Perbedaan Sikap AS dan Eropa Warnai Isu Kripto di World Economic Forum 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah ketegangan geopolitik global dan polemik seputar Greenland yang mendominasi World Economic Forum (WEF) Davos 2026, isu kripto kembali mencuat sebagai tema penting meski bukan agenda utama.
Namun, melansir Cointelegraph, Senin (26/1/2026) pembahasan kripto justru memperlihatkan perbedaan pandangan tajam antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait masa depan sistem keuangan global.
Presiden AS Donald Trump memanfaatkan sebagian kecil pidato khususnya di Davos untuk menegaskan kembali ambisinya menjadikan AS sebagai ‘ibu kota kripto dunia.’
Trump menyatakan harapannya agar Rancangan Undang-Undang (RUU) struktur pasar kripto, yang dikenal sebagai CLARITY Act, dapat segera disahkan.
“Ini memang populer secara politik, tetapi yang lebih penting adalah memastikan China tidak menguasainya. Jika mereka sudah memegang kendali, kita tidak akan bisa merebutnya kembali,” ujar Trump.
Baca Juga
Mendominasi, Indodax Sumbang Pajak Kripto Rp 376,12 miliar hingga November 2025
Trump menempatkan regulasi kripto sebagai instrumen daya saing global. Meski CLARITY Act masih tertahan di Kongres setelah sejumlah perusahaan kripto besar menarik dukungan, Trump berbicara seolah pengesahan hanya soal waktu.
Pidato Trump sendiri diperkenalkan oleh CEO BlackRock Larry Fink, dan kripto hanya menjadi bagian kecil dari pemaparannya yang berlangsung lebih dari satu jam.
Dalam sebuah panel diskusi, Gubernur Banque de France François Villeroy de Galhau menyampaikan kritik keras terhadap uang privat dan stablecoin berbunga, meski mengakui tokenisasi sebagai inovasi penting dalam sistem keuangan.
Villeroy de Galhau menyebut tokenisasi dan stablecoin sebagai ‘nama permainan’ pada 2026 karena berpotensi memodernisasi infrastruktur keuangan, terutama di pasar wholesale. Ia juga menyoroti posisi Eropa sebagai pelopor pengembangan central bank digital currency (CBDC).
Baca Juga
Namun, perdebatan memanas ketika CEO Coinbase Brian Armstrong menyebut Bitcoin sebagai penerus modern standar emas dan alat pembatas defisit fiskal pemerintah.
Villeroy de Galhau menanggapi dengan menegaskan bahwa uang tidak dapat dipisahkan dari kedaulatan negara, dan menyerahkan kendali moneter ke sistem privat berarti melepas fungsi fundamental demokrasi.
Ia juga menolak konsep stablecoin berbunga karena dinilai berisiko mengganggu stabilitas sistem keuangan. Sebaliknya, para eksekutif kripto AS berpendapat bahwa insentif imbal hasil diperlukan agar stablecoin mampu bersaing, terutama dengan CBDC China.
Isu lain yang mencuri perhatian adalah potensi kembalinya Binance ke pasar AS. Co-CEO Binance Richard Teng menyatakan perusahaan masih bersikap ‘wait and see,’ sementara CEO Ripple Brad Garlinghouse meyakini Binance pada akhirnya akan kembali ke pasar AS yang dinilai sangat besar.
Pendiri Binance Changpeng Zhao, yang juga hadir di Davos, menegaskan bahwa industri kripto telah membuktikan dirinya tidak akan menghilang. Zhao bahkan sejalan dengan pandangan bank sentral Prancis soal tokenisasi, menyebutnya sebagai fase berikutnya industri kripto bersama kecerdasan buatan dan sistem pembayaran.
Sementara itu, CEO Circle Jeremy Allaire menepis kekhawatiran bahwa stablecoin berbunga dapat memicu penarikan dana besar-besaran dari perbankan. Ia menyebut kekhawatiran tersebut berlebihan dan membandingkannya dengan dana pasar uang pemerintah yang kini bernilai sekitar US$11 triliun tanpa meruntuhkan sistem perbankan.
Meski reputasi stablecoin sempat tercoreng akibat runtuhnya TerraUSD pada 2022, Davos 2026 menunjukkan perubahan signifikan. Stablecoin dan tokenisasi kini menjadi bagian dari diskursus utama kebijakan global, bahkan di kalangan bank sentral yang kritis terhadap kripto.

