Tujuh Perusahaan Antre IPO di BEI, Didominasi Sektor Keuangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tujuh perusahaan dalam antrean untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyampaikan, dari total tujuh perusahaan tersebut, enam di antaranya merupakan perusahaan dengan aset skala besar. Sedangkan satu perusahaan lainnya masuk kategori beraset skala menengah.
“Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman dalam keterangannya, dikutip Minggu (8/3/2026).
Baca Juga
Berdasarkan klasifikasi BEI, perusahaan dengan aset skala besar merupakan entitas yang memiliki total aset di atas Rp 250 miliar. Sedangkan perusahaan beraset menengah memiliki nilai aset berkisar Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
Nyoman Yetna menjelaskan, dari tujuh perusahaan yang masuk daftar rencana (pipeline) IPO, sebanyak tiga perusahaan berasal dari sektor keuangan. Kemudian masing-masing satu perusahaan berasal dari sektor transportasi dan logistik, sektor barang konsumen primer, sektor energi, serta sektor kesehatan.
Nyoman mengakui, hingga 6 Maret 2026, BEI mencatat belum terdapat perusahaan yang merealisasikan IPO tahun ini. Dengan kondisi tersebut, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia masih berada di level 956 emiten per 6 Maret 2026, sama seperti posisi pada akhir 2025.
Di sisi lain, kata dia, aktivitas penghimpunan dana melalui penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) masih berlangsung. Sampai 6 Maret 2026, BEI mencatat telah terjadi 37 emisi dari 26 penerbit EBUS dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 41,41 triliun.
Baca Juga
Mandiri Sekuritas: Emiten di Pipeline IPO Sudah Sesuaikan Free Float 15%
Pada periode yang sama, Nyoman mengungkapkan, terdapat 20 emisi dari 13 penerbit EBUS yang saat ini masih berada dalam pipeline untuk menerbitkan instrumen tersebut.
Sementara itu, dari aksi korporasi penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue) atau penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), hingga 6 Maret 2026 tercatat tiga perusahaan telah melaksanakan penambahan modal dengan HMETD dengan total nilai Rp 3,75 triliun.
“Adapun dalam antrean rights issue, saat ini terdapat satu perusahaan yang tengah bersiap melakukan aksi tersebut, yang berasal dari sektor property,” tutur Nyoman Yetna.

