Harga Saham BCA (BBCA) Terkoreksi Sepekan, Manajemen BCA: Aksi Jual Asing Masih Wajar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menilai bahwa penurunan harga BBCA dalam sepekan terakhir dipengaruhi aksi lepas saham oleh investor asing dalam sepakan terkahir. Fluktuasi harga tersebut dinilai masih wajar.
Berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), seluruh saham perbankan mencatatkan penurunan dalam sepekan terakhir, tak terkecuali dengan saham BBCA. Saham BBCA catatkan penurunan sebanyak 6,25% menjadi Rp 7.500 dalam sepekan terakhir. Saham BBCA juga telah dilanda penjualan bersih (net sell) lebih dari Rp 5,1 triliun selama sepekan terakhir.
Baca Juga
Presiden Direktur BCA Gregory Hendra Lembong menilai bahwa fluktuasi harga saham merupakan fenomena wajar di pasar modal, khususnya pada emiten perbankan dengan porsi kepemilikan asing yang besar.
Menurut dia, mayoritas saham publik (free float) BBCA atau setara dengan 70–80% dipegang investor asing. Kondisi tersebut menjadikan kinerja saham BBCA sensitif terhadap dinamika ekonomi global dan persepsi pasar internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Tapi kalau harga saham naik-turun adalah hal biasa. Karena 70-80% dari saham free float itu dipegang investor asing. Ini memang tergantung situasi di global dan situasi investor juga,” ujar Hendra dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Full Year 2025 BCA yang digelar via Zoom, Selasa (27/1/2026).
Di tengah volatilitas harga saham tersebut, ia menegaskan, fokus manajemen tetap pada penguatan fundamental internal. BCA memprioritaskan kinerja operasional dan keuangan agar tetap optimal dan terjaga.
Baca Juga
“Nah, yang di dalam kontrol kita, manajemen BCA adalah memastikan tentu performance kita bisa sebaik-baiknya, terjaga sebaik-baiknya,” jelasnya.
Terkait pertanyaan apakah koreksi harga saham menjadi momentum akumulasi bagi investor, Hendra menilai, keputusan investasi sangat bergantung pada perspektif masing-masing terhadap prospek ekonomi nasional ke depan.
“Pertanyaannya ini agak sulit untuk dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak. Karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya,” imbuhnya.

