Pasokan Bahan Baku Tersendat Akibat Perang Iran, Saham TPIA dan BRPT Anjlok!
JAKARTA, investortrust.id – Produsen petrokimia nasional PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyatakan force majeure akibat terganggunya pengiriman pasokan bahan baku produksi petro kimia. Pasokan tersendar setelah Iran menutup Selat Hormuz, menyusul serangan AS-Israel ke Iran.
Secara bersamaan berita tersebut memicu penurunan dahsyat saham TPIA sebanyak Rp 500 (8,58%) pada perdagangan intraday sesi II, Rabu (4/3/2026). Begitu juga dengan induk usahanya PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terjun sebanyak Rp 150 (8,43%) menjadi Rp 1.630.
Baca Juga
Danantara dan INA Gelontorkan Investasi US$ 200 Juta di Proyek CA-EDC Chandra Asri (TPIA)
Mengutip laporan Bloomberg, Rabu (4/3/2026), perusahaan yang berbasis di Jakarta tersebut telah menyampaikan pemberitahuan kepada pelanggan terkait gangguan pengiriman. Dalam pemberitahuan itu disebutkan bahwa durasi force majeure masih belum dapat dipastikan.
“Kami memantau dengan cermat situasi yang berkembang antara Amerika Serikat dan Iran dan telah menerapkan tindakan pencegahan untuk menjaga ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” demikian pernyataan manajemen TPIA pada Selasa.
Sebagai bagian dari langkah-langkah ini disebutkan TPIA akan menyesuaikan tingkat operasi (tingkat berjalan) di pabrik kami.
Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah mengganggu arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Sejak terjadinya serangan di kawasan tersebut, hanya sedikit kapal tanker minyak yang melintasi jalur tersebut. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati perairan sempit itu.
Baca Juga
BRPT Genjot Energi Terbarukan & Petrokimia, Potensi Cuan Bisa di Atas 43%
Chandra Asri mengoperasikan kompleks petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang memproduksi olefin dan poliolefin. Perseroan juga memiliki serta mengelola aset kilang dan kimia hilir di Singapura melalui skema joint venture, sebagaimana tercantum dalam laman resminya.
Aset perseroan mencakup kilang berkapasitas 237.000 barel per hari serta fasilitas naphtha cracker berkapasitas 0,9 juta metrik ton per tahun.

