dengan pertumbuhan total pendapatan 3,8% menjadi Rp 12,6 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya pendapatan nonbunga yang signifikan sebesar 34,1% menjadi Rp 2,6 triliun.
Kinerja tersebut, kata Rudy, turut mendorong pencapaian laba setelah pajak sebesar Rp 3,6 triliun. Di sisi neraca, total aset Permata Bank meningkat 3,6% (yoy) menjadi Rp 268,3 triliun. Sedangkan simpanan nasabah tumbuh 3,9% (yoy) menjadi Rp 192,8 triliun, didukung pertumbuhan current account saving account (CASA) sebesar 20,1%. Alhasil, rasio dana murah yang berasal dari tabungan dan giro itu meningkat menjadi 63,9%.
Rudy Basyir mengemukakan, di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global, Permata Bank tetap menjaga kondisi likuiditas dan permodalan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. loan-to-deposit rasio (LDR) tercatat 84,5%, sementara rasio likuiditas Basel III berada jauh di atas batas minimum dengan liquidity coverage ratio (LCR) rata-rata 296,5% dan net stable funding ratio (NSFR) 126,8%.
"Struktur permodalan Permata Bank juga sangat solid, dengan rasio CAR (capital adequacy ratio) sebesar 34,6% dan CET-1 (common equity tier 1) sebesar 26,6%. Ini menjadikan Permata Bank sebagai salah satu yang terkuat di antara bank-bank umum komersial terbesar di Indonesia," papar Rudy.
Baca Juga
Dikerek Kredit, Laba Permata Bank (BNLI) Tumbuh 4,9% Jadi Rp 5 Triliun di Kuartal III 2025
Penyaluran kredit Permata Bank, menurut Rudy, tumbuh 5,5% (yoy) menjadi Rp 163,3 triliun, dengan kontribusi utama dari segmen korporasi yang meningkat 11,2% menjadi Rp 99,6 triliun. Kualitas kredit tetap terjaga stabil dengan rasio non-performing loans (NPL) gross di level 2,1% dan loan at risk (LAR) membaik menjadi 6,3%.
“Selain itu, Permata Bank mempertahankan tingkat pencadangan yang konservatif dengan rasio NPL coverage sebesar 356% dan LAR coverage sebesar 118%, serta secara proaktif melakukan restrukturisasi, litigasi, dan penjualan aset untuk penyelesaian kredit bermasalah,” tutur dia.
Rudy Basyir Ahmad menambahkan, kontribusi Permata Bank Unit Usaha Syariah juga menunjukkan kinerja positif. Sepanjang tahun lalu, Permata Bank Unit Usaha Syariah mencatat laba operasional sebelum provisi sebesar Rp 785,3 miliar, tumbuh 8,1% (yoy).
"Pertumbuhan ini didukung pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang tumbuh 6,4% (yoy) dan konsistensi pengendalian biaya dengan baik," jelas Rudy.

