Target Harga Saham Indosat (ISAT) Dipertahankan Rp 3.000, Sejumlah Faktor Ini Jadi Pendukung
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek dan target harga saham PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) masih menarik, seiring dengan pertumbuhan kuat kinerja keuangan tahun lalu. Prospek kuat perseroan juga didukung peluang kenaikan dividend yield dari divestasi FiberCo.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ISAT dengan target harga Rp 3.000. Target harga ini mengimplikasikan EV/EBITDA sekitar 4,3 kali. Target harga ini juga merefleksikan petunjuk manajemen untuk menaikkan rasio dividen secara bertahan menuju 70% pada 2028, dibandingkan tahun buku 2024 sebesar 55%.
Baca Juga
Indosat (ISAT) Tutup 2025 dengan Kinerja Solid, Laba Bersih Naik 12,2%
Target harga tersebut juga merefleksikan revisi naik target kinerja keuangan ISAT tahun ini. Target laba bersih tahun 2026 direvisi naik dari sebelumnya Rp 5,60 triliun menjadi Rp 6,47 triliun, bandingkan dengan tahun 2025 senilai Rp 5,51 triliun.
Begitu juga dengan proyeksi pendapatan tahun ini direvisi naik dari semula Rp 58,93 triliun menjadi Rp 59,44 triliun, dibandingkan tahun 2025 sebanyak Rp 56,51 triliun. Prediksi EBITDA juga direvisi naik dari semula Rp 28,06 triliun menjadi Rp 28,07 triliun, dibandingkan tahun lalu Rp 26,59 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta dalam riset yang dirilis kemarin mengatakan, saat ini, ISAT diperdagangkan pada level menarik 4,3 kali dari target EV/EBITDA tahun 2026 sekitar 5,3 kali atau sekitar -1,2 standar deviasi dari rata-rata historis.
Baca Juga
Monetisasi Aset Fiber Optik Rp 14,6 Triliun, Indosat (ISAT) Mantap Kebut Infrastruktur Digital
“Target harga tersebut juga mempertimbangkan dividend payout ratio (DPR) ISAT tahun ini bisa mencapai 60%, dibandingkan dengan tahun lalu sekitar 55% dari perolehan laba bersih,” tulis riset tersebut.
Tambahan katalis positif saham ISAT, tulis BRI Danareksa Sekuritas, juga datang dari rencana penjualan aset fiber dengan target dana bersih sekitar US$ 560 juta pada kuartal II atau III-2026. “Setelah memperhitungkan potensi biaya lisensi spektrum sekitar Rp 3,4 triliun, terdapat peluang dividend yield spesial sekitar 8,2%,” terangnya.

