IHSG Sesi I Akhirnya Ditutup Melesat 1,57%, Saham Konglo Dipimpin Prajogo dan Aguan Jadi Pendorong
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Selasa (3/2/2026), ditutup melesat sebanyak 124,49 poin (1,57%) menjadi 8.047. Rentang pergerakan 7.712-8.059 dengan nilai transaksi Rp 17,20 triliun.
Penguatan tersebut berbanding terbalik dengan intraday IHSG yang sempat melorot lebih dari 2% pagi ini. Kenaikan indeks tersebut juga sejalan dengan lonpatan indeks sejumlah bursa saham Asia, seprti Nikkei dan Strait Times.
Penguatan pesat tersebut juga didtopang rebound jumbo sejumlah sektor saham, seprti sektor teknologi sebanyak 5,37%, material dasar melesat 4,91%, industry naik 3,27%, property naik 2,72%, transportasi 2,96%, energi naik 2,70%, dan keuangan naik 0,82%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor infrastruktur.
Baca Juga
Impack Pratama (IMPC) Siapkan Buy Back Rp 500 Miliar, Usai Harga Saham Jatuh 44%
Kenaikan pesat juga ditopang penguatan sejumlah saham konglomerasi, seperti konglomerasi Prajogo Pangestu dengan kenaikan saham TPIA, BRPT dan CUAN, grup Bakrie ditopang kenaikan saham BUMI dan BRMS, grup Aguan didukung kenaikan saham PANI dan CBDK, grup Happy Hapsoro didukung kenaikan saham RAJA dan RATU, serta grup Haji Isam didukung penguatan saham JARR dan FAST.
Penguatan pesat tersebut juga didukung kenaikan saham emiten grup yang teraffiliasi dengan Boy Thohir, seperti saham EMAS, MDKA, dan ADMR, serta grup Astra dengan kenaikan UNTR dan ASII. Begitu juga dengan saham grup Medco dengan kenaikan AMMN dan MEDC.
Di tengah penguatan tersebut, saham berikut cetak kenaikan hingga auto reject atas, yaitu saham LMPI menguat 35% menjadi Rp 270, LRNA menguat 34,04% menjadi Rp 252, SOHO naik 25% menjadi Rp 2.800. Meski tak ARA, saham WAPO melesat 24,86% menjadi Rp 216 dan KICI naik 22,22% menjadi Rp 264.
Baca Juga
Michael Saylor Beri Sinyal Borong Bitcoin di Harga US$ 78.000, Akankah Pasar Bangkit?
Kemarin, IHSG ditutup jatuh parah sebanyak 406,88 poin (4,88%) menjadi 7.922. Meski demikian, pemodal asing justru agresif memborong saham yang ditunjukkan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 654,93 miliar di seluruh pasar, terbanyak saham BBCA senilai Rp 427,48 miliar.
Penurunan tersebut sejalan dengan kejatuhan indek saham bursas Asia. Penurunan juga dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham dengan penurunan paling dahysat dicatatkan saham material dasar melemah 10,74%, sektor energi turun 7,66%, sektor consumer primer melemah 7,67%, seketor infrastruktur turun 6,06%, sektor property melemah, 6,27%.
Penurunan indeks juga dipicu atas kejatuhan saham-saham konglomerasi, seperti saham Sinarmas DSSSA, saham AMMN, saham grup Aguan PANI dan CBDK, saham Prajogo Pangestu BREN, BRPT, TPIA, PTRO, dan saham konglomerasi Happy Hapsoro, dan emiten Haji Isam.

