Saham BBTN Menguat 3,27%, Jadi Bank BUMN dengan Kenaikan YTD Tertinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan penguatan mengesankan pada perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham BBTN naik Rp 40 atau 3,27% ke level Rp 1.265, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,53% ke posisi 8.079.
Berdasarkan data BEI, penguatan saham BBTN tergolong menonjol di antara saham bank-bank BUMN lainnya. Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) naik 5,86% menjadi Rp 2.350, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 1,32% ke Rp 3.850, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,86% menjadi Rp 4.920.
Secara year to date (ytd) 2026, BBTN tercatat sebagai saham bank BUMN dengan kenaikan tertinggi, mencapai 9,05%. Minat investor asing juga terlihat kuat, tercermin dari pembelian bersih (net buy) saham BBTN senilai Rp 154 miliar dalam sebulan terakhir.
Baca Juga
BTN Nilai Kredit Program Perumahan (KPP) dari Pemerintah Jadi Solusi Bagi Sektor Informal
Penguatan saham BBTN sejalan dengan pandangan positif analis terhadap prospek sektor perbankan. Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi dalam riset sektor perbankan menyebutkan bahwa tekanan terhadap saham perbankan justru menciptakan valuasi yang lebih menarik.
KB Valbury memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8–10%, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia sebesar 8–12%. Dana pihak ketiga (DPK) juga diperkirakan terus tumbuh, didukung kondisi likuiditas yang semakin longgar, sementara biaya dana diprediksi melanjutkan tren penurunan.
Berdasarkan asumsi tersebut, KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.530. Target tersebut mempertimbangkan PER BBTN sekitar 4,2 kali tahun 2026 atau terendah di antara bank besar lainnya.
Baca Juga
Lewat Ajang Ini, BTN Perkuat Peran Sebagai Bank Modern Lewat Ekosistem Terintegrasi
Sentimen positif terhadap saham BBTN juga disampaikan oleh tim riset BRI Danareksa Sekuritas. Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano menilai saham BBTN menarik untuk dikoleksi, didukung valuasi yang masih atraktif serta peluang peningkatan margin bunga bersih (NIM) melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) perumahan pada 2026.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa pemerintah telah menetapkan target KUR perumahan nasional sebesar Rp 36 triliun pada 2026. BTN sebagai penyalur berkomitmen menyalurkan Rp 10 triliun atau sekitar 27,8% dari total nasional, dengan struktur skema KUR yang diperkirakan tetap.
Atas dasar tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.300. Target harga ini juga mempertimbangkan kualitas aset yang tetap terjaga, pertumbuhan kredit, serta tren penurunan biaya dana dan biaya kredit.

