Laba Reliance Sekuritas (RELI) Melonjak 79% pada 2025, Ditopang Efisiensi Biaya dan Nasabah Prioritas
JAKARTA, investortrust.id – PT Reliance Sekuritas Tbk (RELI) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 79% menjadi Rp38,12 miliar pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp21,30 miliar. Kinerja positif ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan usaha yang melesat 37,2% menjadi Rp62,15 miliar.
Direktur Utama Reliance Sekuritas Akhabani menyampaikan, peningkatan laba bersih tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang dibarengi dengan pengendalian biaya secara efektif. Sepanjang 2025, perseroan berhasil menurunkan beban usaha sebesar 14,6% menjadi Rp31,86 miliar. Pertumbuhan kinerja berhasil dipertahankan, meski pasar modal mengalami turbulensi tahun lalu.
Baca Juga
“Peningkatan kinerja RELI tidak lepas dari upaya perseroan dalam menjaga hubungan baik dengan para nasabah, sehingga tetap loyal bertransaksi melalui perseroan. Upaya ini dilakukan melalui engagement dengan nasabah lewat pembentukan komunitas aktif yang tergabung dalam RELIPrioritas,” tulis Akhabani dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Sepanjang 2025, segmen bisnis equity brokerage RELI membukukan total nilai transaksi sebesar Rp12,01 triliun, meningkat 16,84% dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp10,28 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat ke kisaran Rp40–50 miliar.
Bahkan, pada Januari 2026, rata-rata nilai transaksi harian RELI melonjak ke kisaran Rp70–80 miliar atau meningkat sekitar 60%–75%. “Peningkatan ini mayoritas dikontribusi dari para nasabah RELIPrioritas. Tidak hanya pada transaksi ekuitas, nasabah RELIPrioritas juga menopang transaksi di instrumen lainnya, seperti obligasi dan reksa dana,” ungkapnya.
Baca Juga
Sementara itu, Akhabani mengatakan bahwa sebagai perusahaan sekuritas sekaligus emiten yang telah menjalankan prinsip good corporate governance (GCG), RELI mendukung langkah-langkah yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI) dan self regulatory organization (SRO) lainnya dalam mengedepankan penerapan GCG.
Menurutnya, peningkatan transparansi pasar modal, kualitas emiten yang tercatat di BEI, serta penegakan hukum dan aturan yang tegas akan meningkatkan daya tarik dan daya saing BEI di mata investor domestik maupun internasional.
“Dengan penerapan GCG oleh seluruh stakeholder, kami optimistis ke depan bursa Indonesia akan semakin berkembang menjadi lebih baik,” pungkas Akhabani.

