Pefindo Nilai Dampak Outlook Negatif Moody’s ke Yield SBN Relatif Terbatas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Economist Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, menilai perubahan outlook Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s memang berpotensi meningkatkan persepsi risiko. Namun, ia menegaskan faktor tersebut bukan satu-satunya penentu pergerakan yield di pasar surat utang domestik.
“Terkait dengan outlook negatif dari Moody's, ini benar bisa menjadi persepsi risiko yang mengalami peningkatan, tapi sebenarnya kalau kita lihat secara pricing di pasar surat utang kan tidak hanya dipengaruhi oleh itu,” kata Suhindarto saat menjawab pertanyaan investortrust.id dalam Konferensi Pers secara daring, Rabu, (11/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa kenaikan yield yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir lebih dipengaruhi oleh dinamika global ketimbang faktor domestik semata. Sejak awal tahun, kondisi eksternal dinilai kurang kondusif, mulai dari isu perang, tingginya ketegangan geopolitik, hingga aksi saling ancam tarif antara Eropa dan Amerika Serikat. Berbagai tekanan tersebut mendorong kenaikan yield acuan global yang kemudian turut berdampak pada pergerakan yield di pasar domestik.
Dari dalam negeri, ia menyoroti realisasi inflasi Januari yang berada di atas rentang target Bank Indonesia. Meski pertumbuhan ekonomi dinilai tetap baik, inflasi tercatat sekitar 3,55%, sedikit melampaui batas atas target BI sebesar 2,5±1% atau maksimal 3,5%. "Artinya lebih tinggi dibandingkan dengan target yang mana ini akhirnya membuat pasar menginspirasikan bahwa suku bunga acuan di dalam negeri sendiri masih akan terus dijaga,"
Baca Juga
Multifinance Jadi ‘Issuer’ Surat Utang Terbesar, Capai Rp37,91 Triliun
Ia juga menilai arah kebijakan suku bunga global masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Saat ini, pasar memperkirakan bank sentral global baru akan mulai menurunkan suku bunga paling cepat pada Juni, atau sekitar akhir semester I hingga awal semester II. Artinya, dalam beberapa bulan ke depan, suku bunga global kemungkinan masih tetap tinggi, sehingga investor cenderung bersikap hati-hati dan menahan ekspektasi penurunan suku bunga di dalam negeri.
Lebih lanjut, ia menjelaskan inflasi awal tahun ini berpotensi tetap tinggi karena efek basis dari diskon listrik pada Januari dan Februari 2025. Saat itu, tarif listrik didiskon sehingga angka inflasi menjadi lebih rendah. “Yang mana itu nantinya akan berpotensi menekan baseline-nya, sehingga inflasi di tahun 2026 ini di Januari dan Februari masih akan tinggi, yang mana kalau di 2 bulan itu tinggi berarti BI masih akan juga menahan suku bunga acuannya, seenggaknya hingga berarti di kuartal I,” lanjutnya.
Ia menilai Bank Indonesia kemungkinan baru akan menurunkan suku bunga setelah The Fed melakukannya pada semester kedua. Karena itu, sepanjang semester I tahun ini peluang penurunan suku bunga domestik dinilai masih kecil.
"Maka yield-nya juga akan cenderung sideways dengan kecenderungan mengalami peningkatan, sehingga memang meningkatnya yield dan biaya dana ini sendiri bukan karena semata-mata penurunan outlook, atau perubahan outlook dari stabil menjadi negatif, tapi banyak faktor lain yang juga berpengaruh," tandas dia.

