Ketua Kadin Anindya: Cina Potensi Mitra Kunci Investasi Indonesia di Energi Terbarukan dan Digitalisasi
JAKARTA, Investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan Cina memiliki potensi untuk menjadi mitra kunci Indonesia yang sedang meningkatkan investasi di sektor energi terbarukan dan digitalisasi, sambil merangkul kolaborasi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Kunjungan kenegaraan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ke Cina baru-baru ini menegaskan potensi kolaborasi strategis itu.
Indonesia yang memiliki produk domestik bruto (PDB) terbesar di Asia Tenggara tidak hanya kaya sumber daya alam, namun juga memiliki kekuatan tenaga kerja dan pasar konsumen yang berkembang. Reporter CGTN, Huang Fei, berbincang dengan Ketua Umum Kadin Indonesia yang akrab disapa Anin ini, dalam acara APEC CEO Summit, untuk membahas peluang dan tantangan yang ada di depan.
"Yang menarik, lima hari yang lalu, kunjungan kenegaraan pertama Presiden RI Prabowo Subianto adalah ke Beijing, Cina. Jadi, dengan kedua pemimpin berbicara tentang bagaimana dunia harus bekerja sama di tengah cuaca yang tidak menentu ini, itu luar biasa. Asia Pasifik adalah kawasan yang dihuni lebih dari separuh penduduk dunia. Kita tidak bisa hanya berbicara tentang beberapa kelompok orang yang berkembang dengan baik, tetapi kita perlu kesetaraan," kata Anin.
Baca Juga
China Plus One
Cina dan Indonesia dapat bekerja sama dengan sangat baik, tidak hanya untuk kedua negara, tetapi juga untuk dunia. Cina bisa berkontribusi antara lain dalam transisi hijau Indonesia yang membutuhkan dana besar dan keahlian.
"Pertama, teknologi untuk energi terbarukan, Cina sangat maju dalam hal ini, baik energi surya, angin, hidro, maupun nuklir. Kedua, dalam hal pengolahan mineral-mineral kritis yang dimiliki Indonesia, nikel salah satu contohnya, dengan teknologi smelter Cina dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai tambah," ujar Anin yang mendampingi Presiden Prabowo pada pertemuan tingkat tinggi dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di sela APEC CEO Summit 2024 di Gran Teatro Nacional, Lima, Peru, Kamis (14/11/2024) waktu setempat. Anin mendampingi Presiden sebagai representasi pelaku industri dan dunia usaha Indonesia.
Baca Juga
Di APEC CEO Summit 2024, Ketum Kadin Anindya Bakrie Ungkap Strategi Capai Pertumbuhan 8%
Ketiga, lanjut Anin, Cina juga berpotensi besar untuk menjadi mitra kunci kerja sama dalam digitalisasi. Kerja sama ini membawa banyak manfaat untuk semua pihak.
"Jadi setidaknya di tiga bidang ini, Cina dan Indonesia dapat dan seharusnya bekerja sama. Semua pihak akan mendapat manfaat," tandas Anin.
Dalam pidato tertulisnya, Presiden Cina Xi Jinping mengatakan bahwa globalisasi ekonomi sedang terjebak dalam tarik-menarik antara kekuatan penghalang dan kekuatan pendorong, tetapi kekuatan pendorong masih unggul. Perang tarif impor pada barang-barang konsumsi adalah contoh dari tarik-menarik ini.
"Secara umum, hal itu tidak pernah baik, bukan? Meski demikian, Indonesia akan mampu menavigasi tantangan ini. Pertama, strategi Cina plus satu, sehingga mereka dapat memanfaatkan apa yang Indonesia tawarkan, mulai dari mineral-mineral kritis yang ada di bawah tanah hingga potensi energi terbarukan yang ada di atas tanah, sambil tetap melindungi keanekaragaman hayati," ucap Anin menanggapi perkembangan tersebut.
Kedua, perdagangan Indonesia dengan Cina, misalnya, masih memiliki 'jalan panjang yang harus ditempuh'. Dengan kata lain, kerja sama ekonomi ini masih berpotensi besar untuk ditingkatkan.
"Ketiga, saya rasa dalam hal teknologi bersih, Cina telah banyak berinvestasi di bidang ini. Sekarang, dalam penerapan teknologi tersebut, Indonesia bisa menjadi tempat uji coba yang menarik dan pasar besar dengan 285 juta penduduk. Namun, dalam jangka panjang, saya pikir kita perlu berkumpul sebagai kelompok, seperti dalam APEC atau G20, atau kelompok multilateral lainnya untuk berdiskusi," paparnya.

