BRPT Genjot Energi Terbarukan & Petrokimia, Potensi Cuan Bisa di Atas 43%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memperkuat posisinya sebagai perusahaan energi terbarukan terbesar di Indonesia melalui anak usahanya, PT Barito Renewables (BREN), yang memiliki kapasitas terpasang sekitar 910,3 MW. BRPT juga tercatat sebagai perusahaan petrokimia terbesar di Tanah Air melalui anak usahanya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Peluang pertumbuhan pesat kinerja keuangan melalui ekspansi tersebut mendorong Henanputihrai untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BRPT dengan target harga Rp 4.100. Target tersebut menunjukkan peluang cuan lebih dari 43%, dibandingkan harga penutupan saham BRPT kemarin level Rp 2.860.
Baca Juga
Barito Pacific (BRPT) Serap Capex US$ 480 Juta hingga Kuartal III-2025, Fokus ke Proyek Ini
Saat ini, BREN membidik kapasitas terpasang pembangkit meningkat sebanyak 2,3 GW pada 2032, terdiri atas sekitar 1,9 GW panas bumi (geothermal) dan 400 MW energi angin (wind power). Ekspansi energi baru dan terbarukan (EBT) dilakukan melalui optimalisasi aset panas bumi eksisting yang ditargetkan menambah sekitar 119 MW dalam tiga tahun ke depan.
Penambahan juga dilakukan dengan pengembangan proyek greenfield skala besar, seperti Hamiding di Maluku Utara dan South Sekincau di Sumatra. Di sisi lain, proyek tenaga angin Sidrap 2, Lombok, dan Sukabumi menjadi katalis tambahan dalam pembangunan kapasitas EBT BRPT.
Selain energi terbarukan, emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu (BRPT) ini mempertahankan dominasinya di sektor petrokimia melalui anak usaha PT Chandra Asri Tbk (TPIA), produsen petrokimia terbesar di Indonesia, dengan kapasitas produksi sekitar 4,2 juta ton per 2024 atau setara sekitar 40% kapasitas nasional.
Baca Juga
Pengendali Prajogo kembali Tambah Saham Barito Renewables (BREN)
TPIA bersama Glencore juga telah menyelesaikan akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) pada kuartal I-2025 di Singapura. SECP kini berganti nama menjadi Aster Chemicals and Energy (ACE). Transaksi tersebut meningkatkan kapasitas produksi petrokimia perseroan menjadi sekitar 20 juta ton per tahun mulai 2025. Di saat yang sama, TPIA terus melanjutkan pembangunan pabrik Chlor Alkali Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon dengan target pengoperasian mulai 2027 dengan kapasitas produksi diproyeksikan mencapai 21 juta ton per tahun.
“Dalam konteks transisi energi nasional, strategi BRPT sejalan dengan rencana pengembangan ketenagalistrikan jangka panjang yang lebih agresif. PLN menargetkan pembangunan kapasitas EBT sekitar 42,6 GW dalam kurun waktu 10 tahun, setara 61% dari total tambahan kapasitas sekitar 69,5 GW. Porsi energi panas bumi diproyeksikan bertambah 5,2 GW, tenaga angin bertambah 7,2 GW,” tulis analis Henan Putihrai Dennis Tay dalam riset yang diterbitkan pekan ini.
Akselerasi Kinerja
Dennis mengatakan, sejumlah aksi korporasi tersebut membuat BRPT sedang memasuki fase akselerasi kinerja keuangan dan fundamental profitabilitas. “Pendapatan konsolidasi diperkirakan tumbuh CAGR sekitar 41,4% selama 2024-2029 dari US$ 2,4 miliar menjadi US$ 13,5 miliar, seiring kenaikan kontribusi petrochemical serta renewable,” tulisnya.
Henanputihrai juga memperkirakan CAGR EBITDA sekitar 40,2% dari US$ 577 juta menjadi US$ 3,1 miliar, yaitu sebagai cerminan dan profil laba yang semakin berkualitas. Begitu juga dengan total aset diproyeksikan meningkat dari US$ 10,5 miliar pada 2024 menjadi US$ 20,2 miliar pada 2029.

